SITUSENI

Rabu, 04 Agustus 2021

BERMULA DARI KATA - Pengantar untuk buku Selasih


Oleh Doddi Ahmad Fauji

Bermula dari kata KUN, kemudian FAYAKUN... Jadi, maka jadilah. 

Demikianlah, bila Allah Swt menghendaki sesuatu, Ia akan mengucapkan larik ‘kun fayakun’ atau jadi maka jadilah. Larik tersebut setidaknya terdapat dalam Quran surat Yasin ayat 82: Innama Amruhu Idza Arada Syaian An Yaqula Lahu Kun Fayakun. Artinya: Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, Jadilah, Maka jadilah ia. Qs. Yasin: 82.

Larik di atas menerangkan kepada para pembaca, bahwa penciptaan langit dan bumi, ternyata dimulai dengan kata Jadi!

Berangkat dari argumentasi tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa penciptaan dalam banyak hal, dimulai dari KATA. Orang Arab sangat mempercayai hal ini, sehingga keluar ungkapan dari Arab yang berbunyi: al-ashlu lugotan, maa buniya ‘alaihi ghoirihi (asal usul itu dari kata, tak ada yang menyamainya).

Bangsa Indonesia saat ini, dalam pergaulan peradaban internasional, harus mengakui, adalah bangsa yang kurang kreatif dalam penciptaan peralatan teknologi. Kita tidak bisa menciptakan tiga perangkat teknologi yang amat penting untuk kemajuan peradaban lanjutan, yaitu kita tak bisa menciptakan telepon, mesin, dan komputer. Jalanan kita macet, tapi kendaraan yang memenuhinya adalah hasil belanja dari bangsa asing, dan pembelajaran daring makin semarak, tetapi peralatan yang digunakan adalah hasil penciptaan bangsa lain. 

Bahkan kita tidak bisa menciptakan baru dalam peradaban baru, juga bahkan dalam dunia pendidikan. Kita harus mengimpor kata untuk menamai berbagai mata pelajaran dari sejak TK hingga S3. Mari kita periksa istilah mapel untuk ilmu sosial maupun ilmu sain: Matematika, fisika, kimia, biologi, geografi, sosiologi, antropologi, dll, adalah kaya yang kita impor. Kemandulan dalam memproduksi kata, berdampak lanjutan pada mandulnya menciptakan piranti lainnya, terutama piranti teknologi informasi, transportasi, dan kelayakan hidup.

Para pencipta kata, diterangkan dalam Quran surat ke-26 (para penyair) adalah para penulis puisi, atau yang kemudian disebut penyair. Sungguh, penyair atau pencipta kata, dimuliakan oleh Allah dengan dimaktubkannya sebutan para penyair dalam surat ke-26 itu. Saya bersyukur karena kini makin marak orang-orang menulis puisi, dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan amademik (guru dan dosen) berserta siswa dan mahasiswa. Semoga gairah berpuisi dari berbagai kalangan itu, berimbas pada kelanjutan untuk memahami hakikat atau esensi kata.

Hakikat atau esensi kata sungguh perlu dipahami, dan bahkan dilaksanakan jika yang termaktub dalam kata tersebut berupa perintah, dan atau kita tidak berbuat sesuatu yang dilarang oleh kata.

Kata adalah bagian dari aksara, dan adalah merupakan unsur terkecil yang punya makna, yang membentuk bahasa. Bahasa diwakili atau ditandai oleh aksara, dan dalam bahasa Eropa (Inggris, Jerman, Prancis, Belanda), aksara itu bisa diartikan dengan literasi. Nah, berliterasi itu artinya ber-aksara. Beraksara yang dimaksud ialah, memahami arti leskisal (kamus) sekaligus memahmi makna esensialnya (hakikat kata).

Puisi seperti yang tertuang dalam antologi Selasih Bertunas Emas. Antologi Catatan Buah Hati Dalam Puisi, adalah salah satu jalan untuk memahami syariat (leksikal) dan hakikat kata, dan para pembaca serta penulis puisi, harus benar-benar bergelut untuk dapat memahami syariat dan hakikat kata itu. Bila tidak, maka puisi yang bagus bisa saja tidak terpahami karena si pembaca kurang bersungguh-sungguh dalam mempelajari kata. Bila tidak, bisa saja puisi yang ditulis para penulis puisi, kurang memancarkan marwah kata KUN (Jadi)!

Saya kurang leluasa bila harus membahas puisi-puisi dalam antologi ini, karena dibutuhkan pembacaan yang bersungguh-sungguh, serta menuangkannya dalam catatan panjang. Sekilas dapat saya tangkap, bahwa upaya untuk berkomunikasi kepada yang lain (yang membaca) melalui kata yang simbolik dan indah melalui puisi, sudah terasa dalam beberapa puisi yang ada pada antologi buku ini. Selanjutnya, kepada para penulis maupun pembaca puisi dalam antologi ini, saya ingin menyampaikan pendapat tentang tafsir menurut saya dari kata ‘iqro’ yang merupakan kata pertama dalam wahyu pertama, yang diterima Nabi Muhammad.

Kenapa kata pertama itu berbunyi Iqro, dan apa artinya iqro?

Secara harfiah (huruf) atau makna syariyah (leksikal) dari kata iqro adalah membaca. Semua orang Islam yang pernah belajar ngaji, tahu benar kata iqro itu adalah perintah untuk membaca. Namun ada pertanyaan lanjutan untuk memahami maksud dari kata pertama dalam wahyu yang berbunyi ‘iqro’ itu, yaitu buat apa sebenarnya membaca? \

Jawaban atas pertanyaan ‘buat apa membaca?’ adalah yang menjadi penjelasan dari makna esensial (hakikat) dari kata iqro. 

