SITUSENI: PENGANTAR BUKU
Tampilkan postingan dengan label PENGANTAR BUKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENGANTAR BUKU. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Mei 2021

PARENTESIS, Mengantarkan Buku Antologi Puisi Surat untuk Kekasih karya Edwar Maulana

Penerbitan antologi puisi karya Edwar Maulana ini merupakan upaya pendokumentasian karya kreatif yang amat penting sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya tugas pemerintah, tapi amanat bagi semua kalangan.

Kami meyakini karya kreatif bersumbangsih terhadap proses internalisasi berpikir para pembaca. Menjadi katalisator untuk membangkitkan daya sensitif saraf-saraf simpatik maupun para simpatik, sehingga kemuculan daya empati para pembaca memperoleh pupuk untuk tumbuh subur-gembur berkem-bang. Buahnya adalah sikap yang tolerans, moderat, menghar-gai perbedaan, dan demokratis.


Kami memandang tidak perlu mengulas sisi intrinsik maupun ekstrinsik puisi-puisi Edwar Maulana dan kepenyairannya. Biarlah pembaca menafsir sendiri, dan dengan demikian memperoleh medan yang lebih luas untuk mengeksplorasi daya resepsi dan daya imajinasinya. Pengantar intrinsik kerap-kali justru mengerangkeng kemahaluasan karya untuk ditafsir.

Akhirnya, kami ucapkan selamat membaca, mencari-cari, dan menikmati keindahan yang tertuang di dalamya.

Salam budaya,

Penerbit

Kamis, 20 Mei 2021

Rebecca Fanany, Ph.D. : Ritus Hujan - Metafora Khas Nusantara

 Ritus Hujan: Metafora Khas Nusantara


Mengantarkan buku antologi Ritus Hujan karya Heri Isnaini

Oleh Rebecca Fanany, Ph.D.

Sastra Indonesia berakar panjang dalam genre puisi. Sastra lama yang sebagian besarnya bersifat lisan termasuk puisi dalam berbagai bentuk berikut kerangka metafora khas Nusantara yang meng-gambarkan pengalaman masyarakatnya. Puisi dalam kumpulan Ritus Hujan oleh Heri Isnaini meneruskan tradisi ini lewat 106 buah karya yang sebagian besarnya ditulis pada tahun 2015. Puisi ini kaya akan metafora seperti puisi lama tapi dengan terampil menggunakan berbagai unsur baru yang mengungkap pengalaman modern Indonesia.

Berbeda pula dengan puisi lama, karya yang dikumpulkan dalam Ritus Hujan merupakan ungkapan free verse yang murni. Di mana puisi tradisional lebih terikat pada bentuk yang kaku dan teratur, karya dalam Ritus Hujan merupakan ungkapan bebas yang menye-rupai alur pikiran pengarang yang melayang ke mana-mana penuh perasaan dan makna.

Dalam hal ini, puisi dalam karya Heri Isnaini ini sangat menarik karena memberikan pandangan berbeda mengenai pengalaman hidup di Indonesia modern. Pilihan topik dan cara penyair menyajikannya, meng-gambarkan alam Nusantara yang mirip dengan puisi lama tapi memadukannya dengan berbagai unsur yang muncul dalam kehidupan sehari-hari di zaman ini. Karya seperti “Suasana Pagi,” “Kabut” dan beberapa puisi tentang hujan sangat sesuai dengan pandangan alam serta metafora konvensional yang menjadi bagian dari kerangka kognitif masyarakat Indonesia sejak dahulu kala. Karya lain dalam kumpulan Heri ini mengenai cinta, hubungan antar manusia serta reaksi terhadap dunia di sekitar pengarang yang menjadi inspirasinya dalam berkarya. Unsur tradisional ini becampur dengan unsur modern dalam bentuk yang sangat menarik dan memberikan gambaran baru tentang kehidupan di awal zaman ke-21.

