SITUSENI: Menghidupkan Ruh Puisi
Tampilkan postingan dengan label Menghidupkan Ruh Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menghidupkan Ruh Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Mei 2021

METAFORA

 2. Metafora

Majas metafora adalah perbandingan yang dilakukan secara analogis. Penggunaan kata atau kelompok kata, tidak dimaksudkan sebagaimana maksud aslinya. Metafora sering kali terbalik-balik denan idiom, disebabkan keduanya sama-sama menggunakan kelompol kata, yang maksudnya tidak sama persis dengan kata yang dikelompokkannya itu. Pembe-danya adalah, makna yang dilahirkan idiom, nyaris tidak berkaitan dengan kata-kata yang dijadikan idiom, sedangkan makna yang ditimbulkan oleh metafora, masih ada kaitan dengan kata-kata yang digunakan untuk menyusun metafora.


Contoh idiom: 

Kambing hitam, maksudnya adalah orang yang dikorbankan.

Tampak sekali, maksud ‘orang yang dikorbankan’, tidak berkaitan dengan makna kata kambing, mapun makna kata hitam.


Contoh metafora: 

Bunga desa, maksudnya adalah, perempuan paling cantik di sebuah desa.

Perempuan cantik itu, diumpamakan, atau diibaratkan dengan bunga yang memang indah, dan tampak cantik saat bunga itu mekar. Jadi kata ‘bunga’ dengan ‘cantik’ memiliki kedekatan makna.


3. Personifikasi

Majas personifikasi berusaha membandingkan benda-benda yang bukan manusia, namun diibaratkan bagai manusia. 


Contoh:

Tadi malam, langit menumpahkan hujan.

Pohon-pohon jatuh bergelimpangan.

Setelah gempa, kembang-kembang sekan tiarap. 


4. Alegori

Majas alegori hendak menyatakan sesuatu, namun disampaikan melalui penggambaran atau cerita yang lain, yang di dalamnya terdapat kesetaraan makna. Bisa juga dikatakan, alegori adalah majas perbandingan yang menautkan sesuatu terhap yang lainnya, guna mendapatkan gambaran yang lebih hidup.


Majas Alegori banyak digunakan oleh para penyair, untuk meningkatkan nilai imaji. Seperti dipaparkan pada sub-imajinsi di bagian atas, saya tegaskan, kehadiran imajinasi dalam puisi, menempati posisi yang amat penting, karena tanpa imajinasi, sebuah puisi akan sulit dihayati emosinya. Beberapa penyair sering memanfaatkan majas alegori, untuk memainkan imajinasi. Penyair senior paling kental dengan majas alegori, adalah penyair Sapardi Djoko Damono dan Acep Zamzam Noor.


Contoh pemanfaatan Majas Alegori dalam puisi.


Sapardi Djoko Damono


AKU INGIN


aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu


aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


5. Simile

Majas simile hampir serupa dengan majas perumpama-an, karena sama-sama menggunakan kata tugas umpama, seperti, bagaikan, dll. Bedanya, perbandingan dalam simile, dilakukan secara eksplisit.


Contoh:

Jika kau hendak menjadi perahu, aku akan menjadi angin yang siap menebak layarmu agar melaju cepat.


6. Simbolik

Simbolik adalah majas yang melukiskan sesuatu atau objek, dengan menggunakan benda-benda, binatang, tumbuhan, simbol, atau lambang-lambang. 


Contoh:

Dialah melati, yang mengharumkan kehidupanku.

Percuma memberikan kepercayaan kepada bunglon.


7. Metonimia

Metonimia adalah majas yang menggunakan ciri, merk, atribut, atau ciri khas sebuah produk, guna menggantikan benda yang dimaksud.


Contoh:

Belikan ayah Aqua.

Penjelasan: Penyebutan merk Aqua, adalah guna meng-gantikan minuman kemasan dalam botol atau galon. Sebenar-nya minuman mineral kemasan dalam botol, bukan hanya ber-merk Aqua. Namun karena Aqua sebagai perintis dalam usaha minuman air kemasan di tanah air, jadilah merk tersebut selalu disebut sebagai simbol untuk mempermudah menyebut air minuman kemasan.


