SITUSENI

Rabu, 27 April 2022

THR Tahun Ini 2X Gaji

 SKEMA

[Sketsa Ramadhan]


*RAPAT KABINET*

Akmal Nasery Basral

_Sosiolog, Penulis_


SALAT subuh baru selesai. Jamaah masjid sedang berzikir. Sebagian berpencar, membaca Al Qur’an dengan suara perlahan. Siur angin dari pendingin udara yang bekerja sempurna begitu membuai mengusap kelopak mata,  membuat saya terkantuk-kantuk.


Tepukan lembut terasa di bahu kanan saya. “Kita siap-siap berangkat ya, Pak? Kita harus sampai istana sebelum rapat kabinet dimulai,” ujar Pak Luhur, seorang jamaah yang juga tetangga rumah.  Saya tersentak, “Hampir saya lupa kalau Pak Luhur tidak ingatkan. Terima kasih.”


Nama lengkapnya Luhur Budi Pekerti. Umur pertengahan 40-an. Orangnya baik sekali, sesuai namanya. Badannya tinggi jangkung, tegap, bugar, wajah klimis seperti aktor sinetron yang necis. Dia pernah bekerja sebagai wartawan sebuah koran terkemuka sejak lulus kuliah sampai usia awal 30-an. Kalau dia menulis berita, singkatan namanya LBP. Dunia jurnalistik sudah dia tinggalkan beberapa tahun lalu, sekarang berkhidmat di istana.  


Dia tak pernah ikut acara lingkungan seperti kerja bakti atau rapat warga. Tak ada yang mempermasalahkan karena Pak Luhur banyak memberi sumbangan dan bantuan tanpa banyak cingcong. Warga paham kesibukannya untuk kemaslahatan negara, bukan untuk hura-hura. Satu hal lagi yang membuat warga salut adalah Pak Luhur selalu hadir sebagai jamaah subuh di segala jenis cuaca. Kalau dia tak terlihat subuhan di masjid, itu artinya dia sedang ada tugas ke luar kota atau ke luar negeri.


Tiga bulan lalu dalam sebuah obrolan sepulang dari masjid menuju rumah, saya bertanya kepadanya, “Pak Luhur, kapan-kapan saya diajak melihat rapat kabinet dong? Bisa nggak? Itu salah satu _wishlist_ saya. Ingin melihat langsung dialog presiden dengan para menteri.”


Dia tatap saya seakan melihat makhluk luar angkasa yang baru mendarat di gurun Nevada dan tidak paham sistem tata negara. “Saya tidak janji ya, Pak,” jawabnya sopan. “Kedudukan saya di istana tidak setinggi yang bapak bayangkan.”


Saya paham. Berpekan-pekan kemudian tak pernah ada jawaban sampai semalam. Sehabis taraweh beliau menelpon saya mengabarkan keinginan saya melihat rapat kabinet bisa terlaksana esok. _Hari ini_.


Sekarang saya berada di istana, di sebuah ruang yang berisi 20-an orang. Bukan ruangan tempat rapat kabinet berlangsung tentu saja, tetapi ruang lain dengan televisi sebesar dinding—mirip _home theater_ atau bioskop mini—yang menayangkan gambar dari ruang sidang kabinet. _Real-time_. Hadirin lain di sekitar saya adalah para wartawan media internasional. Ada yang bertampang Oriental, ada yang berwajah Timur Tengah, ada pula yang berpenampilan Eropa. Dari _ID Card_ yang tergantung di leher mereka, semuanya dari media penting. Mungkin hanya saya satu-satunya yang bukan wartawan di ruangan ini. Apakah ini _press room?_. Saya tak tahu dan tak sempat bertanya kepada Pak Luhur. Sebab dia langsung menghilang setelah mengantarkan saya ke tempat ini. “Saya masih ada urusan lain yang harus dikerjakan. Bapak ikuti saja rapat kabinet sebentar lagi,” katanya. Fakta ini membuat saya semakin berterima kasih kepada Pak Luhur Budi Pekerti, tetangga saya yang sungguh baik hati.


Semua hadirin serius menatap layar yang menampilkan gambar lebih tajam dari resolusi 4K Ultra HD.  Begitu jernih dan nyata seakan-akan kami sedang berada _di dalam_ ruang sidang kabinet. Para menteri, Jaksa Agung, Panglima, dan pejabat penting lainnya sudah duduk rapi di kursi masing-masing ketika Presiden dan Wakil Presiden masuk ruangan. Andrenalin saya melimpah ruah, semangat berkobar. Meski saya berada di ruangan berbeda, paling tidak berada di bawah satu atap istana yang sama.


“Rapat kabinet tak boleh lebih dari satu jam,” ujar presiden mengawali pembicaraan. “Banyak banyak sekali urusan di masyarakat yang harus kita pecahkan sebelum lebaran. Siapa yang mau mulai?”


“Saya, Pak Presiden,” jawab Menteri Dalam Negeri cekatan. “Saya sudah temukan solusi untuk aktivitas baru warga yang suka mengaji bersama di trotoar jalan raya dan sudah dilakukan di beberapa provinsi belakangan ini.”


“Seperti apa solusinya Pak Mendagri?”


“Mengaji bersama tetap diperbolehkan asal tidak mengganggu orang yang lewat, tidak boleh pakai _sound system_ dan durasi maksimal 15 menit. Setelah itu bubar dengan tertib dan menjaga kebersihan. Ini seperti konsep _flash mob_  hanya beda konten. Bisa jadi daya tarik wisatawan asing juga. Dalam sepekan dialokasikan satu hari untuk Ngaji on the Street, hari lainnya untuk umat Kristen, Katolik, Hindu, Buddhist, Konghucu, dengan ibadah masing-masing. Ketentuan serupa. Ini penghargaan kita kepada enam agama resmi yang diakui negara selain menunjukkan falsafah bhinneka tunggal ika secara nyata. Kalau acara kesenian boleh tampil di ruang publik, mengapa untuk acara agama yang mengingatkan kepada Tuhan harus dilarang? Apalagi sila pertama Pancasila adalah ketuhanan yang maha esa sudah terang benderang.”


“Ide luar biasa. Saya setuju. Segera dijalankan, Pak Mendagri,” sahut Presiden mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan sebelum tatapannya berhenti di Menteri Agama. “Soal _sound system_ , bagaimana perkembangan terbaru tentang ini Pak Menag?”


“Alhamdulillah, Pak Presiden. Kemenag sudah menjalankan kerja sama dengan asosiasi pemilik hotel dan restoran, kafe, dan industri _sound system_ yang akan mendonasikan _sound system_ milik mereka untuk masjid dan musala. Tidak harus baru, yang seken pun tak apa asal masih baik. Jadi DKM tak perlu gunakan infak jamaah untuk beli _sound sytem_ Mereka bisa gunakan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak. Selain itu, kami juga akan memasok karpet dan sajadah baru untuk musala di seluruh negeri. Sumber dana dari CSR korporat besar.”