Kita membaca supaya kita memahami bacaan, supaya kita memahami kehidupan. Maka perintah iqro dalam Quran itu, hakikatnya adalah supaya kita memahami isi Quran (qouliyah). dan memahami kehidupan ini (qouniyah). Jika kita sudah hatam membaca quran, bahkan tertalar, namun kurang paham artinya (terjemahannya), juga kurang paham tafsirnya (hakikatnya), maka bisakah kita disebut sudah membaca? Mungkin bisa disebut sudah membaca, tapi baru pada tahap melapalkan.

Nah, lalu, buat apa kita memahami isi bacaan?

Jawaban atas pertanyaan di atas, akan menjadi penjelasan ma’rifat dari makna iqro. Kita membaca supaya paham, dan setelah paham, kita harus melaksanakan atau menjalankan apa yang sudah kita pahami itu. Maka secara makrifat, arti dari iqro itu, bukan saja bacalah, pahamilah, namun sekaligus laksanakanlah!

Lalu kenapa kita mesti berpuisi?

Kita berpuisi bukan sekedar merangkai kata, namun hendak berkomunikasi dengan yang lain (pembaca), dengan mengkomunikasikan hal yang baik, dengan maksud yang baik, dan dengan bahasa yang baik. Ingatlah bahwa puisi adalah rangkaian kata, dan kata adalah awal mula dari penciptaan. Nah, berliterasi itu, kita belajar memahami makna dan hakikat kata, serta melaksanakannya, jika itu berupa perintah, dan menjauhi larangannya, jika itu memang larangan. Mari kita terus berpuisi dan berliterasi, sebab dari puisi, bisa lahir imajinasi, dan dari imajinasi, lahir filsafat, dan filsafat adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan barat. Bisa saja kelak, kita berpuisi dengan berimajinasi, dan generasi penerus setelah kita, kelak berhasil menciptakan peradaban canggih, dan kita tidak lagi menjadi bangsa pengguna, pengikut, dan pembelanja alias konsumtif. Bermula dari puisi yang sungguh-sungguh, tidak mustahil lahir komputer baru, mesin baru, telepon baru, buatan bangsa Indonesia. Semoga!

Doddi Ahmad Fauji

Penulis buku Menghidupkan Ruh Puisi

Pemimpin Redaksi SituSeni.

Selasa, 13 Juli 2021

UNSUR-UNSUR PALING PENTING HARUS ADA DALAM BACA PUISI & CONTOH SKENARIO BACA PUISI


1.      
Tafsir yang benar terhadap puisi yang dibaca, akan mewujud dalam bentuk:  

a.       Puisi yang dibaca akan terdengar dan terasa komunikatif di telinga pendengar, atau di telinga dewan juri, jika pembacaan puisi itu dilakukan dalam lomba. 

b.       Akan terdengar pula intonansi larik atau baris yang dibacakan, benar menurut hukum bahasa. Larik atau baris, atau kalimat menurut bahasa, terdiri dari tiga jenis, yaitu pernyataan, pertanyaan, atau sanggahan. Pahamilah dengan benar larik per larik dalam puisi, apakah ditulis oleh penyair sebagai larik pernyataan, pertanyaan, atau sanggahan? 

c.       Enjabemen atau penghentian pelapalan kata/larik akan benar, jika tafsir terhadap puisi itu sudah benar. 

Ketiga syarat yang disebut dalam poin a, b, can c adalah berdasarkan pendapat para pakar perpuisian, seperti Prof. Dr. Henman J. Waluyo dari UNS Solo melalui buku berjudul Apresiasi Puisi, lalu menurut Prof. Dr. Suminta A. Sayuti dari UNY Yogyakarta melalui buku Berkenalan dengan Puisi, menurut Doddi Ahmad Fauji dari sanggar Literasi SituSeni melalui buku Menghidupkan Ruh Puisi. 

2.       Jika tafsir terhadap puisi sudah benar, insya Allah akan melahirkan imajinasi yang masuk akal atau logis. Betapa penting memahami logika dalam puisi. Ada 4 logika yang tidak boleh diabaikan, yaitu: logika indrawi, logika bahasa, logika komunikasi, dan logika cerita. 

3.     Bila imajinasi sudah masuk di nalar atau akal, maka selanjutnya seorang pembaca puisi akan lebih bisa menghayati puisi yang dibacakannya. Penghayatan itu terkait dengan suasana dalam puisi. Adapun suasana dalam puisi itu, akan sejalan dengan suasana hati yang dirasakan dan dipresentasikan oleh si penulis puisi.  

4.     Selanjutnya, bagus atau tidak bagus seseorang dalam membanca puisi, secara teknis akan dipengaruhi oleh metrum (tinggi rendahnya suara), artikulasi atau kejelasan tiap kata yang dilapalkan, intonansi atau jenis kalimat pernyataan, pertanyaan, sanggahan, serta power (kekuatan suara).  

Teori di atas, akan saya paparkan dalam praktik pembacaan puisi wajib dan puisi pilihan dalam Lomba Baca Puisi FLS2N tingkat SMA tahun 2021/2022. 

Perhatikan bagaimana unsur-unsur yang saya sebutkan, termasuk enjabemen, atau penghentian melapalkan kata/larik, untuk menarik nafas, agar selaras dan fungsi komunikasi dalam puisi yang dibacakan.!

Sebelum puisi dibacakan, adalah sudah benar bila kita membuat dulu catatan-catatan pada tiap larik, semacam membuat skenario untuk memproduksi film. 