Silakan menikmati puisi yang disajikan dalam Ritus Hujan. Maknanya dalam dan tidak akan menge-cewakan. Sebaliknya, banyak isinya yang kalau disimak akan menjadi bahan pemikiran yang sulit terlupakan. Sehingga Ritus Hujan pantas mendapat tempat dalam khazanah sastra Indonesia modern sebagai karya yang mampu menggambarkan kehidupan zaman kita dengan emosi yang mudah dikenal tapi sulit diungkapkan bagi kita yang bukan penyair.

 

 

Rebecca Fanany, Ph.D. lahir di New York pada 10 Februari 1963 tapi sudah lebih dari 20 tahun tinggal dan bekerja di Australia. Sekarang menjadi kepala program Bahasa di Deakin University di Melbourne dan sekaligus Direktur Diploma of Language. Di samping tugas administrasi, dia mengajarkan Bahasa dan kajian Indonesia serta membimbing mahasiswa tingkat Ph.D. Dia lebih 30 tahun menjadi penerjemah profesional dan sampai sekarang menjadi satu-satunya penerima grant dari National Endowment for the Humanties (pemerintah Amerika Serikat) untuk Bahasa Indonesia. Dia juga menjadi redaksi jurnal sastra internasional Aksara yang memuat karangan ilmiah tentang sastra ilmiah di samping terjemahan, esei dan karya sastra asli.

 

Minggu, 16 Mei 2021

AQUARINI MEMBACA KEDALAMAN HERI ISNAINI


Apa yang diharapkan dari membaca dan menulis puisi? Saya bukan seorang penulis puisi. Lebih dari itu, bagi saya puisi seringkali terasa agak berat dibaca meski ia relatif lebih pendek daripada prosa pada umumnya. Puisi berbicara dengan bahasa yang sangat hemat. Ia tidak merasa perlu untuk menjelaskan dengan panjang lebar.

Pendeknya, puisi menuntut pembaca untuk membaca di kedalaman. Jika membaca saja sering terasa berat, menganalisis puisi, apalagi memberikan kata pengantar seperti ini adalah suatu tantangan yang mungkin harus saya ambil untuk dapat merebut ruang untuk belajar membaca puisi. Untuk itu saya harus berterimakasih kepada penulis kumpulan puisi ini, Heri Isnaini, atas kesempatan membaca tulisannya ini. Juga kepada Ari J. Adipurwawidjana atas diskusinya. 

Membaca kumpulan puisi Heri, saya membaca seorang yang sedang mengeksplorasi cinta, memikir-kannya, menunggunya, menikmatinya, mempertanya-kannya, dan menerimanya. Cinta sepertinya energi yang menggerakkan Heri dalam eksplorasinya dengan puisi. Cinta kepada kekasihnya, cinta kepada Tuhan, cinta kepada hujan, cinta kepada cinta itu sendiri. Dan dari referensi yang sangat kental terhadap hujan dan cinta, kita tahu Heri juga pecinta Sapardi Djoko Damono. 

Sulit untuk tidak melihat Heri sebagai seorang penyair yang romantis. Pilihan katanya adalah kata-kata yang secara umum dimaknai atau dilekatkan dengan segala yang romantis. Kata “hujan” ditemukan empat puluh delapan kali di dalam keseluruhan kumpulan puisi. Kata “cinta” muncul tiga puluh delapan kali, dengan kata “mencintai” muncul delapan kali. Kata lain yang juga mendominasi adalah “menunggu” yang muncul sebanyak empat puluh lima kali. Kata “hati” muncul dua puluh kali yang dibarengi dengan kemun-culan kata “berduaan” sebanyak empat belas kali. Penanda cinta yang romantis lain adalah kata “bulan” yang muncul sebanyak sebelas kali.  