“Bagus sekali, Pak Menag. Jangan lupa pikirkan cara agar para imam mushala yang belum pernah haji dan umrah agar berangkat secepatnya tahun ini. Prioritaskan mereka karena mereka adalah para pelayan Tuhan yang bekerja ikhlas sehingga kita sebagai abdi negara pun harus sungguh-sungguh melayani mereka.”


“Siap, Pak Presiden. Setelah lebaran akan berangkat rombongan umrah para imam dan khatib dari musala pulau-pulau terluar dan daerah-daerah terisolir. Mereka kita prioritaskan karena selama ini merupakan ujung tombak yang membuat masyarakat di tempat-tempat sulit itu tetap setia kepada Ibu Pertiwi.”


“Saya setuju,”  Presiden kembali edarkan pandangan.  “Bapak Menkopolhukam ada yang ingin disampaikan?”


“Siap, Bapak Presiden. Kami berkoordinasi dengan Ibu Menlu, Jaksa Agung dan Pak Menkumham untuk menangkap dan mengekstradisi buron kakap pengemplang pajak yang masih bersembunyi di luar negeri. Sebelum lebaran ini ada tiga konglomerat hitam yang bakal kita cokok dan bawa kembali ke Indonesia. Kita sita harta mereka untuk negara dan miskinkan mereka agar jadi pelajaran bagi yang lain,” ungkap Menkopolhukam.


“Ini kabar gembira yang sudah lama ditunggu rakyat. Hebat. Jangan lupa para koruptor dari parpol juga ditangkapi. Jangan sampai kita ditertawakan dunia internasional karena sigap menangkap tersangka teroris tetapi terhadap koruptor seperti tak bergigi,” tukas Presiden dengan tatapan kembali bergerak ke menteri lainnya. “Bapak Menpora bagaimana?”


“Prioritas kami saat ini memanfaatkan sirkuit internasional untuk arena balap geng motor. Kita laksanakan kompetisi khusus antargeng motor sehingga mereka tidak mengganggu warga dan bisa salurkan hobi secara positif. Balapan dilakukan dini hari sesuai habit mereka. Semoga Bapak Presiden berkenan membuat Piala Presiden untuk geng motor,” papar Menpora. “Mereka pasti bangga sekali.”


“Keren idenya Pak Menpora. Mantap. Silakan buat Piala Presiden untuk geng motor. Mereka warga negara juga, harus bisa mencicipi mulusnya lintasan sirkuit kita. Jangan hanya untuk pembalap luar bermodal besar. Lagi pula, kelakuan geng motor yang sering resahkan warga belum tentu karena mereka kriminal. Bisa saja karena mereka kurang piknik mengenal daerah lain. Ini ironis karena negeri kita begitu banyak pulau, budaya dan etnis. Adanya kompetisi balap khusus geng motor membuat mereka bisa _traveling_ ke pulau lain dan berinteraksi dengan budaya berbeda. Mata mereka akan lebih terbuka, wawasan kebangsaan mereka akan semakin luas. Kita pengelola negara harus memfasilitasi,” ujar Presiden sebelum menatap menteri lain lagi. “Bapak Menteri Perdagangan? Bagaimana kesiapan jelang lebaran?”


“Pasokan sembako aman, tak ada lagi barang langka, Pak Presiden. Kami sudah bongkar komplotan mafia penimbun sembako. Kami akan bongkar sampai ke akar-akarnya sebelum lebaran,” sahut Mendag. “Kami koordinasi dengan Kemhumkam agar para pelaku dikenakan hukuman seberat-beratnya karena melakukan _crime against humanity_ di tengah era pandemi yang membuat rakyat sudah begitu menderita.”


“Saya dukung. Beri hukuman seberat-beratnya untuk para pengkhianat rakyat,” sahut Presiden. “Ibu Menlu? Ada program khusus jelang lebaran?”


“Secara khusus tidak ada. Cuma sehubungan G20, kami prihatin sekali melihat jubir milenial yang kita pilih sedang di- _bully_ media-media asing. Padahal dia anak baik, cerdas, tak punya kasus negatif. Dia lulusan kampus terkenal internasional tapi sudah divonis tak bisa kerja karena bukan dari jalur diplomat profesional."


“Ya, saya baca juga beritanya. Kasihan sekali. Menurut Ibu Menlu apa penyebab utamanya?”


“Kita kurang total melibatkan jubir muda ini, Pak Presiden. Seharusnya ketika berlangsung G 20 tahun lalu di Italia kita sudah dia ke sana untuk observasi tugas sebagai jubir dan perkenalkan dirinya kepada para delegasi peserta. Kalau itu kita lakukan, saya kira dia akan disambut gembira oleh para diplomat kawakan. Bagaimanapun juga regenerasi itu sebuah keniscayaan. Jubir muda kita ini sangat potensial. _She’s the whole package_.”


“Baik. Tapi karena kita tak bisa kembali ke tahun lalu, silakan Ibu Menlu lakukan apa yang harus dilakukan,” ujar Presiden kembali memindahkan pandangan.  “Ibu Menteri Sosial?”


“Terima kasih Bapak Presiden. Kemensos mengantisipasi lebaran ini dengan program ramah lingkungan dan peduli duafa. Jika pada tahun-tahun sebelumnya setiap jelang lebaran jalan-jalan mendadak dipenuhi pengemis dan gelandangan, kali ini tidak lagi.  Kenapa? Karena mereka sudah mendapat paket khusus kebutuhan Ramadhan dan lebaran. Kami berhasil menghentikan kebocoran Dana Bansos, Pak Presiden! Sehingga bukan saja pengemis dan gelandangan yang bisa dibantu, juga para pengamen jalanan. Ternyata ketika korupsi berhasil ditekan, kesejahteraan atas warga miskin dan duafa yang jadi tanggung jawab negara sesuai amanat konstitusi bisa dijalankan.”


“Senang sekali mendengar kabar ini, Ibu Mensos. Begitulah seharusnya tugas negara terhadap rakyat yang miskin papa,” ujar Presiden. “Ibu Menteri Keuangan?”


“Siap, Bapak Presiden. Kami sudah berkoordinasi dengan Menaker bahwa urusan THR sudah tak ada masalah. Bahkan untuk tahun ini besarnya dua bulan gaji. Itu yang pertama. Yang kedua--seperti kita sudah sepakati bersama--untuk THR presiden, wakil presiden, para menteri dan pejabat negara setingkat menteri, wakil menteri dan para dirjen, jajaran gubernur dan wakil gubernur serta duta besar dan wakil duta besar atau yang setingkat, disetorkan ke Kas Negarauntuk digunakan sebagai tambahan tunjangan bagi para pensiunan. Mereka adalah sesepuh dan para senior yang harus kita hormati. Tanpa kerja keras mereka kita tak akan pernah menikmati kondisi saat ini. Namun mengingat jumlah pensiunan yang banyak, kontribusi kita para pejabat negara mungkin tidak akan banyak ketika sampai di tangan mereka. Tidak mengapa. Yang penting keberpihakan kita yang utama kepada para _senior citizens_ harus dibuktikan.”