Saya sering menuliskan tanda baca garis miring (/) atau tanda koma (,) buatan, untuk menandakan, di sana pelapalan puisi harus berhenti sejenak. 

Terkadang saya membuat tanda baca garing miring dua (//), untuk menandai bahwa perhentian pembacaan puisi butuh waktu lebih lama, atau sekitar 3 detik. 

Kadang saya memberi tanda tanya (?), bila larik yang dibaca memang bernada pertanyaan, atau saya memberikan tanda seru (!) bila larik yang dibaca memang berupa pernyataan yang amat penting! 

Tentang tanda-tanda baca tambahan itu, bisa disimak pada larik-larik yang dibacakan di bawah ini.

SAJAK BUAT NEGARAKU

KRIAPUR

Di tubuh semesta tercinta/

buku-buku negeriku tersimpan//

setiap gunung-gunung dan batunya/

padang-padang dan hutan/ semua punya suara//


semua terhampar biru di bawah langitnya/

tapi hujan selalu tertahan dalam topan/

hingga binatang-binatang liar à

mengembara dan terjaga di setiap tikungan à

kota-kota.!//

 

Di antara gebalau dan keramaian tak bertuan/

pada hari-hari sebelum catatan akhir/

musim telah merontokkan daun-daun/

semua akan menangis/

semua akan menangis/

laut akan berteriak dengan gemuruhnya/

rumput akan mencambuk dengan desaunya/

siang akan meledak dengan mataharinya!//

 

dan musim-musim dari kuburan à

akan bangkit/

semua akan bersujud/

berhenti untuk keheningan.!

 

Pada yang bernama keheningan/

semua akan berlabuh//

 

bangsaku, bangsa dari segala bangsa/

rakyatku siap dengan tombaknya/

siap dengan kapaknya/

bayi-bayi memiliki pisau di mulut/

tapi aku hanya siap dengan puisi//

 

dengan puisi bulan terguncang/

menetes darah hitam dari luka lama!


Tanda  à menunjukkan pembacaan puisi tidak boleh berhenti di ujung larik tersebut, tapi sebaiknya dilangsungkan ke larik berikutnya.

Tanda / menunjukkan pembacaan puisi harus berhenti di sana.

Tanda // menunjukkan, pembacaan puisi berhenti lebih lama, kira-kira 3 detik.

Minggu, 11 Juli 2021

INDONESIA BISA MENCIPTAKAN MESIN SENDIRI

Oleh Doddi Ahmad Fauji


Ingin saya tegaskan, bahwa saya termasuk orang yang naif, karena selalu terganggu oleh pertanyaan yang saya buat: Kapan negara-bangsa indonesia bisa membuat mesin sendiri, yang seluruh onderdilnya dibuat sendiri, dan tidak perlu mengimpor?

Pertanyaan tersebut perlu dan penting saya ajukan kepada siapapun yang merasa sebagai bangsa Indonesia, dan berpikir lalu berharap, bahwa Indonesia kelak akan menjadi negara-bangsa modern, berperadaban luhur, dapat mensejajari negara adidaya, dan pertama serta utama sekali, dapat mensejahterakan rakyatnya, sesuai dengan cita-cita proklamasi negara Indonesia, yang termaktub dalam ‘Preambule’ UUD 1945, alinea ke-4:

Kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu, dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan Rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial, bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keadilan sosial di negeri ini, jelas ditegaskan: Bagi seluruh rakyat Indonesia, maka nyata sudah, keadilan bukan milik segelintir pihak yang punya kuasa atau upaya (uang). Namun rakyat Indonesia cukup banyak yang tahu, bahwa para penguasa pengupaya (orang kaya) serta penegak keadilan di negeri ini, kerap berlaku tebang pilih, dan rakyat kebanyakan, yang menurut UUD 1945 merupakan pemilik kedaulatan negara, seringkali menjadi anak tiri atau malah musuh bagi para penguasa dan pengupaya serta penegak keadilan, sehingga pula, kita sering merasakan betapa keadilan telah dirampok oleh segelintir elite.

Untuk mencapai tujuan yang tersurat dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 itu, tentu banyak hal mesti dilakukan, dan salah satunya yang sangat penting, adalah segera berpikir untuk menciptakan mesin sendiri, yang merupakan motor penggerak berbagai peralatan serta sarana yang dibutuhkan untuk menunjang kemajuan demi kemajuan selanjutnya. Kita tahu, mesin adalah alat vital bagi penciptaan teknologi otomotif sebagai sarana transportasi. Mesin juga dibutuhkan untuk menggerakkan berbagai sektor perindustrian, dari mulai pabrik pangan, sandang, papan, pertanian dan peternakan, bahkan hingga mainan untuk anak-anak. Bila kita tidak bisa menciptakan mesin sendiri, dengan bahan baku dan onderdil sendiri, maka selamanya UANG negara ini akan selalu terkuras untuk berbelanja dalam rangka mengadakan peralatan dan sarana untuk melangsungkan kehidupan. Sebab uang dari dalam mengalir ke luar, maka DANA untuk mensejahterakan rakyat akan selalu ‘jauh panggang dari api’.

Sumber Daya Alam Indonesia memiliki bahan baku yang sangat melimpah untuk menciptakan mesin sendiri. Anak-bangsa Indonesia juga tidak bodoh-bodoh amat, sebab ada segelintir anak yang memiliki kemampuan dan keahlian sebagai insinyur teknologi mesin dan mekanik.

Saya tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak mau sok tahu, bagaimana caranya bangsa kita, bisa menciptakan mesin sendiri, atau mulai berpikir untuk merintis penciptaan mesin sendiri, meski harus menggelontorkan dana yang cukup besar.