Contoh lainnya, adalah menyebutkan merk rokok untuk mengganti benda bernama rokok itu sendiri. Menyebutkan merk Honda untuk seluruh sepeda motor roda dua yang tidak menggunakan kopling, dan masih banyak lagi contohnya.

8. Sinekdoke

Sinekdoke adalah majas yang menyebutkan sebagian atau bagian untuk menyatakan keseluruhan, atau sebaliknya. Majas sinekdok di bagi menjadi dua jenis.


a. Pars pro toto, yang menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.

Contoh:

Tolong bawakan baju cadangan untuk saya. (menyebut kata baju, padahal maksudnya seluruh pakaian, termasuk celana, kaos kaki, dll.).

Ada 17 ekor yang disembelih pada Qurban tahun lalu.


b. Totem pro parto, yang menyebutkan keseluruhan untuk menyatakan sebagian.


Contoh:

Final sepakbola, akan berhadapan Desa Sukaasih lawan Desa Karihkil (Satu desa disebut, padahal yang dimaksud hanya satu tim sepakbola saja).

Kopi yang ini rasanya tidak enak (seakan seluruh kopi tidak enak, tapi maksudnya, hanya merk kopi yang diminum).



2.b. Majas Pertentangan


Majas pertentangan adalah gaya bahasa yang ditulis dengan maksud menyatakan pertentangan makna, dari apa yang disampaikan si penulis atau si pembicara, dengan tujuan untuk melahirkan kesan dan pengaruh yang lebih kuat, kepada pembaca atau pendengar.


Jenis-jenis majas yang masuk ke dalam katefoti pertentangan.


1. Antitesis

Antitesis ditulis dengan menggunakangan pasangan kata yang berlawanan artinya, namun dituliskan bergandengan atau berdekatan.


Contoh:

- Di jaman sekarang, laki-laki dan perempuan punya hak yang sama dalam mengenyam pendidikan.

- Siang malam ia terus membanting tulang.


2. Paradoks

Majas yang mengandung pertentangan, antara pernyataan yang disampaikan, dengan fakta yang sebenarnya.


Contoh:

- Bagi-mu yang dihardik kesepian di tengah keramaian, bertamulah ke ruang batinku.

- Ada yang didera kelaparan saat dihelat pesta pora.


3. Hiperbola

Hiperbola adalah majas yang hendak menyatakan makna berlebihan dari kenyataan yang sebenarnya, tentu guna mela-hirkan kesan mendalam dan meminta perhatian lebih. Hiper-bola termasuk majas yang banyak digunakan oleh penyair.


Contoh:

- Suara penyair itu menggeram seperti singa, saat ia membacakan puisinya yang bernada protes.

- Tujuh benua, tujuh samudra, dan tujuh lapis langit, telah kujelajahi.


4. Litotes

Litotes adalah majas pernyataan yangg memperkecil sesuatu atau melemahkan, namun dinyatakan melalui kebalikannya, dengan tujuan untuk merendah. 


Contoh:

- Saya hanya orang udik yang jauh dari pendidikan. 

- Mampirlah ke gubuk kami, semoga berkenan.


Eufemisme



2.c. Majas Penegasan


Majas penegasan dibuat untuk menyatakan penegasan, guna meningkatkan kesan atau impresi, sertapa pengaruhnya terhadap pembaca atau pendengar. Setidaknya ada tujug majas yang masuk ke dalam kategori Majas Penegasan, seperti dirinci di bawah.


1. Pleonasme

Pleonasme adalah majas penegasan dengan menggunakan kata-kata yang sudah cukup jelas. Tanpa penegasan pun, arti yang dimaksud sudah dapat dipahami, milsanya pada frase ‘turun ke bawah.’ Sudah pasti bahwa yang namanya turun, pasti ke bawah. 

Contoh:

- Pencuri masuk ke dalam rumah, ketika si pemilik rumah sudah menutupkan kelopak matanya.