Wajah Presiden bersinar cerah. “Ini bentuk negeri _gemah ripah loh jinawi_ yang kita impikan selama ini, Ibu Menkeu. Meski masih jauh dari sempurna, tapi harus kita mulai sungguh-sungguh untuk mewujudkannya dalam kehidupan nyata ...”


Mendadak tubuh saya terguncang-guncang. Saya pikir ada gempa bumi. Namun ketika saya tolehkan kepala ke samping, satu persatu tubuh wartawan asing menghilang. Pandangan saya alihkan ke depan. Layar raksasa juga tak ada. Astaga!


“Pak, bangun, Pak. Kajian subuh sudah selesa,” ujar Pak Luhur yang tangannya masih di bahu saya. “Pulas sekali tidurnya.”


“Astaghfirullah!” Saya mengucek mata dan memajukan tubuh dari tiang masjid yang menjadi sandaran tubuh. Saya baru ingat usai salat subuh jelang kajian tadi saya pindah tempat duduk untuk mencari sandaran badan. Pendingin udara yang bekerja optimal di dalam masjid dan karpet empuk lunak yang menjadi alas duduk rupanya bersekutu membawa saya ke alam mimpi.


Saya lihat tetangga saya sedang menatap ponselnya. Air mukanya berubah antara terperanjat dan kecewa. Saya bertanya hati-hati, “Ada apa, Pak Luhur?”


Dia sodorkan gawai ke depan saya, “Mati aku!” desisnya panik. Sebuah judul berita dengan huruf kapital dan efek tebal terpampang di layar digital: *PRESIDEN IMBAU HALAL BIHALAL LEBARAN TANPA  MAKAN MINUM*


“Hmm, kenapa Pak Luhur bilang mati aku?” tanya saya tak mengerti.


“Saya sudah bayar _ballroom_ sebuah hotel untuk 2.500 orang dan _catering_ hotel untuk halal bi halal dua minggu setelah lebaran. Suvenir eksklusif untuk hadirin pun sudah saya pesan dan bayar.  Undangan untuk para tokoh lintas profesi dari daerah kelahiran saya juga diedarkan dan mereka sudah konfirmasi bakal hadir,” katanya dengan wajah memucat. “Juga seorang ustaz terkenal yang sering tampil di teve sudah saya _booking_ dan bayar lunas honornya yang mahal. Seratus anak yatim juga sudah disiapkan untuk menerima santunan paket istimewa.”


“Wah, bakal jadi halal bihalal yang meriah. Semoga berkah,” ujar saya terkesima.


Dia berbisik di telinga saya, “Saya mau _nyalon_ buat 2024, Pak.”


20.04.22

(18 Ramadhan 1443 H)

*@akmalbasral*

Penulis 24 buku. Penerima penghargaan _National Writer’s Award 2021_ dari Perkumpulan Penulis Nasional Satupena.

Selasa, 26 April 2022

Senandika Necis

 Senandika Necis

Antologi puisi karya Guru dan Siswa SMAN 1 Ciasem, Kab. Subang


Cetakan Pertama, April 2022


Penulis

Komunitas Penulis Necis, Subang


Editor

Kalangwan


Tata letak Isi

SKB GRAPHIC


Desain Sampul

Daf


Penerbit SituSeni

Rabu, 25 Agustus 2021

Seperti Apa Konsep Musikalisasi Puisi yang Tepat?

Konsep dan contoh-contoh musikalisasi puisi

Ingat ini. 

1. Musikalisasi puisi, bukan membaca puisi diringi musik, misalnya petikan gitar atau piano, atau lantunan lagu.

2. Musikalisasi puisi juga bukanlah menciptakan lagu dengan liriknya mengambil dari puisi. Musikalisasi puisi lebih luas dari keduanya, atau bisa jadi gabungan dari keduanya.


Ada yang bertanya ke saya seperti ini: Mau tanya konsep musikalisasi puisi, 

Pernah lihat di acara Parasamya tahun lalu, ada share musikalisasi puisi di grup

Saya jawab:

Banyak pandangan mengenai musikalisasi puisi

1. Sebenarnya dalam puisi sudah mengandung unsur musik, berupa rima (nada), ritma (irama), dan metrum. Maka musikalisasi, bisa saja baca puisi biasa, tapi dengan menggunakan konsep bermusik (lagu accapela).

2. Sebuah musik berupa lagu, yang diangkat dari puisi, baik liriknya, imajinasi dan suasana.

3. Baca puisi didiringi musik yang sesuai dengan nada dalam puisi

 Kumaha abdi da Persib ge nu abdi (konsep paling tidak berkonsep)

Kujawab: Artinya kita bisa membuat konsep dengan ide kreatif?

Betul, tapi No 1 dan 2 yg paling mendekati. Ini contohnya.

Banyak yang berpikir, musikalisasi itu baca puisi diiringi musik, benarkah?

Jawabannya bisa benar tapi bisa tidak, tergantung pada ketepatan antara ISI puisi, dengan keselarasan suasana dalam puisi.

Jika puisi ke mana, musik ke mana, maka itu tak nyambung, maka itu bisa dikatakan sebagai musikalisasi puisi yang gagal.

1. Di Mesjid, puisi Chairil Anwar, oleh Adew Habtsa

https://www.youtube.com/watch?v=RrkV78dNEaM

2. Pembacaan puisi biasa, tidak dinyanyikan, tapi unsur musikal dalam puisi selaras dengan ilustrasi musiknya, bisa mendekati. Ini bisa dikatakan pembacaan puisi yang mendekati konsep musikalisasi puisi:

https://www.youtube.com/watch?v=-fqE4lWJiL0

3. Penyair yang Terluka, puisi Hary Udo (Dosen Seni Musik UPI Bandung), dinyanyikan Tjepi Budiman

https://www.youtube.com/watch?v=Rk-WlgZHqjI

4. Kerinduan Sejati, puisi Riantiarno (Teater Koma), dinyanyikan oleh Bilqistival Asla, Naifah, Atik

https://www.youtube.com/watch?v=UwiPytMvCXc

Puisi, Imajinasi, dan Daya Cipta

Pengantar Apresiasi

Oleh Doddi Ahmad Fauji

Saya menerima naskah dalam buku ini, yang merupakan kumpulan puisi jenis akrostik karya siswa, guru, staf dan  Kepala SMPN Satap Cibinong, Purwakarta. Naskah ini untuk dibaca, dan sejatinya dikoreksi, di-layout (tata letak isi), selanjutnya diterbitkan. Pekerjaan ini, sejak 2016, terasa sudah menjadi kerja mekanis bagi saya. Apa-apa yang telah menjadi mekanis, banyak orang yang bisa mengerjakannya, sepanjang dia bisa tulis-baca, dapat memahami fungsi kata dan kalimat, punya kepekaan estetika visul, apalagi jika rajin studi komparasi atau membandingkan hasil kerjanya, terhadap hasil kerja orang lain yang sudah mahir. Tidak butuh pendidikan tinggi, yang penting dia mau belajar dan bersungguh-sungguh, saya yakin dia akan bisa menyelesaikan pekerjaan yang disebut mekanis di atas.