Saya berharap pertanyaan yang diajukan di atas, dapat menginspirasi satu orang saja dari penyimak, terutama tentu dari generasi muda, sehingga mulai berpikir keras dan mencari solusi untuk menciptakan mesin sendiri, sehingga kelak Indonesia bisa membuat peralatan transportasi dari mulai motor, mobil, kereta api, pesawat terbang atau perkapalan. Sungguh sedih, jangankan bisa menciptakan pesawat dan kapal, kereta api atau mobil, bahkan untuk menjalankannya, mengendarakannya, kita masih tergolong gagap, sebab masih banyak kecelakan peralatan transportasi, dari mulai tabrakan di lalulintas, kereta api beradu, pesawat jatuh, hingga kapal selam yang habitatnya di laut, ternyata masih juga tenggelam.

Bangsa Indonesia bisa maju dan makin sejahtera, bila berhasil menciptakan mesin sendiri. Insya Allah.

Senin, 21 Juni 2021

Pantun Kilat Bernama Karmina

 Oleh Doddi Ahmad Fauji

Sebelum paparan mengenai Karmina, saya ingin menyampaikan pengantar umum dunia literasi di Nusantara, dan hal tersebut saya awali dengan mengatakan bahwa seni pertunjukan yang kemudian setelah dituliskan diberi nama sastra, bias dikatakan ada dan dimiliki oleh berbagai bangsa dan negara, dengan corak dan ragam yang berbeda-beda. Setelah manusia berinteraksi antar daerah dan benua, terjadilah akulturasi budaya (percampuran budaya). Saling mempengaruhi, meniru, mengadopsi, bahkan mencuri artefak seni pertunjukan, telah menjadi fitrah manusia sedari dulu. Nah, bangsa Indonesia yang dulu disebut Nusantara itu, juga mengalami akulturasi dengan bangsa lain, terutama dengan bangsa India yang mengajarkan bahasa Sansakerta, dengan menggunakan hurup Palawa dan Dewanagari.

 

Namun Abiyasa yang menulis Babad Mahabarata, dan Walmiki yang menulis epos Ramayana, menurut sumber yang masih disebut ‘konon’ justru orang India yang belajar mendongeng dari bangsa Nusantara, di mana Mahabarata dan Ramayana merupakan pengembangan dari kisah I La Galigo dari Bugis, yang diakui oleh badan dunia untuk kebudayaan (Unesco) sebagai karya bertutur yang konfliknya paling kompleks di dunia, melampaui komplesitas yang terdapat dalam konflik Mahabarata dan Ramayana itu sendiri, juga lebih kompleks dari naskah tragedi Oediphus yang ditulis oleh Sophocles dari Yunani.

 

Dunia mencatat, ternyata bangsa Nusantara gemar berlayar dengan menggunakan kapal bercadik buatan Bugis (Sulawesi Selatan), yang mulai dilakukan sekitar 4 abad sebelum masehi. Pelayaran itu dilakukan ke arah Barat, karena dipengaruhi oleh angin  Munson Barat dan Muson Timur. Bergerak ke arah Barat dengan menyusuri gigir pantai Asia, menembus India, bagkan hingga terdampar di Madagaskar (Afrika). Selama pelayaran itulah, para pelaut Nusantara singgah di beberapa daerah, di antaranya di India, Sewaktu singgah di daerah lain itulah, para pelayar suka mendongeng, mengisahkan asal-usul manusia yang dimulai dari Batara Guru. Dalam I La Galigo, tokoh Batara Guru amat sentral, sebagaimana dalam babad Mahabarata dan epos Ramayana, tokoh Batara Guru juga menjadi sangat sentral. Maka dari sini lahir dugaan yang diucapkan si konon itu, yaitu bahwa seniman tutur India, yakni Abiyasa dan Walmiki telah menyadur I La Galigo.

 

 

Tentang mana yang paling benar, apakah India menyadur dongeng dari Nusantara, atau justru bangsa Nusantara yang menyadur dari India, tentu butuh penelitian lebih lanjut. Namun, adalah nyata bahwa bangsa Nusantara yang kini disebut Indonesia itu, kini tercatat menjadi bangsa yang tertinggal dalam bidang pemahaman dan penguasaan literasi, terutama dalam bidang tulis-menulis (teks).

 

Sastra lama adalah warisan nenek moyang yang sudah sepantasnya mendapat perhatian. Jangan sampai hiruk-pikuk kemajuan zaman menenggelamkan warisan yang sangat berharga ini. Atas dasar inilah buku ini hadir di hadapan pembaca dengan harapan bisa mengangkat kembali khazanah sastra lama yang hampir dilupakan keberadaannya agar kembali dikenal oleh masyarakat. Buku Mengenal Sastra Lama ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama membahas tentang puisi lama yang meliputi pantun, karmina, syair, gurindam, seloka, talibun, mantra, peribahasa atau bidal (mencakup pepatah, perumpamaan, dan tamsil), serta bentuk puisi lama lainnya (rubai, kit’ah, gazal, nazam, dan masnawi). Bagian kedua membahas prosa lama yang meliputi dongeng, fabe|, legenda, mite, sage, cerita jenaka, hikayat, cerita berbingkai, cerita pelipur lara, dan epos. Selain berisi jenis, definisi, ciri, dan sejarah aneka karya sastra lama, Buku Mengenal Sastra Lama ini dilengkapi contoh sehingga layak dibaca oleh siapapun. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, pendidik, peminat sastra, maupun masyarakat umum yang tertarik dengan kajian sastra lama, buku ini adalah salah satu bacaan yang wajib Anda miliki.