- Mereka membungkukkan badannya hingga ke bawah.


2. Repetisi

Repitisi adalah majalah pengulangan kata atau kelompok kata, guna melahirkan penegasan, bahwa betapa penting apa yang dituliskan, atau apa yang diucapkan. Majas ini cukup sering digunakan oleh para penyair, baik pengulangan di awal, di tengah, atau di akhir larik.


Contoh:

- Aku marah. Namun dari langit, kudengar suara: sabar, sabar, sabar!

- Mari kita satukan jarak dan waktu, kita satukan jiwa dan batin, dalam panji yang sama.


3. Paralelisme 

Paralelisme dengan repetisi hampir serupa. Keduanya sama-sama melakukan pengulangan. Dalam Repetisi, pengu-langan dilakukan pada kata atau kelompok kata, sedangkan dalam paralelisme, pengulangan terjadi pada sebuah konsep atau pengertian. Paralelisme juga sering muncul dalam puisi.


Contoh:  

Cinta bermula dari rasa suka.

Cinta adalah perasaan ingin memiliki yang disukai.

Cinta yang tulus, tidak akan mengekang.


4. Pertautan

Pertautan adalah majas penegasan dengan mengulang beberapa kata yang dalam sebuah kalimat, atau kata-katanya berbeda, namun memiliki kedekatan makna atau bersinonim. 


Contoh:

- Tidak, tidak, sungguh tidak terlintas dalam pikiranku untuk melakukan perbuatan sekeji itu.

- Mari kita hargai hasil kesepakatan, rembugan, dan rapat yang sudah kita lakukan.


5. Klimaks

Klimaks adalah majas penegasan dengan menyebutkan rentetan kata, yang terus meningkat baik secara kuantitas, maupun kualitasnya.


Contoh:

- Aku, kami, dan kita semua yang ada di sini, akan mendapatkan bagiannya masing-masing.

- Acara itu dihadiri oleh para Ketua RT, RW, Lurah, Camat, hingga Walikota.


6. Anti klimaks

Anti klimaks adalah kebalikan dari klimaks, merentetkan kata dari yang tertinggi atau terbesar kualitasnya, menurun ke tingkat yang lebih rendah atau kecil.


Contoh: 

- Baik Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah, hanya punya satu suara dalam pemilu.

- Profesor, doktor, magister, sarjana sebaiknya ikut dalam ikatan alumni di masing-masing kampusnya.


7. Rerotik

Retorik adalah majas yang dibuat dengan menggunakan kalimat tanya, namun tak memerlukan jawaban, sebab jawabannya memang sudah pasti. Retorik banyak digunakan oleh penyair, untuk memperkuat daya gugah puisinya.


Contoh:

- Bukankah negara Republik itu artinya kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat?

- Manusia mana yang tidak akan mati?


2.d. Majas Sindiran

Majas sindiran banyak digunakan oleh berbagai kalangan, termasuk para penyair, juga banyak dimuat dalam berbagai karya seni, seperti wayang, pantun, gurindam, pidato para ustad atau tokoh-tokoh lainnya. Sindiran disampaikan, supaya teguran yang ingin disampaikan, terasa lebih halus, dan diharapkan tidak menyinggung perasaan yang disindir, serta tidak terlalu menyudutkan, bila sindiran itu bermaksud menge-ritik atau mengoreksi pihak lain.


Majas-majas yang masuk ke dalam rumpun sindiran, antara lain di paparkan di bawah ini.


1. Ironi

Ironi adalah majas untuk menyindir sesuatu atau pihak tertentu, yang disampaikan dengan cata menuliskan kata atau mengucapkan kalimat yang berseberangan maknanya, atau menjadi kebalikannya.


Contoh:

Demi gedung-gedung yang berebut mencakari langit, demi demonstran dan aparat yang berjabat hati dengan peluru, aku mencintaimu, tapi ternyata hanya mencintai tanah air yang dijajah para pencoleng.