Kumpulan puisi ini jelas dibangun oleh cinta. Meski Heri tidak ragu menyebutkan bahwa puisi-puisinya adalah puisi cinta, ia tidak banyak menggam-barkan objek cintanya. Tuturan dalam kebanyakan puisi-nya adalah tuturan aku yang hanya ingin berbagi perasaannya, tetapi tidak banyak berbagi tentang siapa dan bagaimana objek cintanya. Kita boleh berargu-mentasi bahwa Heri cenderung menganggap pemba-canya memahami dunianya, memahami apa yang ada di benaknya, apa yang diharapkannya. Kecenderungan ini, di satu sisi menunjukkan suatu bentuk intimasi, karena Heri menganggap pembaca adalah dirinya, tetapi di sisi lain, dapat dibaca sebagai bentuk penjarakkan. Heri tidak ingin berbagi secara total apa yang dirasakan, dilihat dan didengarnya. 



Hujan, cinta, menunggu diungkapkan Heri tanpa banyak menjelaskan bagaimana hujan turun, bagaimana cinta dirasakan, dan bagaimana proses menunggu dilalui. Ia tidak juga berbagi tentang Yulia atau siapapun  yang menjadi objek cintanya, dalam ungkapan yang lebih ‘sensory’, yang menjelaskan siapa objek cintanya, tubuhnya, rupanya, lentik jarinya, suaranya, caranya berbicara, apa yang membuat Heri jatuh cinta padanya, atau bagaimana gerak objek cintanya itu menggerakkan dirinya. Heri tahu yang dirasakannya, pembaca diminta ikut merasakan apa yang dirasakannya tanpa ia merasa harus menjelaskan banyak. Pembaca seperti saya mungkin berharap Heri akan lebih banyak bercerita tentang perasaan cinta itu dalam bentuk yang lebih dapat ikut saya rasakan. Saya ingin tahu apa yang dilakukan sepasang kekasih ketika menuggu di hari hujan. Apakah mereka bersentuhan? Apa yang mereka rasakan ketika mereka saling bersentuhan? Apa yang terjadi dengan tubuh, dengan tangan, dengan kaki, dengan jantung, dengan darah? Apa yang dibicarakan mereka? Apa mereka membiarakan hujan yang tidak kunjung berhenti, apakah hujan yang dingin mengha-ngatkan mereka? Heri mungkin bisa mengajak pembaca merasakan sensasi hujan yang dirasakannya, segelegak rasa bahagia yang muncul ketika diam dalam hujan bersama kekasih.

Tapi kekasih bagi Heri bukan semata sosok perempuan. Seperti terlihat pada Kepadamu Kekasihku, baginya Tuhan adalah kekasih yang ia ketuk hatinya, yang kepadanya ia mengalirkan hasratnya. Kekasih yang begitu besar, yang dihadapanya ia kecil. Berdoa, adalah pujian yang dipersembahkannya kepada sang kekasih. Heri banyak berdoa, ada tiga belas kemunculan kata doa dalam keseluruhan karyanya, bahkan satu puisi bertajuk Doa. Dengan berdoa, Heri melampiaskan kerinduan dan kecintaannya pada Tuhan, yang seringkali tidak bersuara,  dan Heri terus menunggu dan terus memuji. Puisi Heri seperti perjalanan penantian menuju pene-rimaan dari sang kekasih dan Tuhan. 

Membaca kumpulan puisi ini membuat saya belajar juga bahwa menunggu adalah peristiwa penting. Seperti sudah disebutkan, ada empat puluh lima kemunculan kata “menunggu” dalam kumpulan puisi Heri. Puisi “Menunggu” mungkin merupakan kulminasi dari kegelisahannya atas sesuatu yang akan datang, akan masa depan, akan sesuatu yang tidak diketahuinya. 

Menunggu

hidup adalah menunggu
menunggu yang ditunggu:
menunggu susah
menunggu tua
menunggu sakit
menunggu jemputan
menunggu ajal
menunggu engkau
hidup adalah menunggu
seperti juga engkau 
tidak bosan menungguku setiap malam

Membaca puisinya, pembaca ikut menunggu, menunggu suatu simpulan, suatu penutup. Menunggu dalam puisi-puisi Heri bukanlah tindakan pasif, melainkan suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar. Menunggu mengimplikasi perjalanan, berpindah, berge-ser dari satu titik ke titik lain, berubah, mengubah. Bertransformasi. Menunggu adalah keniscayaan dan setiap waktu kita menunggu, Seperti disebutkan Heri, “hidup adalah menunggu”.  Dan hingga puisi terakhir dalam kumpulan puisi ini, Heri masih menunggu. Kita masih menunggu.