Senin, 14 Juni 2021

KABELEJOG ASIH - Bagean 18


Yasana Queen Erni

18

Deuis, pang malik-malikkeun ranginang di luar." Ambu ngagero.

Kuring yakin, Ambu lain satitah-titahna. Tapi mèmang ngahaja, sangkan kuring teu kudu ngajawab patanyaan ti Abah. Kuring balik deui kana méja makan. Ngaregot cai anu meunang niiskeun. Suruput-suruput, cai diuyup. Masih rada panas. Kuring langsung ka luar imah. Sendal capit héjo anu Ambu dipaké.

Kurajin Ambu mah, nyieun ranginang sok ku sorangan. Ukurannana sok béda tinu séjén. Laleutik, lalucu. Teu cara batur, bentukna ngago-déblag ngarangkadak. Hanjakal bakat rajin jeung pinteran masakna, teu nurun ka kuring. Satengah ngalamun, kuring malik-malikkeun ranginang.

"Gening nuju aya di dieu, Néng?"

Kuring nempo ka nu nanya. Singhoréng Bu Nining, tatangga sabeulah.

"Eh, Ibu... Muhun, Bu... Sono ka Ambu."

"Badé ngawengi?"

"Inshaallah, Bu... Ibu badé ka mana? Sin-dang heula atuh..." kuring basa-basi.

"Biasa we, ka warung, Néng... Muhun mangga, Inshaallah," saenggeus paamprok ramo, Bu Nining ngaléos.

"Ngendong Deuis?" sora Ambu ujug-ujug aya gigireun.

"Wios, nya, Ambu..." kuring tungkul, teu wani ningali ka Ambu.

"Asal diijinan ku Si Papah."

"Alhamdulillah, dipiwarang malah, Mbu."

"Enya keun baé, ari kitu onaman atuh."

Ambu ngaléos. Kuring ngarénghap napas. Ngemplong. Da jeung saenyana pan, kuring dititah indit ka imah Ambu. Teu salah kuring mah.

Duka teuing kumaha Ambu nyarios ka Si Abahna, da pas kuring asup ka imah deui téh, Abah teu tetelepék tataros masalah Si Papah. Ngemplong sih ngemplong, tapi angger wé lantaran kuring mah geus apal médan, kaayaan kitu téh, justru hutang keur kuring pikeun jujur nyaritakeun sakabéh permasalahan, ti enol nepi ka peun. Sabenerna mah kuring gé matak balik téh, rék balaka, tinggal nungguan waktu nu paling pas pisan, pikeun nyaritakeunnana.

Kasampak Abah sareng Ambu anteng narongton tipi. Sok matak sirik mun ningali. Rarasaan, asa jarang Abah sareng Ambu paraséa, sakanyaho mah. Èstuning adem ayem. Padahal, apal sorangan kumaha jaman baheula ti mimiti ngadeukeutan, nepi ka rarabi. Èstuning natural. Dina dijodo-jodona gé, ngaguluyur. Sababaraha detik kuring anteng na lawang panto merhati-keun duanana. Saterusna, kuring asup ka kamer.

Ngagolédag kana kasur jeung bantal kapuk. Nikmat pisan. Nangkarak bari nyawang, melong kana lalangit kamer. Inget ogé ka Si Papah. Teu bisa dibohongan. Boa ayeuna keur jalan-jalan jeung Si Sofia.

Gebeg.

Duh, kuduna mah, kuring mérésan heula barang nu aya di imah. Ras wè kuring inget kana cepuk sagedé jeung siga sabun giv, bahan tina pérak, wadah perhiasan. Sok sieun dibikeunan ka Si Sofia. Maklum ari lalaki, paling ampuh sigana téh ngolo awéwé ku emas. Wadul, mun ngolo awéwé jaman ayeuna cukup ku ngan saukur kembang sabeungkeut. Kabala-bala. Ngaruntah.

Duh, jadi teu genah haté. Balik waé kitu, jang nyokot cepuk éta... Mangkaning neundeun-na gampang ditéangan. Konci lomari gè, Si Papah apaleun, sok diteundeun luhureun lomari.

Astagfirullahaladzim, kuring teterusan goréng sangka ka Si Papah. Tapi mecak rék suudzon gé, ningali kalakuanana ka kuring geus wani kitu patut, moal teu mungkin wani ngaro-gahala perhiasan nu kuring gè. Jaba jumlahna lumayan. Komo aya emas paméré ti kolot. Aduh!

Rék balik heula, meungpeung karék jam opat, kumaha ngomongna ka kolot, jaba sabe-nerna mah, can wani momotoran ka nu jauh ayeuna-ayeuna mah. Maklum haté can stabil, masih can normal. Sieun cilaka di jalan. Tapi mun teu balik, kuring teu ngajamin barang nu aya hargaan, bakal tetep aya di imah.

Maklum anu keur begér, sagala hayang ka uja uning, alias kapuji. Karek sadar, memang geus béh ditu penampilan Si Papah jadi beuki nècis, tapi asa dingora-ngora. Beuki sportif, casual. Boro atoh, boga salaki beuki bisa mapan-tes manéh. Singhoréng, ngarah kataji ku kabo-gohna. Sedil. Kuring jadi riweuh teu puguh, nimang-nimang antara balik ka imah heula, atawa diisukkeun. Sirah asa ngarieutan deui. Duh, biasana mah ku disarékeun gè bakal cageur, tapi kieu carana mah, bangun moal parélé.

"Ambu, Nyondong landong rieut?" kuring ka luar kamer bari ngajenggutan buuk, roman muringis.

