SITUSENI: Benny Benke
Tampilkan postingan dengan label Benny Benke. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Benny Benke. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Juni 2021

METRO MOSKWA - Puisi Benny Benke

Kau boleh membenci Moskwa kerana puluhan alasan. Mungkin macetnya tak ketulungan. Serta satu dua preman kelas kampungan yang gemar merisak persona kulit berwarna. Juga dingin yang menikam hingga dasar tulang.

Tapi ada berbilang-bilang alasan menemukan keindahan di praja tua ini. 

Masuklah ke dalam tanah terdalam, pakansi ke sistem transportasinya. Tempat Metro Moskwa berada. Seketika itu pula, terperangah kau dibuatnya.

Di sini, maha karya seni menemukan rumahnya. Menyempurna, menabalkan citarasa adi luhung kejayaan seni era Soviet lama.

Bukan semata marmer yang mengilap, patung yang agung, mosaik yang asyik, kaca patri yang setiti, lampu gantung yang kirana, relief dasar yang luar biasa, warna warni yang memanjakan mata, dan detail bahari lainnya.

Bahkan simbol Soviet baheula, dengan palu aritnya, malih rupa memesona. Jauh dari kesan angkernya. Membangun sebuah arsitektur puncak tiada sanding, tiada banding.

Ketuklah pintu Park Pobedy di distrik Dorogomilovo, lalu pilih jalur Arbatsko–Pokrovskaya, maka lekas dan pasti kau akan sampai jantung kota di Moskwa. Melewati puluhan stasiun dengan ornamen super memesona.

Lalu mengacaklah. Seperti para tualang, melunaskan kengawurannya, memilih rute mana saja. Ke manapun, asal tidak berpikir pulang.

Sejumlah kawan berpesan, naik saja jalur Sokolnicheskaya, yang mengada sejak 1935. Kawan lainnya menjaminkan tiada keelokan mengalahkan jalur Koltsevaya. Kompatirot sebelahnya berkata, Komsomolskaya, Krasnye vorota, dan Kropotkinskaya, adalah jalur juara. Saking berestetikanya.

Sampai-sampai kita berkata, ini metro atau museum. Metro atau ballrooms. Metro apa galeri seni rupa. Metro apa istana. Kerana saking mahardikanya.

Membuat kita enggan meninggalkannya. Ingin berlama-lama di rumah Metro Moskwa yang raharja.

KRASNAYA PLOSCHAD - Puisi Benny Benke

Ivan Yang Agung pasti tidak pernah menyangka. Lapangan Merah telah malih rupa sedemikian bercahaya.

Meski pada mulanya serupa daerah kumuh, tempat petani papa dan penjahat teri berumah di sana.

Sebelum akhirnya menyempurna. Dengan kehadiran St. Basil’s Katedral, menyusul kemudian the State Historical Museum dan GUM Department Store di belakangnya.

Memperkaya Istana Kremlin Agung di punggung bukit Borovitsky, mausoleum pemimpin revolusi Vladimir Lenin, terpacak digdaya.

Hingga akhirnya ribuan, mungkin jutaan tentara telah berparade dengan gagah dan megah di pelataran dan halaman Krasnaya Ploschad.

Seperti hendak mengabarkan kepada dunia; Kami terlalu perkasa untuk dirubuhkan sebagai negara.

Meski bayarannya, tak terkira. Di masa Ivan the Terrible dan Peter Agung, saja tak berbilang kepala lepas dari badannya. Jika Anda coba-coba memunggungi tahta.

Kini, kami tak lebih dari tempat pakansi yang penuh rona. Loka muda mudi bersua, bercengkrama tentang segala.

Asal jangan berpikir tentang politik dan negara. Kau akan baik-baik saja.


Diambil dari bakal antologi MENGHENINGKAN PUISI

INDONESIA RAYA DI TSARSKOYE SELO - Puisi Benny Benke


Romo Mudji termangu. Ngungun dan haru, saat Indonesia Raya kumandang di negeri tandang.

Di pelataran depan Tsarskoye Selo, sepelemparan waktu dari St. Petersburg, Romo trenyuh hatinya.

"Tak pernah aku seterharu ini, menyimak Indonesia Raya!"

Jarak memang mampu melempar melankoli manusia pada kampung halaman, yang selama ini jarang kita sadari.

Demikianlah Romo Mudji di Desa Para Tsar, desa para petinggi negeri dan bangsawan semasa kekaisaran Rusia berjaya, merehatkan penatnya. Tetirah menyerah pada suasana desa.

Di Tsarskoye Selo, Romo Mudji layaknya para nomenklatur, elite Soviet pada sebuah masa, berpasrah pada Indonesia Raya.

Yang dikumandangkan lima musisi tua dari negeri jauh, dengan sejumlah alat tiupnya.

Puisi ini diambil dari bakal antologi 
MENGHENINGKAN PUISI 
Puisi lainnya dapat disimak di situseni.my.id