Sejatinya saya harus mengedit naskah, dan bukan hanya membaca atau sekedar mengoreksi. Buku yang terbit, selaiknya memiliki tingkat keterbacaan bagus, hingga isinya dapat dipahami oleh segmen pembacanya. Namun sejujurnya, tak semua naskah dapat diedit seperti itu, karena keterbatasan waktu, anggaran, dan tujuan tulisan diterbitkan menjadi buku. Untuk apa sebenarnya karya tulis diterbitkan menjadi buku?

Ada banyak alasan karya tulis diterbitkan menjadi buku ber-ISBN untuk saat ini, dari mulai yang filosofis, pragmatis, hingga tujuan perniagaan. Di tengah makin mudahnya informasi didapat, sementara penjualan buku terasa lesu, penerbitan buku justru makin bergemuruh. 

Bukan penerbitan bukunya yang paling bernilai, tapi pijar api penciptaan dalam dada siswa, yang dituangkan menjadi aksara, semoga mewujud jadi imajinasi, dan kelak dituangkan ke dalam penciptaan benda-benda. Saya selalu meyakini, awal penciptaan dimulai dari kata, kemudian menjelma imajinasi, dan mewujud jadi benda-benda. Allah berfirman, bila Ia menghendaki sesuatu, Ia akan berkata “Kun”, lalu “Fayakun” (Jadi, maka jadilah) : (QS: Yasin ayat 82).

Terkadang puisi tampak sederhana saat dibaca, mudah untuk ditulis, tapi ada puisi yang begitu rumit untuk dipahami. Namun baik terbaca mudah atau rumit, menulis dan menilai puisi membutuhkan kesungguhan, dan kesungguhan itulah awal dari semua keberhasilan, sebagaimana tertuang dalam pepatah orang Arab: manjada wajada (anu keyeng tangtu pareng, atau siapa yang bersungguh-sungguh ia akan beroleh). 

Selain menciptakan mesin, komputer atau laptop, telepon dan kamera canggih, ternyata kata-katalah yang mesti diciptakan terlebih dahulu oleh bangsa ini. Selain harus mengimpor peralatan teknologi tepat guna, ternyata kita juga menjadi bangsa yang rajin mengimpor kata dan istilah dari luar. Jika kata saja harus kita impor, apalagi piranti teknologi canggih. Mati kita simak istilah bahasa (lingustik) yang begitu banyak diimpor dari luar: fonem, morfem, sintaksis, paragraf, pragmatika, semiotika, semantika, sufiks, infiks, konfiks, simulfiks, sinonim, homonim, euforia, dan lain-lain. Bahkan istilah untuk ilmu bahasa, kita harus ngimpor.

Anak-anak kita yang menulis puisi akrostik dalam buku ini, yang membaca tulisan saya ini, semoga terinspirasi untuk suatu hari nanti, mereka mulai merintis penciptaan kata sendiri, yang tepat dan sesuai dengan alam, udara, air, tanah, makanan bangsa Nusa-Antara. Setelah mencipta kata, lalu mengembangkan imajinasi, merumuskan falsafah, moga bisa menciptakan piranti teknologi untuk kelangsungan hidup yang ‘rahmatan lil alamin’.

Orang China dan Jepang, tidak mengadopsi begitu saja kata asing. Mereka menciptakan kata baru, atau mencari padanan yang selaras. Misalnya komputer,  di Tiongkok bukan terjemahan lafal asli, tapi istilah ciptaan dalam bahasa Tionghoa: 电脑 (dian nao, dibaca tien nao),  yang arti harfiahnya otak listrik. 

Bangsa kita akan segera menjadi bangsa modern, dan sejahtera, tapi nanti, setelah mampu menata bahasa yang dimulai dari penciptaan kata, dari penulisan puisi yang serius.

Bandung, 2021

Pemred SituSeni

Rabu, 04 Agustus 2021

BERMULA DARI KATA - Pengantar untuk buku Selasih


Oleh Doddi Ahmad Fauji

Bermula dari kata KUN, kemudian FAYAKUN... Jadi, maka jadilah. 

Demikianlah, bila Allah Swt menghendaki sesuatu, Ia akan mengucapkan larik ‘kun fayakun’ atau jadi maka jadilah. Larik tersebut setidaknya terdapat dalam Quran surat Yasin ayat 82: Innama Amruhu Idza Arada Syaian An Yaqula Lahu Kun Fayakun. Artinya: Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, Jadilah, Maka jadilah ia. Qs. Yasin: 82.

Larik di atas menerangkan kepada para pembaca, bahwa penciptaan langit dan bumi, ternyata dimulai dengan kata Jadi!

Berangkat dari argumentasi tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa penciptaan dalam banyak hal, dimulai dari KATA. Orang Arab sangat mempercayai hal ini, sehingga keluar ungkapan dari Arab yang berbunyi: al-ashlu lugotan, maa buniya ‘alaihi ghoirihi (asal usul itu dari kata, tak ada yang menyamainya).

Bangsa Indonesia saat ini, dalam pergaulan peradaban internasional, harus mengakui, adalah bangsa yang kurang kreatif dalam penciptaan peralatan teknologi. Kita tidak bisa menciptakan tiga perangkat teknologi yang amat penting untuk kemajuan peradaban lanjutan, yaitu kita tak bisa menciptakan telepon, mesin, dan komputer. Jalanan kita macet, tapi kendaraan yang memenuhinya adalah hasil belanja dari bangsa asing, dan pembelajaran daring makin semarak, tetapi peralatan yang digunakan adalah hasil penciptaan bangsa lain. 

Bahkan kita tidak bisa menciptakan baru dalam peradaban baru, juga bahkan dalam dunia pendidikan. Kita harus mengimpor kata untuk menamai berbagai mata pelajaran dari sejak TK hingga S3. Mari kita periksa istilah mapel untuk ilmu sosial maupun ilmu sain: Matematika, fisika, kimia, biologi, geografi, sosiologi, antropologi, dll, adalah kaya yang kita impor. Kemandulan dalam memproduksi kata, berdampak lanjutan pada mandulnya menciptakan piranti lainnya, terutama piranti teknologi informasi, transportasi, dan kelayakan hidup.