"Tingali wè di kotak obat, aya asana téh" saur Ambu, bari nunjuk kotak obat nu aya di gigireun lawang panto ka ruang makan.

Gidig kuring ngagidig. Tuluy muka kotak obat anu ngagantung. Aya obat mérah, perban jeung babaraha hiji ubar. Geus diilikan hiji-hiji, ahirna, meunang oge anu dipikahayang.

"Aya, teu ubarna?" ceuk Abah.

"Aya, Bah... Teu kiat rieut."

"Samemeh ngadahar ubar, salat heula, engké mah bisi kasaréan."

"Muhun, Bah... Ieu gè badé abdas."

Ubar disakuan. Niat rék salat Asar heula, méh jongjon.

Waktu kuring bérés abdas, Ambu ngam-pihan ranginang anu keur dipoé.

"Kin atuh, Ambu... Ku Deuis waé ngam-pihan ranginang mah, jaba nyiruna beurat." pok téh, asa teu téga ningali Ambu mawa nyiru badag, eusi ranginang atah.

"Keun baé da biasa Ambu mah... Apanan Deuisna gè rieut."

Kuring teu bisa deui ngajawab.

"Abah, atuh bantosan Ambu!" kuring teu neruskeun omongan, soalna pas ningali ka Si Abah, Si Abah tos ngaguher deui waé.

Emh, deudeuh teuing. Geus kolot mah, nya teu kaop cicing, ngaguher deui. Abah geus mimiti balik deui ka kalakuan orok. Loba ngagu-herna. Kuring istighfar na jero haté, tadi wawa-nianan nitah ka Si Abah.

 

***

Minggu, 13 Juni 2021

KABELEJOG ASIH - Bagéan 17

Yasana Queen Erni

17

Teu karasa, motor anu nganteurkeun kuring, geus nepi hareupeun pisan bumi Ambu. Kang Rustam kéképéhan basa kuring rék méré duit téh. Tapi kuring teu loba carita, duit diselapkeun kana saku calana tukangna. Manéh-na teu bisa kukumaha. Masing ihlas gé, kuring apal kumaha kahirupan tukang parkir. Kang Rustam embungeun, waktu kuring nitah asup heula ka imah. Manéhna ukur nitip salam jang anu aya di imah. Kuring teu bisa maksa. Barina gé aya alusna kétang, bisi Ambu langsung curiga, kuring bet dianteur ku lalaki lian, lain ku Si Papah.

Kuring masih ngajeten hareupeun pager bumi Ambu. Serrrrr getih karasa ngarambat haneut, minuhan sakujur awak. Geus lila ogé, kuring teu nyimpang ka imah nu jadi  kolot. Pada-hal, teu jauh jauh teuing. Sajam cukup. Tapi nya kitu téa, kuayana tehnologi, jadi ngagampang-keun silaturahim. Cukup ku teteleponan. Ya Allah....

Panon ngurilingan buruan anu iyuh ku tatangkalan. Aya tangkal alpuket jeung tangkal buah, anu jarakna sakitar 3 meteran. Sakuriling dipelakang apoték hirup. Ngahaja, taneuh paka-rangan teu maké paving block kabéh, ukur jaja-laneun ka imah we, anu dipasangan téh... Saur Abah, méh asri. Bener ogé, sih... Imah kolot kuring jadi kaciri béda jeung tatangga anu lain. Pakarangan beresih bari asri, loba kekembangan ogé, mani lalucu.

Katempo luhureun tangkal baluntas, aya nyiru gedé dua, eusi ranginang anu keur dipoé.

Lalaunan, panto pager dibuka, tuluy motor dituyun asup, ngahaja teu dihirupan mesinna. Imah karasa sepi. Motor diparkir di nu iyuh. Kuring teu langsung asup ka imah. Tapi ngadon ngurilingan pakarangan. Asa ku sono, Ya Allah. Tangkal buah manggah dideukeutan. Emh, éstu-ning masih kénéh gagah. Padahal kuring keur leutik remen gugulayunan di dahan anu ngarang-kadak ka lebah kalér ieu. Gugulayunan maké ban urut, anu ditalian ku tambang. Sok parebut jeung anak uwa, mun kabeneran nganjang.

Lalaunan dampal leungeun ngusapan dahan tangkal manggah. Sireum anu pauntuy- untuy, bangun nungtun dampal mapayan ka luhur. Cipanon ngeyembeng. Geus wareg soso-noan jeung tangkal manggah, kuring ngadeu-keutan nyiru badag. Ranginang atah anu keur dipoé, mani saalukuran. Sanyiru rasa tarasi, sanyiru rasa orijinal. Mémang karesep Ambu ngadamelan ranginang téh. Kapaké kusasaha. Takaran tarasi jeung uyahna, sok pas. Kuring ngagelenyu sorangan. Gep kana ranginang atah rasa tarasi. Terus disemplékkeun. Am diganyem. Jadi inget kabiasaan ngagayem ranginang atah téh.

"Deuiiiis, ti iraha kadieu?" sora Ambu anu has, ngabuyarkeun lamunan.

Kuring ngalieuk ka lebah datangna sora Ambu. Katingal Ambu ngajanteng luhureun téras, anu ditéhelan warna pulas beureum ati. Awakna asa beuki leutik. Diciciput hideung, maskét pisan. Kuring teu sirikna ngagableng muru Ambu. Panangan Ambu digerewek, sono pisan. Tuluy nangkeup awakna, ngagaléntoran pipina, pinuh kukanyaah.

"Mana Abah... Biasana wayah kieu sok ngadaweung di korsi hoé ieu..." ceuk kuring bari lunga lengo ka jero imah.