2. Sinisme

Sinisme adalah majas yang disampaikan dengan bahasa yang ketus, dengan mempertegas ketidaksukaan terhadap pihak yang hendak dikritik. Para penyair yang mengangkat tema kritik sosial, sering menggunakan majas sinisme.


Contoh: 

Diambil dari puisi Widji Thukul, yang sarat dengan sinisme.


Puisi Menolak Patuh


walau penguasa menyatakan keadaan darurat

dan memberlakukan jam malam

kegembiraanku tak akan berubah

seperti kupu-kupu

sayapnya tetap indah


meski air kali keruh

pertarungan para jendral

tak ada sangkut pautnya

dengan kebahagiaanku

seperti cuaca yang kacau

hujan angin kencang serta terik panas

tidak akan mempersempit atau memperluas langit

lapar tetap lapar


tentara di jalan-jalan raya

pidato kenegaraan atau siaran pemerintah

tentang kenaikkan pendapatan rakyat

tidak akan mengubah lapar

dan terbitnya kata-kata dalam diriku

tak bisa dicegah


bagaimana kau akan membungkamku?

penjara sekalipun

tak bakal mampu

mendidikku jadi patuh


17 januari 97


3. Sarkasme

Sarkasme adalah sindiran yang paling keras, dan sudah mendekati cacian. Majas ini biasanya diekspresikan oleh orang yang sedang dirasuki kemarahan.


Contoh:

pulanglah nang

jangan dolanan sama si kuncung

si kuncung memang nakal

nanti bajumu kotor lagi

disirami air selokan


Penggalan dari puisi berjudul Pulanglah Nang, karya Widji Thukul

Demikianlah uraian mengenai majas atau gayabahasa, yang merupakan salah satu unsur pembentuk Raga Puisi.

MAJAS DALAM PUISI (Bab II Raga Puisi)

*C.2 Majas*

Seperti daun-daun yang luruh, ranting-ranting
Yang lepas oleh angin. Demikianlah kutempatkan diriku
Asing dan sepi di antara tembok-tembok tua

Ada yang menjapri saya, mengatakan tak menyukai puisi. Namun, saat membaca penggalan puisi di atas, yang saya kirim ke sebuah grup WA, dia bilang, puisi itu menyentuh hati. “Bisakah mengirimi saya yang lengkapnya?”
Penggalan puisi di atas, merupakan karya Acep Zamzam Noor, yang berjudul ‘Senza Titolo’, dimuatkan dalam antologi “Di Atas Umbria”.

Kenapa penggalan puisi di atas bisa menyentuh hati orang yang semula tidak suka puisi? Karena penggalan puisi itu, berhasil menggambarkan perasaan terasing dan kesepian yang dialami si penyair, yang bisa jadi, pernah dialami pula oleh si pembaca yang menjapri saya.

Perasaan terasing dan kesepian itu, digambarkan oleh si penyair melalui perumpamaan, yang menyamakan antara kesepian si penyair, dengan suasana alam yang sepi, yang dideskripsikan melalui ‘duan-daun yang luruh, ranting-ranting yang lepas oleh angin.’

Saya sendiri, ketika membaca penggalan puisi tersebut, menangkap suasana alam yang lebih dari sunyi, tapi terasa mencekam akibat angin puting beliung, atau bencana alam lainnya, yang membuat daun-daun dan reranting berjatuhan. Beberapa video tentang suasana alam yang mencekam itu, belakangan ini sering ditayangkan lewat youtube, atau sarana sosmed lainnya. Penggalan puisi di atas, berhasil memotret suasana alam yang murung lewat kata-kata, berkat adanya majas yang berhasil dihadirkan oleh si penyair.

Salah satu fungsi majas, adalah untuk memperkaya imajinasi dalam karya tulis, selain tentu untuk memperindah kalimat-kalimat itu sendiri. Secara definitif, majas atau gaya bahasa --dalam bahasa Inggris disebut figurative language--, adalah bahasa yang digaya-gayakan, supaya lebih indah, dengan tujuan akhir, untuk memperoleh efek atau impresi imajinatif, dan apresiator memperoleh gambaran yang lebih kongkret, akan sesuatu yang sedang dimajaskan itu.