Para pencipta kata, diterangkan dalam Quran surat ke-26 (para penyair) adalah para penulis puisi, atau yang kemudian disebut penyair. Sungguh, penyair atau pencipta kata, dimuliakan oleh Allah dengan dimaktubkannya sebutan para penyair dalam surat ke-26 itu. Saya bersyukur karena kini makin marak orang-orang menulis puisi, dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan amademik (guru dan dosen) berserta siswa dan mahasiswa. Semoga gairah berpuisi dari berbagai kalangan itu, berimbas pada kelanjutan untuk memahami hakikat atau esensi kata.

Hakikat atau esensi kata sungguh perlu dipahami, dan bahkan dilaksanakan jika yang termaktub dalam kata tersebut berupa perintah, dan atau kita tidak berbuat sesuatu yang dilarang oleh kata.

Kata adalah bagian dari aksara, dan adalah merupakan unsur terkecil yang punya makna, yang membentuk bahasa. Bahasa diwakili atau ditandai oleh aksara, dan dalam bahasa Eropa (Inggris, Jerman, Prancis, Belanda), aksara itu bisa diartikan dengan literasi. Nah, berliterasi itu artinya ber-aksara. Beraksara yang dimaksud ialah, memahami arti leskisal (kamus) sekaligus memahmi makna esensialnya (hakikat kata).

Puisi seperti yang tertuang dalam antologi Selasih Bertunas Emas. Antologi Catatan Buah Hati Dalam Puisi, adalah salah satu jalan untuk memahami syariat (leksikal) dan hakikat kata, dan para pembaca serta penulis puisi, harus benar-benar bergelut untuk dapat memahami syariat dan hakikat kata itu. Bila tidak, maka puisi yang bagus bisa saja tidak terpahami karena si pembaca kurang bersungguh-sungguh dalam mempelajari kata. Bila tidak, bisa saja puisi yang ditulis para penulis puisi, kurang memancarkan marwah kata KUN (Jadi)!

Saya kurang leluasa bila harus membahas puisi-puisi dalam antologi ini, karena dibutuhkan pembacaan yang bersungguh-sungguh, serta menuangkannya dalam catatan panjang. Sekilas dapat saya tangkap, bahwa upaya untuk berkomunikasi kepada yang lain (yang membaca) melalui kata yang simbolik dan indah melalui puisi, sudah terasa dalam beberapa puisi yang ada pada antologi buku ini. Selanjutnya, kepada para penulis maupun pembaca puisi dalam antologi ini, saya ingin menyampaikan pendapat tentang tafsir menurut saya dari kata ‘iqro’ yang merupakan kata pertama dalam wahyu pertama, yang diterima Nabi Muhammad.

Kenapa kata pertama itu berbunyi Iqro, dan apa artinya iqro?

Secara harfiah (huruf) atau makna syariyah (leksikal) dari kata iqro adalah membaca. Semua orang Islam yang pernah belajar ngaji, tahu benar kata iqro itu adalah perintah untuk membaca. Namun ada pertanyaan lanjutan untuk memahami maksud dari kata pertama dalam wahyu yang berbunyi ‘iqro’ itu, yaitu buat apa sebenarnya membaca? \

Jawaban atas pertanyaan ‘buat apa membaca?’ adalah yang menjadi penjelasan dari makna esensial (hakikat) dari kata iqro. 

Kita membaca supaya kita memahami bacaan, supaya kita memahami kehidupan. Maka perintah iqro dalam Quran itu, hakikatnya adalah supaya kita memahami isi Quran (qouliyah). dan memahami kehidupan ini (qouniyah). Jika kita sudah hatam membaca quran, bahkan tertalar, namun kurang paham artinya (terjemahannya), juga kurang paham tafsirnya (hakikatnya), maka bisakah kita disebut sudah membaca? Mungkin bisa disebut sudah membaca, tapi baru pada tahap melapalkan.

Nah, lalu, buat apa kita memahami isi bacaan?

Jawaban atas pertanyaan di atas, akan menjadi penjelasan ma’rifat dari makna iqro. Kita membaca supaya paham, dan setelah paham, kita harus melaksanakan atau menjalankan apa yang sudah kita pahami itu. Maka secara makrifat, arti dari iqro itu, bukan saja bacalah, pahamilah, namun sekaligus laksanakanlah!

Lalu kenapa kita mesti berpuisi?

Kita berpuisi bukan sekedar merangkai kata, namun hendak berkomunikasi dengan yang lain (pembaca), dengan mengkomunikasikan hal yang baik, dengan maksud yang baik, dan dengan bahasa yang baik. Ingatlah bahwa puisi adalah rangkaian kata, dan kata adalah awal mula dari penciptaan. Nah, berliterasi itu, kita belajar memahami makna dan hakikat kata, serta melaksanakannya, jika itu berupa perintah, dan menjauhi larangannya, jika itu memang larangan. Mari kita terus berpuisi dan berliterasi, sebab dari puisi, bisa lahir imajinasi, dan dari imajinasi, lahir filsafat, dan filsafat adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan barat. Bisa saja kelak, kita berpuisi dengan berimajinasi, dan generasi penerus setelah kita, kelak berhasil menciptakan peradaban canggih, dan kita tidak lagi menjadi bangsa pengguna, pengikut, dan pembelanja alias konsumtif. Bermula dari puisi yang sungguh-sungguh, tidak mustahil lahir komputer baru, mesin baru, telepon baru, buatan bangsa Indonesia. Semoga!

Doddi Ahmad Fauji

Penulis buku Menghidupkan Ruh Puisi

Pemimpin Redaksi SituSeni.

Selasa, 13 Juli 2021

UNSUR-UNSUR PALING PENTING HARUS ADA DALAM BACA PUISI & CONTOH SKENARIO BACA PUISI


1.      
Tafsir yang benar terhadap puisi yang dibaca, akan mewujud dalam bentuk:  

a.       Puisi yang dibaca akan terdengar dan terasa komunikatif di telinga pendengar, atau di telinga dewan juri, jika pembacaan puisi itu dilakukan dalam lomba. 

b.       Akan terdengar pula intonansi larik atau baris yang dibacakan, benar menurut hukum bahasa. Larik atau baris, atau kalimat menurut bahasa, terdiri dari tiga jenis, yaitu pernyataan, pertanyaan, atau sanggahan. Pahamilah dengan benar larik per larik dalam puisi, apakah ditulis oleh penyair sebagai larik pernyataan, pertanyaan, atau sanggahan? 

c.       Enjabemen atau penghentian pelapalan kata/larik akan benar, jika tafsir terhadap puisi itu sudah benar. 