"Abah mah nundutan wè, geus kolot mah, tuh bari nyepengan koran. Koran ka mana... Si Abah ka mana."

Kuring nuturkeun curuk Ambu. Bener wé keur ngulahék. Nundutan bangun nikmat pisan.

"Mana si Papah... Naha sosoranganan ka dieuna, Deuis?"

Kuring teu wasa ngajawab. Sup kuring asup ka kamer hareup. Paragi kuring saré mun kabeneran ngéndong. Tas digantungkeun dina tukangeun panto. Sepré pulas beureum gambar kembang anggrék, nutupan kasur ukuran nomer 2. Rapih pisan. Kuring diuk na korsi tiolét. Ambu lebet. Gék calik gigireun.

"Mending gé eusian heula, bisi maag kambuh, Deuis."

Kuring neuteup Ambu.

Soca Ambu neuteup seukeut ka kuring, bangun aya nu keur ditalungtik. Kuring apal kabiasaan Ambu. Ambu pasti geus ngangseu aya anu disumputkeun ku kuring. Kuring ngeluk tungkul, teu wani melong.

"Jig, aya céos kacang jeung pindang keureut dibungbuan gera... Kurupukna na kaléng khong Guan buleud." Ambu teu maksa kuring balaka.

Éta anu nepi ayeuna kuring salut ka kolot. Boh Ambu boh Abah, sok ngabiasakeun sangkan kuring nyarita sasadarna urang, euweuh paksaan.

Kuring unggeuk. Bener asa lapar, balik dogol jeung si Sofia forevprét téh. Kuring ceng-kat dituturkeun ku Ambu. Ambu mukakeun tu-dung saji. Kuring nyokot piring jeung séndok. Gék diuk. Ambu mangwadahankeun sangu, padahal tadina rék nyokot sorangan. Ambu mah rarasaan wé kuring téh masih budak SD, nu masih kudu dihulaan kénéh.

Sangu dina boboko masih kénéh aya haseupan saeutik. Seeng seungit pisan, paheula-heula jeung angseu balado pindang keureut, ngadeukeutan irung. Teu dilila-lila, siuk, siuk céos kacang disiukkan. Tuluy balado pindang keureut jeung kurupuk bawang. Ambu ningalikeun kala-kuan kuring anu cacamuilan. Duh, sono pisan kana masakan Ambu, bau dapur Ambu. Teu karasa, sangu ngan sakotéap, langsung béak. Gelas nu nangkub, ditangkarakkeun. Curulung, dieusian cai téh panas. Selengseng seungit téh anu digodogkeun na hawu, matak hayang geura-geura ngaregot.

"Sina tiis heula, Deuis, tong sok diuyup panas panas... Kabiasaan." Ambu ngémutan.

Kuring nyokot hihid anu aya dina pago. Geber... Geber, cai nu panas digeberan, sangkan buru-buru bisa diinum.

"Sada aya Deuis, Mbu..."

Suanten Abah nyaketantan ruang makan.

"Baaaah..." kuring neundeun hihid. Terus muru Abah.

Celengok, panangan Abah dicelengok. Tuluy nangkeup nyaah.

"Ti jam sabaraha, Deuis ka dieu?"

"Aya satengah jam, kitu... Bah."

"Kumaha calageur nu di kota?"

Kuring teu langsung ngajawab.

 

***

Kamis, 10 Juni 2021

KABELEJOG ASIH - Bagèan 16

Yasana Queen Erni 

16

Karasa awak aya nu mayang. Kapaèhan sih henteu, soalna masih kadéngé kénéh jelema ting haréwos. Kadéngé kénéh aya sora ibu-ibu anu semu mangkeuheulkeun. Kuring disarékeun na korsi sofa, nu aya di toko emas Sagara. Masih kénéh lenglengan. Aya sora lalaki anu ménta minyak kayu putih. Tuluy aya sora anu hideng pangampihankeun tas.

Sirah asa pinuh ku cika-cika, beurat, oge panon asa digantungan barbel. Lalaunan kaang-seu minyak kayu putih. Téténjoan mimiti ray béngras. Lalaunan katempo loba jelema anu ngarogrog. Cipanon karasa haneut, ngeyembeng na kongkolak panon. Lalaki anu gigireun, nyusu-tan cipanon. Sigana anu milu mayang. Dada kuring mimiti naék turun, émosi mimiti kapan-cing deui, ari ras inget kajadian. Sirah karasa aya anu mencétan.

"Buuu... Tos émut...?" Ibu-ibu anu men-cétan sirah, nanya lalaunan.

Kuring ukur unggeuk saeutik. Lalaki anu tadi inisiatip mayang, menerkeun posisi kuring sina rada diuk. Awak pasiksak. Areungap ongkoh, dirogrog ongkoh. Si Enci nu boga toko, nitah méré nginum ka nu ngarogrog. Song gelas palas-tik warna bodas, diasongkeun ka kuring. Kuring narima, bari leungeun ngadégdég, leuleus ku itu ku ieu. Raramo karasa rada haneut. Haneut nu na gelas palastik, pindah kana dampal. Regot cai haneut ngabaseuhan tikoro nu garing, tangtu milu nalangsa. Saeutik-saeutik nungarogrog ngurangan. Hawa karasa leuwih ngeunah, teu areungap teuing kawas tadi.

"Ibu nganggé angkot, atanapi mobil?" ceuk ibu-ibu.

"Motor, Bu." tèmbal kuring, curuk nun-juk motor nu diparkir peuntaseun toko. Kabéh nuturkeun curuk kuring.