Sihirmu Bukanlah Hujan
-Kepada Sapardi Djoko Damono-

Sihirmu bukanlah hujan itu, aku mengenalnya dengan baik
berderet-deret dengan larik dan bait
yang di sela-sela hurufnya akan kau siasati
aku selalu menunggu isyarat yang kau katakan tiada itu
tajam hujanmu membingkai komposisi 1, 2, dan 3

Sihirmu bukanlah hujan itu, aku menunggunya di beranda
selepas matahari terbenam di barat, aku tidak akan mengikutinya
biar kau sajalah yang berceloteh tentang pepohonan basah dan ketukan-ketukannya
aku selalu mendengar  risik daun yang jatuh itu
deras hujanmu membasahi doa-doaku

Jika Sapardi ingin mencintai secara sederhana seperti hujan di Bulan Juni, Heri mencintai dengan kesabaran seorang sufi yang berdoa dengan kerendahan hati akan keagungan Ia yang dicintainya sepenuh hati. Ia menunggu.

Untuk penerbitan buku ini, saya ingin mengucapkan selamat kepada Heri atas karya antologi puisinya ini. Untuk para pembaca, selamat menikmati hujan, cinta, dan rindu. ***

Aquarini Priyatna, M.A., M.Hum, Ph.D.

Departemen Susastra dan Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran

Sabtu, 15 Mei 2021

KAUSA LINGUA

Cover buku Ellisya Herlislianty Asdhy

Oleh : Doddi Ahmad Fauji

KAPAN mobil Esemka akan diekspor ke Jepang? Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yoshinori Katori, bertanya kepada hadirin. Walikota Solo, Joko Widodo (kala itu), ikut menerima kunjungan Dubes Jepang ke Solo Techno Park pada 11 Mei 2012 silam. Sang Dubes penasaran dengan berita heboh mengenai mobil rakitan karya siswa Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Solo itu.

Ada segurat tanya, sebagus apa mobil Esemka? Mungkinkah jadi ancaman untuk otomotif Jepang yang kini merajai pasar otomotif Indonesia? Jika ya, berarti Jepang harus waspada.“Sekilas, tak jauh beda dari mobil Jepang,” kata Dubes, menghibur hadirin sehabis memeriksa bagian dalam Esemka. Tapi ia tidak melakukan test drive. Entah kenapa.

Pertanyaan Dubes itu jelas hanyalah retorika ironis. Sebab bangsa ini belum mampu membuat mobil. Mimpi dapat membuat mobil nasional yang mendiri, sungguh masih jauh panggang dari api. Apa iya raja pembuat otomotif mau terima ekspor mobil rakitan?

Inti dari otomotif terdapat pada mesin. Nyatanya hingga kini, bangsa yang besar secara kuantitas ini -tapi tidak secara kualitas-, belum bisa membuat mesin. Pesawat terbang produksi Dirgantara Indonesia (dulu PT Nurtanio) di Bandung, atau kapal rakitan PT PAL di Surabaya, masih mengimpor mesin. Artinya, kita belum bisa membuat mobil, pesawat terbang, atau kapal laut selama mesinnya belum bisa kita buat sendiri.

Mesin memang piranti fundamental untuk menjalankan aneka industri, dari mulai otomotif, pertanian, peternakan, pertambangan, pangan, manufaktur, kriya hingga barang kelontongan. Tak bisa bikin mesin, akan jadi hambatan dalam memproduksi perkakas modern bagi pengembangan industri lainnya. Mesin adalah kausa yang berefek domino bagi keberhasilan atau ketertinggalan sebuah negara dalam mengembangkan industri lanjutan.