Ketiga syarat yang disebut dalam poin a, b, can c adalah berdasarkan pendapat para pakar perpuisian, seperti Prof. Dr. Henman J. Waluyo dari UNS Solo melalui buku berjudul Apresiasi Puisi, lalu menurut Prof. Dr. Suminta A. Sayuti dari UNY Yogyakarta melalui buku Berkenalan dengan Puisi, menurut Doddi Ahmad Fauji dari sanggar Literasi SituSeni melalui buku Menghidupkan Ruh Puisi. 

2.       Jika tafsir terhadap puisi sudah benar, insya Allah akan melahirkan imajinasi yang masuk akal atau logis. Betapa penting memahami logika dalam puisi. Ada 4 logika yang tidak boleh diabaikan, yaitu: logika indrawi, logika bahasa, logika komunikasi, dan logika cerita. 

3.     Bila imajinasi sudah masuk di nalar atau akal, maka selanjutnya seorang pembaca puisi akan lebih bisa menghayati puisi yang dibacakannya. Penghayatan itu terkait dengan suasana dalam puisi. Adapun suasana dalam puisi itu, akan sejalan dengan suasana hati yang dirasakan dan dipresentasikan oleh si penulis puisi.  

4.     Selanjutnya, bagus atau tidak bagus seseorang dalam membanca puisi, secara teknis akan dipengaruhi oleh metrum (tinggi rendahnya suara), artikulasi atau kejelasan tiap kata yang dilapalkan, intonansi atau jenis kalimat pernyataan, pertanyaan, sanggahan, serta power (kekuatan suara).  

Teori di atas, akan saya paparkan dalam praktik pembacaan puisi wajib dan puisi pilihan dalam Lomba Baca Puisi FLS2N tingkat SMA tahun 2021/2022. 

Perhatikan bagaimana unsur-unsur yang saya sebutkan, termasuk enjabemen, atau penghentian melapalkan kata/larik, untuk menarik nafas, agar selaras dan fungsi komunikasi dalam puisi yang dibacakan.!

Sebelum puisi dibacakan, adalah sudah benar bila kita membuat dulu catatan-catatan pada tiap larik, semacam membuat skenario untuk memproduksi film. 

Saya sering menuliskan tanda baca garis miring (/) atau tanda koma (,) buatan, untuk menandakan, di sana pelapalan puisi harus berhenti sejenak. 

Terkadang saya membuat tanda baca garing miring dua (//), untuk menandai bahwa perhentian pembacaan puisi butuh waktu lebih lama, atau sekitar 3 detik. 

Kadang saya memberi tanda tanya (?), bila larik yang dibaca memang bernada pertanyaan, atau saya memberikan tanda seru (!) bila larik yang dibaca memang berupa pernyataan yang amat penting! 

Tentang tanda-tanda baca tambahan itu, bisa disimak pada larik-larik yang dibacakan di bawah ini.

SAJAK BUAT NEGARAKU

KRIAPUR

Di tubuh semesta tercinta/

buku-buku negeriku tersimpan//

setiap gunung-gunung dan batunya/

padang-padang dan hutan/ semua punya suara//


semua terhampar biru di bawah langitnya/

tapi hujan selalu tertahan dalam topan/

hingga binatang-binatang liar à

mengembara dan terjaga di setiap tikungan à

kota-kota.!//

 

Di antara gebalau dan keramaian tak bertuan/

pada hari-hari sebelum catatan akhir/

musim telah merontokkan daun-daun/

semua akan menangis/

semua akan menangis/

laut akan berteriak dengan gemuruhnya/

rumput akan mencambuk dengan desaunya/

siang akan meledak dengan mataharinya!//

 

dan musim-musim dari kuburan à

akan bangkit/

semua akan bersujud/

berhenti untuk keheningan.!

 

Pada yang bernama keheningan/

semua akan berlabuh//

 

bangsaku, bangsa dari segala bangsa/

rakyatku siap dengan tombaknya/

siap dengan kapaknya/

bayi-bayi memiliki pisau di mulut/

tapi aku hanya siap dengan puisi//

 

dengan puisi bulan terguncang/

menetes darah hitam dari luka lama!


Tanda  à menunjukkan pembacaan puisi tidak boleh berhenti di ujung larik tersebut, tapi sebaiknya dilangsungkan ke larik berikutnya.

Tanda / menunjukkan pembacaan puisi harus berhenti di sana.

Tanda // menunjukkan, pembacaan puisi berhenti lebih lama, kira-kira 3 detik.

Minggu, 11 Juli 2021

INDONESIA BISA MENCIPTAKAN MESIN SENDIRI

Oleh Doddi Ahmad Fauji


Ingin saya tegaskan, bahwa saya termasuk orang yang naif, karena selalu terganggu oleh pertanyaan yang saya buat: Kapan negara-bangsa indonesia bisa membuat mesin sendiri, yang seluruh onderdilnya dibuat sendiri, dan tidak perlu mengimpor?

Pertanyaan tersebut perlu dan penting saya ajukan kepada siapapun yang merasa sebagai bangsa Indonesia, dan berpikir lalu berharap, bahwa Indonesia kelak akan menjadi negara-bangsa modern, berperadaban luhur, dapat mensejajari negara adidaya, dan pertama serta utama sekali, dapat mensejahterakan rakyatnya, sesuai dengan cita-cita proklamasi negara Indonesia, yang termaktub dalam ‘Preambule’ UUD 1945, alinea ke-4:

Kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu, dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan Rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial, bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keadilan sosial di negeri ini, jelas ditegaskan: Bagi seluruh rakyat Indonesia, maka nyata sudah, keadilan bukan milik segelintir pihak yang punya kuasa atau upaya (uang). Namun rakyat Indonesia cukup banyak yang tahu, bahwa para penguasa pengupaya (orang kaya) serta penegak keadilan di negeri ini, kerap berlaku tebang pilih, dan rakyat kebanyakan, yang menurut UUD 1945 merupakan pemilik kedaulatan negara, seringkali menjadi anak tiri atau malah musuh bagi para penguasa dan pengupaya serta penegak keadilan, sehingga pula, kita sering merasakan betapa keadilan telah dirampok oleh segelintir elite.

Untuk mencapai tujuan yang tersurat dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 itu, tentu banyak hal mesti dilakukan, dan salah satunya yang sangat penting, adalah segera berpikir untuk menciptakan mesin sendiri, yang merupakan motor penggerak berbagai peralatan serta sarana yang dibutuhkan untuk menunjang kemajuan demi kemajuan selanjutnya. Kita tahu, mesin adalah alat vital bagi penciptaan teknologi otomotif sebagai sarana transportasi. Mesin juga dibutuhkan untuk menggerakkan berbagai sektor perindustrian, dari mulai pabrik pangan, sandang, papan, pertanian dan peternakan, bahkan hingga mainan untuk anak-anak. Bila kita tidak bisa menciptakan mesin sendiri, dengan bahan baku dan onderdil sendiri, maka selamanya UANG negara ini akan selalu terkuras untuk berbelanja dalam rangka mengadakan peralatan dan sarana untuk melangsungkan kehidupan. Sebab uang dari dalam mengalir ke luar, maka DANA untuk mensejahterakan rakyat akan selalu ‘jauh panggang dari api’.

