UNSUR-UNSUR PALING PENTING HARUS ADA DALAM BACA PUISI & CONTOH SKENARIO BACA PUISI - SITUSENI

Selasa, 13 Juli 2021

UNSUR-UNSUR PALING PENTING HARUS ADA DALAM BACA PUISI & CONTOH SKENARIO BACA PUISI


1.      
Tafsir yang benar terhadap puisi yang dibaca, akan mewujud dalam bentuk:  

a.       Puisi yang dibaca akan terdengar dan terasa komunikatif di telinga pendengar, atau di telinga dewan juri, jika pembacaan puisi itu dilakukan dalam lomba. 

b.       Akan terdengar pula intonansi larik atau baris yang dibacakan, benar menurut hukum bahasa. Larik atau baris, atau kalimat menurut bahasa, terdiri dari tiga jenis, yaitu pernyataan, pertanyaan, atau sanggahan. Pahamilah dengan benar larik per larik dalam puisi, apakah ditulis oleh penyair sebagai larik pernyataan, pertanyaan, atau sanggahan? 

c.       Enjabemen atau penghentian pelapalan kata/larik akan benar, jika tafsir terhadap puisi itu sudah benar. 

Ketiga syarat yang disebut dalam poin a, b, can c adalah berdasarkan pendapat para pakar perpuisian, seperti Prof. Dr. Henman J. Waluyo dari UNS Solo melalui buku berjudul Apresiasi Puisi, lalu menurut Prof. Dr. Suminta A. Sayuti dari UNY Yogyakarta melalui buku Berkenalan dengan Puisi, menurut Doddi Ahmad Fauji dari sanggar Literasi SituSeni melalui buku Menghidupkan Ruh Puisi. 

2.       Jika tafsir terhadap puisi sudah benar, insya Allah akan melahirkan imajinasi yang masuk akal atau logis. Betapa penting memahami logika dalam puisi. Ada 4 logika yang tidak boleh diabaikan, yaitu: logika indrawi, logika bahasa, logika komunikasi, dan logika cerita. 

3.     Bila imajinasi sudah masuk di nalar atau akal, maka selanjutnya seorang pembaca puisi akan lebih bisa menghayati puisi yang dibacakannya. Penghayatan itu terkait dengan suasana dalam puisi. Adapun suasana dalam puisi itu, akan sejalan dengan suasana hati yang dirasakan dan dipresentasikan oleh si penulis puisi.  

4.     Selanjutnya, bagus atau tidak bagus seseorang dalam membanca puisi, secara teknis akan dipengaruhi oleh metrum (tinggi rendahnya suara), artikulasi atau kejelasan tiap kata yang dilapalkan, intonansi atau jenis kalimat pernyataan, pertanyaan, sanggahan, serta power (kekuatan suara).  

Teori di atas, akan saya paparkan dalam praktik pembacaan puisi wajib dan puisi pilihan dalam Lomba Baca Puisi FLS2N tingkat SMA tahun 2021/2022. 

Perhatikan bagaimana unsur-unsur yang saya sebutkan, termasuk enjabemen, atau penghentian melapalkan kata/larik, untuk menarik nafas, agar selaras dan fungsi komunikasi dalam puisi yang dibacakan.!

Sebelum puisi dibacakan, adalah sudah benar bila kita membuat dulu catatan-catatan pada tiap larik, semacam membuat skenario untuk memproduksi film. 

Saya sering menuliskan tanda baca garis miring (/) atau tanda koma (,) buatan, untuk menandakan, di sana pelapalan puisi harus berhenti sejenak. 

Terkadang saya membuat tanda baca garing miring dua (//), untuk menandai bahwa perhentian pembacaan puisi butuh waktu lebih lama, atau sekitar 3 detik. 

Kadang saya memberi tanda tanya (?), bila larik yang dibaca memang bernada pertanyaan, atau saya memberikan tanda seru (!) bila larik yang dibaca memang berupa pernyataan yang amat penting! 

Tentang tanda-tanda baca tambahan itu, bisa disimak pada larik-larik yang dibacakan di bawah ini.

SAJAK BUAT NEGARAKU

KRIAPUR

Di tubuh semesta tercinta/

buku-buku negeriku tersimpan//

setiap gunung-gunung dan batunya/

padang-padang dan hutan/ semua punya suara//


semua terhampar biru di bawah langitnya/

tapi hujan selalu tertahan dalam topan/

hingga binatang-binatang liar à

mengembara dan terjaga di setiap tikungan à

kota-kota.!//

 

Di antara gebalau dan keramaian tak bertuan/

pada hari-hari sebelum catatan akhir/

musim telah merontokkan daun-daun/

semua akan menangis/

semua akan menangis/

laut akan berteriak dengan gemuruhnya/

rumput akan mencambuk dengan desaunya/

siang akan meledak dengan mataharinya!//

 

dan musim-musim dari kuburan à

akan bangkit/

semua akan bersujud/

berhenti untuk keheningan.!

 

Pada yang bernama keheningan/

semua akan berlabuh//

 

bangsaku, bangsa dari segala bangsa/

rakyatku siap dengan tombaknya/

siap dengan kapaknya/

bayi-bayi memiliki pisau di mulut/

tapi aku hanya siap dengan puisi//

 

dengan puisi bulan terguncang/

menetes darah hitam dari luka lama!


Tanda  à menunjukkan pembacaan puisi tidak boleh berhenti di ujung larik tersebut, tapi sebaiknya dilangsungkan ke larik berikutnya.

Tanda / menunjukkan pembacaan puisi harus berhenti di sana.

Tanda // menunjukkan, pembacaan puisi berhenti lebih lama, kira-kira 3 detik.

Comments


EmoticonEmoticon