Membuat mesin memang bukan pekerjaan ‘gampangan’. Ini adalah refleksi, dalam penguasaan teknologi, betapa kita masih tertinggal jauh oleh bangsa lain. Akan makin tertinggal bila tidak mengubah maindset dalam membina potensi anak bangsa.

Harus kita akui, dalam bidang teknologi kecakapan kita baru pada tahap merakit, paling jauh mengadopsi, atau membajak, dan belum sampai pada tahap mencipta. Kita belum bisa membuat komputer atau teknologi komunukasi yang memiliki daya saing bahkan di pasar domestik, apalagi di pasar manca-negara. Kita harus legowo menerima kenyataan bahwa kita belum mampu membuat piranti teknolohi mutakhir.

Akan tetapi, tak bisa dimungkiri oleh bangsa manapun bahwa leluhur kita ‘pernah’ cakap mencipta karya seni adiluhung. Disebut ‘pernah’, karena karya kebanggaan itu adalah produk masa silam.

Misalnya seni corak batik warisan leluhur, yang ditandingkan oleh Unesco, ternyata berhasil jadi yang terbaik di dunia. Juga karya seni keris yang murni hand made, adalah senjata tradisional paling filosofis di muka bumi. Unesco juga menyatakan Wayang adalah “The Master Peace of orality for hummanity in The World”. Puluhan tahun Candi Borobudur dinyatakan sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia yang dibuat oleh manusia.

Alat musik Sasando dari Nusa Tenggara, Tari Saman dari Aceh, Seni Angklung dari Bandung, juga diakui oleh Unesco sebagai karya seni warisan dunia yang harus dilestarikan. Naskah I Lagaligo dari Bugis, dinyatakan sebagai naskah paling panjang dan kompleks di muka bumi. Lebih keren dari naskah Illiyad karya Homeros, dari Mahabarata karya Abiyasa, dari Ramayana karya Valmiki.

Tapi, semua karya seni yang unggul di dunia itu, sekali lagi, adalah warisan leluhur. Apakah karya seni yang dilahirkan generasi sekarang sanggup menjadi yang terbaik di muka bumi? Kalimat itu jangan dimaknai sebagai pertanyaan, tapi harus menjadi tantangan untuk kita jawab dengan berkarya.

Kenyataannya, hingga saat ini belum seorang pun sastrawan kita meraih Hadiah Nobel, walau saya yakin meraih Nobel tentunya bukan tujuan para sastrawan untuk berkarya. Namun Hadiah Nobel jadi salah satu indikasi, bahwa dalam bidang penguasaan seni sastra modern dan kontemporer, kita pun kalah. Kita tertinggal di hampir semua bidang, termasuk bidang pertanian yang amat fundamental untuk kelangsungan hidup.

Negeri agraris ini harus mengimpor beras 20 juta ton per tahun ke Thailand, Vientam, bahkan ke Malaysia. Sampai kapan?

Tentu kita tidak boleh berdiam diri dengan ketertinggalan itu. Kita punya tanggung jawab besar untuk membina generasi yang akan datang supaya memiliki daya saing di tingkat internasional. Katakanlah saat ini kita kalah bahkan oleh negara-negara Jiran macam Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura. Tapi generasi yang akan datang jangan sampai kalah lagi. Inilah tanggung jawab kita: menyiapkan generasi yang lebih berkualitas, sebab persaingan di masa depan akan makin menggila.

Kita harus bangkit, dan pintu masuk untuk kebangkitan itu harus dimulai dari kemampuan mencerna dan mengapresiasi sebuah karya yang kelak berbuah pada kemampuan menciptakan kreativitas. Saya yakin, orang yang kreatif pastilah orang yang apresiatif. Orang yang tidak apresiatif, sulit untuk bisa kreatif. Paling banter ia hanya jadi penjiplak.