Sumber Daya Alam Indonesia memiliki bahan baku yang sangat melimpah untuk menciptakan mesin sendiri. Anak-bangsa Indonesia juga tidak bodoh-bodoh amat, sebab ada segelintir anak yang memiliki kemampuan dan keahlian sebagai insinyur teknologi mesin dan mekanik.

Saya tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak mau sok tahu, bagaimana caranya bangsa kita, bisa menciptakan mesin sendiri, atau mulai berpikir untuk merintis penciptaan mesin sendiri, meski harus menggelontorkan dana yang cukup besar.

Saya berharap pertanyaan yang diajukan di atas, dapat menginspirasi satu orang saja dari penyimak, terutama tentu dari generasi muda, sehingga mulai berpikir keras dan mencari solusi untuk menciptakan mesin sendiri, sehingga kelak Indonesia bisa membuat peralatan transportasi dari mulai motor, mobil, kereta api, pesawat terbang atau perkapalan. Sungguh sedih, jangankan bisa menciptakan pesawat dan kapal, kereta api atau mobil, bahkan untuk menjalankannya, mengendarakannya, kita masih tergolong gagap, sebab masih banyak kecelakan peralatan transportasi, dari mulai tabrakan di lalulintas, kereta api beradu, pesawat jatuh, hingga kapal selam yang habitatnya di laut, ternyata masih juga tenggelam.

Bangsa Indonesia bisa maju dan makin sejahtera, bila berhasil menciptakan mesin sendiri. Insya Allah.

Senin, 21 Juni 2021

Pantun Kilat Bernama Karmina

 Oleh Doddi Ahmad Fauji

Sebelum paparan mengenai Karmina, saya ingin menyampaikan pengantar umum dunia literasi di Nusantara, dan hal tersebut saya awali dengan mengatakan bahwa seni pertunjukan yang kemudian setelah dituliskan diberi nama sastra, bias dikatakan ada dan dimiliki oleh berbagai bangsa dan negara, dengan corak dan ragam yang berbeda-beda. Setelah manusia berinteraksi antar daerah dan benua, terjadilah akulturasi budaya (percampuran budaya). Saling mempengaruhi, meniru, mengadopsi, bahkan mencuri artefak seni pertunjukan, telah menjadi fitrah manusia sedari dulu. Nah, bangsa Indonesia yang dulu disebut Nusantara itu, juga mengalami akulturasi dengan bangsa lain, terutama dengan bangsa India yang mengajarkan bahasa Sansakerta, dengan menggunakan hurup Palawa dan Dewanagari.

 

Namun Abiyasa yang menulis Babad Mahabarata, dan Walmiki yang menulis epos Ramayana, menurut sumber yang masih disebut ‘konon’ justru orang India yang belajar mendongeng dari bangsa Nusantara, di mana Mahabarata dan Ramayana merupakan pengembangan dari kisah I La Galigo dari Bugis, yang diakui oleh badan dunia untuk kebudayaan (Unesco) sebagai karya bertutur yang konfliknya paling kompleks di dunia, melampaui komplesitas yang terdapat dalam konflik Mahabarata dan Ramayana itu sendiri, juga lebih kompleks dari naskah tragedi Oediphus yang ditulis oleh Sophocles dari Yunani.

 

Dunia mencatat, ternyata bangsa Nusantara gemar berlayar dengan menggunakan kapal bercadik buatan Bugis (Sulawesi Selatan), yang mulai dilakukan sekitar 4 abad sebelum masehi. Pelayaran itu dilakukan ke arah Barat, karena dipengaruhi oleh angin  Munson Barat dan Muson Timur. Bergerak ke arah Barat dengan menyusuri gigir pantai Asia, menembus India, bagkan hingga terdampar di Madagaskar (Afrika). Selama pelayaran itulah, para pelaut Nusantara singgah di beberapa daerah, di antaranya di India, Sewaktu singgah di daerah lain itulah, para pelayar suka mendongeng, mengisahkan asal-usul manusia yang dimulai dari Batara Guru. Dalam I La Galigo, tokoh Batara Guru amat sentral, sebagaimana dalam babad Mahabarata dan epos Ramayana, tokoh Batara Guru juga menjadi sangat sentral. Maka dari sini lahir dugaan yang diucapkan si konon itu, yaitu bahwa seniman tutur India, yakni Abiyasa dan Walmiki telah menyadur I La Galigo.

 

 

Tentang mana yang paling benar, apakah India menyadur dongeng dari Nusantara, atau justru bangsa Nusantara yang menyadur dari India, tentu butuh penelitian lebih lanjut. Namun, adalah nyata bahwa bangsa Nusantara yang kini disebut Indonesia itu, kini tercatat menjadi bangsa yang tertinggal dalam bidang pemahaman dan penguasaan literasi, terutama dalam bidang tulis-menulis (teks).

 

Sastra lama adalah warisan nenek moyang yang sudah sepantasnya mendapat perhatian. Jangan sampai hiruk-pikuk kemajuan zaman menenggelamkan warisan yang sangat berharga ini. Atas dasar inilah buku ini hadir di hadapan pembaca dengan harapan bisa mengangkat kembali khazanah sastra lama yang hampir dilupakan keberadaannya agar kembali dikenal oleh masyarakat. Buku Mengenal Sastra Lama ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama membahas tentang puisi lama yang meliputi pantun, karmina, syair, gurindam, seloka, talibun, mantra, peribahasa atau bidal (mencakup pepatah, perumpamaan, dan tamsil), serta bentuk puisi lama lainnya (rubai, kit’ah, gazal, nazam, dan masnawi). Bagian kedua membahas prosa lama yang meliputi dongeng, fabe|, legenda, mite, sage, cerita jenaka, hikayat, cerita berbingkai, cerita pelipur lara, dan epos. Selain berisi jenis, definisi, ciri, dan sejarah aneka karya sastra lama, Buku Mengenal Sastra Lama ini dilengkapi contoh sehingga layak dibaca oleh siapapun. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, pendidik, peminat sastra, maupun masyarakat umum yang tertarik dengan kajian sastra lama, buku ini adalah salah satu bacaan yang wajib Anda miliki.

Senin, 14 Juni 2021

KABELEJOG ASIH - Bagean 18


Yasana Queen Erni

18

Deuis, pang malik-malikkeun ranginang di luar." Ambu ngagero.