Istilah majas, terkadang disebut dengan perumpamaan, atau permisalan, atau kiasan, disebabkan kebanyakan majas, berfungsi untuk membandingkan dua hal yang beda, supaya memiliki kemiripan, atau mengumpamakan sesuatu, terhadap yang lainnya. Pada beberapa kamus online, salah satu sinonim untuk majas pun, menyebutnya dengan ‘perumpamaan’.

Majas itu banyak jenisnya. Prof. Henry Guntur Tarigan, dalam buku tentang Gaya Bahasa, merinci jenis majas, ternyata lebih dari 100 jenis. Selama ini, yang diajarkan di sekolah, jumlahnya sekisaran 40-an jenis. Dalam buku ini, tidak akan dibahas semua jenis permajasan. Pembahasan akan lebih detail pada beberapa majas, yang sering digunakan para penyair, dalam puisi-puisinya.

Meskipun jumlah majas itu banyak, namun para pakar terdahulu, sepertin JS Badudu, telah mengklasifikasikan majas ke dalam sifat dan fungsinya, yang mencakup empat kategori, yaitu: majas perbandingan, pertentangan,  pertautan, dan perulangan.

Secara garis besar, para pakar cenderung membedakan majas ke dalam empat golongan atau kelompok, di mana tiap-tiap kelompok, memiliki bagian-bagian atau anggotanya lagi.

Empat kelompok itu antara lain:
1. Majas Perbandingan
2. Majas Pertentangan
3. Majas Sindiran
4. Majas Perulangan

2.a. Majas Perbandingan

Majas perbandingan, adalah kata-kata yang disusun dengan maksud untuk menyatakan perbandingan, antara satu atau sesuatu terhadap yang lainnya. Dengan perbandingan tersebut, diharapkan terbentuk gambaran yang lebih jelas dan utuh, mengenai satu atau sesuatu yang dibandingkannya itu. Dilihat dari sifatnya, majas-majas yang masuk ke dalam kategori Perbandingan, adalah:

1. Perumpamaan
Majas perumpamaan, sering juga disebut dengan majas permisalan (amsal), yaitu majas yang membandingkan dua hal, yang secara hakikat adalah berbeda, namun coba dibandingkan, guna mendapatkan deskripsi yang lebih jelas. Majas perumpamaan, biasanya ditandai dengan penggunaan kata tugas: seperti, laksana, bagai, bagaikan, sebagaimana, bak, umpama, seumpama, dll.

Contoh:
Kelakuannya, bagaikan air di daun keladi.
Seperti setrika di rumah laundry, begitulah ia mondar-mandir di sekitaran sini. (Bersambung)

Minggu, 16 Mei 2021

Supaya Puisi Dimuat di Koran

Oleh: Doddi Ahmad Fauji


Sampul buku Menghidupkan Ruh Puisi, mulai Cetakan Kedua

Karya kreatif saya, terutama puisi, diasuh dan dibesarkan oleh tradisi sastra koran. Sejak tahun 1990, saya belajar menulis dan mengirimkannya ke berbagai koran. Tahun 1991, tulisan saya untuk pertama kalinya dimuat di koran lokal kelas kelima, alias korang kuning. Saya tidak ingin menyebut nama korannya, meskipun koran tersebut telah mati, alias tidak terbit lagi. Lalu, saya lupa bulannya, pada tahun 1992, untuk kali pertama puisi saya dimuat di koran Bandung Pos (juga telah mati). Saat itu, Redaktur yang menggawangi rubrik sastra adalah Bpk. Suyatna Anirun, seorang seniman teater yang cukup berpengaruh di Indonesia. Ia bersama Jim Lim, mendirikan Studiklub Teater Bandung. Ia beragama Nasrani. 

Namun justru ia memuatkan puisi saya yang berjudul 'Tahajud'. Ini menjadi pembenaran, bahwa karya seni, dalam hal ini puisi, memiliki nilai universal. 