Apresiasi tertinggi sekaligus paling awal harus dialamatkan pada bidang bahasa, karena bahasa merupakan jembatan untuk menguasai ilmu pengetahuan. Kenyataannya, banyak siswa yang menganggap pelajaran Bahasa Indonesia amat gampang karena sudah bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia. Karena menyepelekannya, banyak siswa yang meraih nilai tidak memuaskan untuk bidang studi Bahasa Indonesia, termasuk saya.

Betapa penting cakap berbahasa, karena semua pengantar ilmu pengetahuan adalah bahasa. Saya sering tidak bisa menangkap pelajaran yang lain ternyata bermula dari ketidakcakapan saya dalam menangkap maksud dan tujuan kalimat yang mengantarkannya.

Ilmu pertama yang diajarkan Tuhan kepada Adam pun adalah bahasa (Quran Albaqoroh ayat 32). Sedangkan jargon dalam ilmu bahasa Arab mengatakan, segala asal usul ialah bahasa. Bahasa itu amat luas. Tulisan ini disampaikan dalam bahasa tulis verbal. Selain bahasa tulis, ada bahasa lisan, bahasa tubuh, bahasa isyarat, sandi, kode, atau simbol. Gunung bukanlah semata-mata benda yang ada di alam, tapi bahasa Tuhan dalam bentuk simbol. Maknanya sangat luas, salah satunya berbunyi: Gunung adalah torn raksasa di mana Tuhan menitipkan air. Bila gunung dirusak, dan pohon-pohon kering kerontang, maka daerah di sekitar gunung akan kesusahan air. Lihatlah, ketika area pegunungan di Bandung Utara terus digerus, maka daerah Kota Bandung mulai kering air tanahnya.

Salah satu bidang pengetahuan yang sulit dipisahkan dari eksistensi bahasa ialah sastra. Bila orang tidak apresiatif terhadap bahasa, ia juga tidak akan apresiatif terhadap sastra. Bila seseorang suka membaca karya sastra, ia akan pandai berbahasa.

Kenapa banyak orang yang tidak suka sastra? Bisa jadi karena sastra disampaikan dalam linguistik yang simbolik, yang tak mudah dicerna. Ketika seseorang tidak cakap dalam mencerna bahasa, ia pun tidak akan pandai mencerna karya sastra. Disodori puisi, bisa jadi akan geleng kepala. Argumentasi inilah kiranya yang menjadi pembenaran kenapa banyak siswa yang tidak apresiatif terhadap karya sastra. Bisa jadi gurunya tidak cakap mengajarkan bahasa, atau siswanya kelewat menyepelekan ilmu bahasa.

Pada dekade 1990-an, para aktivis sastra mengeluhkan pengajaran apresiasi sastra di sekolah setingkat SMA, mengalami kemandulan. Para siswa selama sekolah, tidak berminat membaca karya sastra. Waktu kuliah, juga tidak berminat memperbanyak membaca karya sastra, bahkan itu terjadi pada mahasiswa yang notabene kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra.

Penyair Taufik Ismail pernah membandingkan minat baca siswa SMA di Indonesia, Malaysia, Kanada, dan Amerika. Hasil penelitian menunjukkan, siswa SMA di Indonesia tidak membaca novel sampai tuntas selama mereka menempuh studi SMA, sedangkan di Malaysia, para siswa SMA membaca sampai tuntas antara 9 – 11 judul novel. Di Kanada dan Amerika, rata-rata siswa SMA membaca 33 judul novel sampai tuntas.

Dampak dari buruknya apresiasi, adalah rendahnya nilai kreativitas dan daya imajinasi siswa-siswi SMA. Sedangkan krea-tivitas dan imajinasi merupakan modal dasar untuk bisa menjadi seorang kreator dan inovator. Maka tidak perlu heran kalau bangsa ini hanya menjadi pengguna dari hampir semua piranti modern yang dibutuhkan dalam kehidupan.