Kuring yakin, Ambu lain satitah-titahna. Tapi mèmang ngahaja, sangkan kuring teu kudu ngajawab patanyaan ti Abah. Kuring balik deui kana méja makan. Ngaregot cai anu meunang niiskeun. Suruput-suruput, cai diuyup. Masih rada panas. Kuring langsung ka luar imah. Sendal capit héjo anu Ambu dipaké.

Kurajin Ambu mah, nyieun ranginang sok ku sorangan. Ukurannana sok béda tinu séjén. Laleutik, lalucu. Teu cara batur, bentukna ngago-déblag ngarangkadak. Hanjakal bakat rajin jeung pinteran masakna, teu nurun ka kuring. Satengah ngalamun, kuring malik-malikkeun ranginang.

"Gening nuju aya di dieu, Néng?"

Kuring nempo ka nu nanya. Singhoréng Bu Nining, tatangga sabeulah.

"Eh, Ibu... Muhun, Bu... Sono ka Ambu."

"Badé ngawengi?"

"Inshaallah, Bu... Ibu badé ka mana? Sin-dang heula atuh..." kuring basa-basi.

"Biasa we, ka warung, Néng... Muhun mangga, Inshaallah," saenggeus paamprok ramo, Bu Nining ngaléos.

"Ngendong Deuis?" sora Ambu ujug-ujug aya gigireun.

"Wios, nya, Ambu..." kuring tungkul, teu wani ningali ka Ambu.

"Asal diijinan ku Si Papah."

"Alhamdulillah, dipiwarang malah, Mbu."

"Enya keun baé, ari kitu onaman atuh."

Ambu ngaléos. Kuring ngarénghap napas. Ngemplong. Da jeung saenyana pan, kuring dititah indit ka imah Ambu. Teu salah kuring mah.

Duka teuing kumaha Ambu nyarios ka Si Abahna, da pas kuring asup ka imah deui téh, Abah teu tetelepék tataros masalah Si Papah. Ngemplong sih ngemplong, tapi angger wé lantaran kuring mah geus apal médan, kaayaan kitu téh, justru hutang keur kuring pikeun jujur nyaritakeun sakabéh permasalahan, ti enol nepi ka peun. Sabenerna mah kuring gé matak balik téh, rék balaka, tinggal nungguan waktu nu paling pas pisan, pikeun nyaritakeunnana.

Kasampak Abah sareng Ambu anteng narongton tipi. Sok matak sirik mun ningali. Rarasaan, asa jarang Abah sareng Ambu paraséa, sakanyaho mah. Èstuning adem ayem. Padahal, apal sorangan kumaha jaman baheula ti mimiti ngadeukeutan, nepi ka rarabi. Èstuning natural. Dina dijodo-jodona gé, ngaguluyur. Sababaraha detik kuring anteng na lawang panto merhati-keun duanana. Saterusna, kuring asup ka kamer.

Ngagolédag kana kasur jeung bantal kapuk. Nikmat pisan. Nangkarak bari nyawang, melong kana lalangit kamer. Inget ogé ka Si Papah. Teu bisa dibohongan. Boa ayeuna keur jalan-jalan jeung Si Sofia.

Gebeg.

Duh, kuduna mah, kuring mérésan heula barang nu aya di imah. Ras wè kuring inget kana cepuk sagedé jeung siga sabun giv, bahan tina pérak, wadah perhiasan. Sok sieun dibikeunan ka Si Sofia. Maklum ari lalaki, paling ampuh sigana téh ngolo awéwé ku emas. Wadul, mun ngolo awéwé jaman ayeuna cukup ku ngan saukur kembang sabeungkeut. Kabala-bala. Ngaruntah.

Duh, jadi teu genah haté. Balik waé kitu, jang nyokot cepuk éta... Mangkaning neundeun-na gampang ditéangan. Konci lomari gè, Si Papah apaleun, sok diteundeun luhureun lomari.

Astagfirullahaladzim, kuring teterusan goréng sangka ka Si Papah. Tapi mecak rék suudzon gé, ningali kalakuanana ka kuring geus wani kitu patut, moal teu mungkin wani ngaro-gahala perhiasan nu kuring gè. Jaba jumlahna lumayan. Komo aya emas paméré ti kolot. Aduh!

Rék balik heula, meungpeung karék jam opat, kumaha ngomongna ka kolot, jaba sabe-nerna mah, can wani momotoran ka nu jauh ayeuna-ayeuna mah. Maklum haté can stabil, masih can normal. Sieun cilaka di jalan. Tapi mun teu balik, kuring teu ngajamin barang nu aya hargaan, bakal tetep aya di imah.

Maklum anu keur begér, sagala hayang ka uja uning, alias kapuji. Karek sadar, memang geus béh ditu penampilan Si Papah jadi beuki nècis, tapi asa dingora-ngora. Beuki sportif, casual. Boro atoh, boga salaki beuki bisa mapan-tes manéh. Singhoréng, ngarah kataji ku kabo-gohna. Sedil. Kuring jadi riweuh teu puguh, nimang-nimang antara balik ka imah heula, atawa diisukkeun. Sirah asa ngarieutan deui. Duh, biasana mah ku disarékeun gè bakal cageur, tapi kieu carana mah, bangun moal parélé.

"Ambu, Nyondong landong rieut?" kuring ka luar kamer bari ngajenggutan buuk, roman muringis.

"Tingali wè di kotak obat, aya asana téh" saur Ambu, bari nunjuk kotak obat nu aya di gigireun lawang panto ka ruang makan.

Gidig kuring ngagidig. Tuluy muka kotak obat anu ngagantung. Aya obat mérah, perban jeung babaraha hiji ubar. Geus diilikan hiji-hiji, ahirna, meunang oge anu dipikahayang.

"Aya, teu ubarna?" ceuk Abah.

"Aya, Bah... Teu kiat rieut."

"Samemeh ngadahar ubar, salat heula, engké mah bisi kasaréan."

"Muhun, Bah... Ieu gè badé abdas."

Ubar disakuan. Niat rék salat Asar heula, méh jongjon.

Waktu kuring bérés abdas, Ambu ngam-pihan ranginang anu keur dipoé.

"Kin atuh, Ambu... Ku Deuis waé ngam-pihan ranginang mah, jaba nyiruna beurat." pok téh, asa teu téga ningali Ambu mawa nyiru badag, eusi ranginang atah.

"Keun baé da biasa Ambu mah... Apanan Deuisna gè rieut."

Kuring teu bisa deui ngajawab.

"Abah, atuh bantosan Ambu!" kuring teu neruskeun omongan, soalna pas ningali ka Si Abah, Si Abah tos ngaguher deui waé.

Emh, deudeuh teuing. Geus kolot mah, nya teu kaop cicing, ngaguher deui. Abah geus mimiti balik deui ka kalakuan orok. Loba ngagu-herna. Kuring istighfar na jero haté, tadi wawa-nianan nitah ka Si Abah.

 

***