Sejak dimuatkan puisi di Bandung Pos itu, saya semakin bersemangat untuk menulis puisi, dan juga tulisan lainnya. Butuh setahun saya berlatih, agar tulisan saya bisa dimuatkan di media massa, terutama koran.

Setelah dimuat di Bandung Pos, puisi saya kemudian dimuat di koran-koran lain, di antaranya di Pikrian Rakyat, Tabloid Mitra Desa (sudah mati), HU Pelita, Suara Karya Minggu, Singgalang, Swadeshi, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, dan saya lupa di koran mana lagi. Sebelum tahun 2000, Koran Kompas yang berwibawa, tidak membuka rubrik Puisi, sedangkan Koran Tempo baru terbit perdana pada 2001. Koran nasional paling berwibawa untuk rubrik puisi kala itu, adalah Media Indonesia dan Republika. Sebelum tahun 2.000, puisi saya berhasil menembus Republika dan Media Indonesia.

Pada tahun 2.001, pengamat sastra Korrie Layun Rampan menerbitkan buku berjudul Angkatan 2000 dalam Karya Sastra. Puisi saya tampil dalam buku tersebut, bersama 74 penulis karya sastra lainnya. 

Sejak saya bekerja di Koran Media Indonesia pada 2 Desember 1998, saya sudah jarang mengirimkan lagi puisi ke berbagai koran. Pernah sekali dua kali, dan di antaranya dimuatkan di Majalah Horison, majalah sastra paling berwibawa dan serius, serta di Koran Suara Merdeka terbitan Semarang.

Beberapa langkah yang saya tempuh agar puisi saya dimuat di koran, pada awal saya belajar, adalah seperti ini:

1. Saya sering membaca puisi-puisi yang dimuatkan di berbagai koran, dan umumnya terbit di hari Minggu. Dari puisi para penyair senior yang dimuatkan di media massa itu, saya mempelajari puisi-puisi mereka, kemudian meniru dalam hal tema dan gaya. Ingat, meniru dengan menjiplak adalah berbeda, sudah sejak dari niat. Menjiplak adalah kejahatan. Meniru adalah salah satu metode untuk mengawali langkah menuju tujuan. Tentu hasil tiruan dengan aslinya, akan dan harus berbeda. Yang ditiru adalah gaya atau tema, atau bagaimana cara penyair senior membuat gaya, stilistika, dan memberi ruh pada tulisannya.

2. Menulis puisi sebanyak-banyaknya, karena saya masih muda dan pemula, dan mengirimkan karya puisi juga ke sebanyak-banyaknyak media massa. Terkadang saya memfotokopy hasil printing yang saya kerjakan di kantor Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (kala itu namanya IKIP Bandung). Hasil fotokopi yang cukup bagus, saya kirim ke beberapa koran sekaligus. Terkadang ada satu atau dua judul puisi yang dimuat di beberaoa koran. Dari puisi yang dimuat di beberapa koran itu, saya menjadi lebih tahu selera para redaktur, serta bisa menarik asumsi, puisi-puisi yang dimuat di banyak koran itulah yang disebut dengan puisi bagus.

3. Jangan bosan dan mudah menyerah dengan tidak dimuat di koran. Mungkin belum. Langkah terbaik adalah terus membaca karya orang lain yang dianggap bagus. Para penulis pemula sekarang ini, lebih banyak menulisnya ketimbang membaca karya orang lain, sehingga mereka kekurangan referensi dan pemerkayaan ingatan.

4. Selalu membuka kamus untuk mencari sinonim dan kosakata baru, adalah mutlak bagi penulis, sebab seorang penulis harus memiliki perbendaharaan kata yang luas dan banyak. Di era online ini, sungguh tidak sulit membuka kamus, dan amat mudah. Hal ini masih saya lakukan sampai sekarang.

Demikian trik yang saya lakukan pada tahap awal ketika saya sangat meninginkan tulisan saya, terutama puisi, dapat dimuat di koran.