Sebenarnya bukan hanya apresiasi siswa yang minim, tapi juga apresiasi dan minat baca para guru. Tentang hal ini, Kemen-terian Pendidikan dan Kebudayaan mesti melakukan survey, berapa banyak guru yang pernah membaca karya-karya kualitas inter-nasional dari para peraih Hadiah Nobel misalnya. Atau, adakah para guru Bahasa dan Sastra di sekolah-sekolah akrab dengan karya WS Rendra, Sutradji Calzoum Bachri, Afrizal Malna?

Keluhan itu terus berlanjut hingga tahun 2005-an. Namun kini, berkat penemuan situs jejaring sosial macam facebook, dan penemuan piranti teknologi alat tulis-baca yang mudah dibawa, ada geliat pertumbuhan minat masyarakat pada tulis-baca, minimalnya menulis dan membaca status yang di-upload ke situs jejaring sosial.

Geliat tulis-baca itu berlanjut pada kebutuhan menulis status yang bagus, yang bernada puisi, atau malah dalam bentuk puisi, atau dalam pola prosa. Hasilnya cukup positif: apresiasi masyrakat pengguna situs jejaring sosial terhadap seni sastra (puisi dan prosa), mengalami perkembangan.

Perkembangan tersebut terus berlanjut pada bermun-culannya para penulis puisi dan prosa dari berbagai generasi. Mereka berhimpun dalam komunitas sastra yang terbentuk di dunia maya, yaitu grup-grup puisi atau prosa di dunia maya. Sepanjang pengamatan saya, ada ratusan grup perpuisian di dalam facebook. Anggotanya berdiskusi secara intensif, termasuk merencanakan penerbitan buku karya mereka. Mungkin telah ratusan buku antologi puisi bersama telah terbit di Tanah Air sebagai bentuk dari pekembangan minat masyarakat untuk bersastra.


Tapi apakah daya apresiasi, dalam pengertian membaca karya orang lain telah tumbuh dengan baik di kalangan penulis karya sastra dan di tengah masyrakat luas? Perlu penelitian khusus untuk menjawab pertanyaan di atas. Namun sejauh ini, aneka pelatihan menulis yang di selenggarakan di tengah masyarakat, memiliki cukup peminat. Ada harapan bahwa kelak dunia sastra tumbuh lebih baik, moderat, demokratis, dan menjunjung kemajuan peradaban.

Guna meningkatkan daya apresiasi dan kreativitas siswa dalam dunia sastra, kami mendorong guru supaya jadi teladan dalam apresiasi dan kreativitas penulisan karya sastra. Kami terbitkan buku antologi puisi “Istana Berduri”, karya Ellisya Asdhy, guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 14 Garut, Jawa Barat. Seorang guru membukukan karya puisi, bukanlah hal baru, tapi jarang. Karena itu harus didorong. Sebab dengan guru menerbitkan buku, setidaknya ia akan bersungguh-sungguh mengajarkan apresiasi kepada siswanya. Syukurlah bila kreativitas guru tersebut diikuti oleh para siswa. Bila itu terjadi, harapan anak bangsa akan kreatif, bisa membuat mesin sendiri, semoga cepat tercapai.

Kami tidak ingin mengulas estetika puisi-puisi karya Ellisya Asdhy dalam antologi Istana Berduri ini, karena ulasan seringkali bersifat dilematis. Di satu sisi, bisa ikut memandu pembaca dalam memaknai dan menikmati puisi yang tersaji, dengan catatan itupun bila pengantar apresiasinya bersifat deskriptif dan objektif.

Di lain sisi, pengantar apresiasi justru akan mengerangkeng pemaknaan seluas-luasnya dari para pembaca. Meski demikian, kami sajikan dalam buku ini komentar beberapa pembaca yang kami mintai sebelum buku ini terbit.

Akhirnya, selamat membaca dan berapresiasi.

Salam Sastra,

Bandung, Juli 2016

Bila Anda berminat mengoleksi buku puisi ini, dapat menghubungi langsung penulisnya, Ellisya di nomor WA: +62 813-2147-6703.