"Duh, pami ibu keresa mah, teu sawios dijajap ku abdi, hawatos." sora lalaki nawaran mani simpati.

Aya benerna ogé. Kuring moal maksa-keun balik sorangan. Kajeun muruhan. Asa teu walakaya, mun kudu mawa motor dina kaayaan kieu mah. Bener-bener teu sanggup. Duh, sok komo mun inget kana ucapan Si Papah, sangkan kuring balik ka ambu.

Ya Allah.... Ambuuuuu, hapunten Deuis, kieu geuning gaduh anak tèèèh. Batin ceurik maratan langit, ngocéak maratan jagat. Sok emut ka ambu, anu sok nyebut Deuis ka kuring, padahal manéhna masihan jenengan kuring teh, Sofia. Saking ku nyaahna. Deuis téh geulis, cenah.

Duh, kabayang mun Ambu apal carita kahirupan kuring kieu. Curucud cipanon teu bisa kabendung. Rumasa, ari keur kieu, karasa pisan hirup lamokot dosa, ka nu jadi kolot. Boraah ngabagjakeun, kadua mulang tarima, geuning kalahka milu nganyenyeri haténa. Duh Pangéran, hapunten abdi. Kabayang raray Ambu jeung Abah anu geus kawilang kolot. Duanana éta nu matak kuring sumanget hirup. Da sidik teu boga turunan. Kabayang rajétna haté kolot. Sok komo kuring anak samata wayang. Nu bener-bener ditanggeuy asa ka nu endog beubeureumna. Kuring ngagukguk.

"Bu... Sing sabar... Bilih badé ka bumi abdi heula atuh." ibu ibu anu simpati kana kajadian kuring, ngabuyarkeun lamunan kuring.

Song ngasongkeun tisu.

Kuring langsung narima tisu. Cipanon disusutan, sangkan ulah ngaburubut teuing.

"Hatur nuhun kana kasaéan ibu, Bu..." sora kuring ngageter... Rongkah, pinuh ku rasa sedih.

Haté masih bimbang, antara balik heula ka imah, atawa langsung ka Ambu. Duh, éta Si Papah mani béntés pisan nitah balik ka Ambu téh. Siga cai ngagolontor. Teu pisan-pisan ngaragap rarasaan pamajikan. Bener-bener éta awéwé geus moékkeun alam pikiran Si Papah.

"Ibu uihna ka palih mana?" tanya tukang roko, bari ngajaga kios leutikna, nu némpél ka tukang emas.

Kuring nyebutkeun alamat kolot. Enya, haté geus paheut, rék langsung wé ka bumi Ambu. Urusan geus di ditu mah, kumaha engké wé. Sirah masih beurat, ngan awak teu pati ripuh teuing. Tapi kuring rék maksakeun balik ka imah. Sakumna nu aya di dinya, mimiti balubar saeutik saeutik. Tinggal 4 urang nu masih di gigireun. Lalaki anu milu mayang, ibu-ibu anu nawaran balik ka imahna, jeung bapa-bapa nu boga kios roko leutik. Si Enci wé.

"Hayu atuh, bilih bade uih ka bumi abdi," ibu-ibu anu maké tiung kekembangan, bangun melangeun.

Ari keur kieu, mani asa boga lanceuk. Duh Pangéran, karaos pisan, barélana. Padahal warawuh gé henteu. Meureun ieu anu disebut pepelakan mah kumaha urang. Urang melak kahadéan, geus tangtu ayeuna, isuk apa jaga gé, bakal kahadéan deui anu bakal kuurang ditarima. Eta mah geus rumus ti dituna. Tinggal sabarna.

"Abdi badé ka bumi Ambu." Lalaunan némbal teh, bari menerkeun posisi diuk.

"Muhun wios atuh ku Akang dijajapkeun dugi ka bumi, pami kitu mah," ceuk ibu-ibu éta deui.

Si lalaki unggeuk. Ikhlas bangunna mah. Saméméh nganuhunkeun, kuring ménta nomer telepon ibu Mimin, kitu ngaran ibu-ibu nu nulungan téh. Rèk dijadikeun dulur pakukumaha. Teu poho kuring nganuhunkeun ka si Enci. Cuék-cuék gé, geus méré tempat, masing saayana gé. Si Enci ukur mangkahadékeun, sangkan kuring sing ati-ati di jalan.

Kuring ditungtun Bu Mimin jeung Kang Rusman. Konci motor dibikeun ka Kang Rusman. Geus merenah diuk na motor, kuring jeung Kang Rusman ngageuleuyeung, bari dituturkeun ku teuteupna Bu Mimin. Kang Rusman tipeu lalaki anu talatén. Motor dibawa lalaunan, teu rurusuhan. Apik milihan jalan. Sajajalan teu pati loba anu diomongkeun. Sigana ngartieun, kuring moal pati ngeunaheun mun loba ditanya. Tapi ari teu ngobrol pisan, asa éra. Piraku teu nanya eutik- eutik acan. Basa-basi.

"Abdi tos 4 taun Bu, janten tukang par-kir payuneun toko emas éta téh." pokna, basa kukuring ditanya tiiraha gawé di dinya.

"Oh, muhun... Kapungkur mah, aya bapa- bapa anu suwing, anu sok markiran di dinya téh, nya Kang..." Ceuk kuring bari mukakeun kaca hélm. Eungap.

"Sumuhun, Mang Péndi. Ayeuna mah parantos almarhum."

"Innalillahi... Kutaaan, pantesan atuh."

"Muhun, pupus, teu damang asam urat saurna téh, Bu."

Kuring unggeuk, teu sadar yén Kang Rustam moal ningali kuring anu keur unggeuk.

 

***