Salam
Daf


Jumat, 12 Juni 2020

MENGHIDUPKAN RUH PUISI (Pengantar)


Cover Cetakan Kedua


MENGHIDUPKAN RUH PUISI 

-- Seluk Beluk & Petunjuk Menulis Puisi untuk Pemula --

Semoga buku ini benar-benar bermanfaat

dan dapat menambah referensi
untuk proses kreatif menulis puisi.
 
SEDEKAH PENGALAMAN
 
Aku Cinta Pada-mu (1)
 
Bagi-mu yang menyimpan hamparan laut
Sebuah perahu akan berlabuh
Mengantarkan salam dan kasihku
Sebatang sungai akan mengalirkan
Kerinduan dan peluk-ciumku
 
Bagi-mu yang terlunta-lunta di belantara kota
Yang didera kelaparan di tengah pesta pora
Yang dihardik kesepian di tengah keramaian
Bertandanglah ke ruang batinku
Akan kuhibur kau dengan selarik puisi:
Aku cinta pada-mu!
 
Bandung, 1995 - 2017

Puisi tersebut, ditulis sejak tahun 1995, dan berkali-kali direvisi, dan terakhir perevisian berlangsung pada 2017. Inilah puisi yang pernah dimuat di beberapa media massa, baik surat kabar maupun majalah. Ada sekira tiga judul puisi yang saya tulis, dimuatkan di beberapa koran, termasuk di Majalah Sastra Horison, ketika Sutardji Calzoum Bachri masih menjadi salah seorang Redaktur di sana.

Dengan dimuatkan di beberapa koran, untuk satu judul puisi yang sama, berarti telah dinyatakan ‘lolos’ oleh beberapa redaktur sastra, yang menjadi penjaga gawang estetika puisi di sana, dan dari situ, saya menarik kesimpulan, jadi puisi seperti itu yang dinilai bagus. Penilaian bagus menurut beberapa redaktur sastra itu, yang membuat saya merumuskan pola dalam menulis puisi. Dengan pola itu, puisi-puisi makin banyak yang dimuat di koran, membuat saya ikut dicatat sebagi Angkatan 2000 dalam karya Sastra, oleh pengamat Korrie Layun Ramoan. Nah, pola itulah yang saya bukukan di sini.

Buku ini, coba membahas perpuisian, dari mulai istilah, definisi, jenis, rancang bangun, pemaknaan, jiwa dan raganya, hingga petunjuk-petunjuk praktis untuk menulis puisi. Supaya penjelasannya lebih terarah, di beberapa bagian, saya sisipkan puisi yang sesuai dengan pembahasan.

Buku ini juga dilengkapi oleh komentar, atau analisis terhadap puisi, serta ada puisi-puisi yang saya edit, supaya tujuan atau maksud puisi yang diedit itu, makin jelas arahnya.

Paparan di dalam buku ini, bukan untuk pamer keahlian, dalam mengutip pendapat para pakar. Bukan saya tak percaya kepada pakar, namun saya ingin menghargai peribahasa Mela-yu yang mengatakan, ‘pengalaman adalah guru yang terbaik’.

Jadi, isi buku ini, berasal dari pengalaman saya dalam membaca dan memahami puisi orang lain, serta pengalaman saya dalam menulis puisi. Sederhananya, buku ini adalah cara saya bersedekah, yaitu ‘Sedekah Pengalaman’.

Bagi para penulis puisi yang telah mahir, bolehlah kita berbeda pengalaman, namun tetap saling menghormati. Jika membaca buku ini, ternyata beda pendapat, beda jalan yang pernah ditempuh, segera kasih tahu saya.

Sedangkan kepada para senior, tiada kata yang paling ingin kuucapkan, selain kata ‘Terimakasih’ engkau telah hadir duluan, melangkah duluan, hingga saya dapat berjalan dengan mengikuti jejak langkahmu. Semoga jadi kebaikan bagi semua.

Semoga takaran dalam buku ini, dapat diterima dengan selera yang pas!

Bandung, 2019

Doddi Ahmad Fauji