SITUSENI: MUSIK
Tampilkan postingan dengan label MUSIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUSIK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Mei 2021

Nandong: Musik Peringatan Dini Bila Tsunami akan Datang

Senandung Musik Nandong

Teks Doddi Ahmad Fauji

Nandong adalah seni pertunjukan berbasis musik dan nyanyian. Instrumen yang digunakan untuk menghasilkan musik adalah biola, kendang, dan rebana. Sedangkan nyanyian yang disenandungkan, bisa disamakan dengan senandung tembang di masyarakat Jawa atau Sunda. Lirik yang mendasari tembang dalam nandong diambil dari cerita-cerita masyarakat, atau petuah-petuah leluhur bagi generasi muda. Nandong dimainkan oleh grup, di mana satu grup nandong umumnya terdiri dari empat orang. Satu orang menggesek biola, satu orang menabuh kendang, satu orang menabuh rebana (rapa'i dalam bahasa Aceh), dan satu orang menjadi vokalis yang menyenandungkan syair-syair.

Saat ini, masyarakat yang merasa paling memilik seni nandong adalah masyarakat Simeulue yang menghuni Pulau Simeulue, yang secara administratif masuk ke dalam pemerintahan Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Masyarakat Simeulue mengklaim, nandong adalah seni tradisi Pulau Simeulue. Padahal, sebagian masyarakat di Riau dan Sumatra Barat juga mengenal seni nandong. Tapi bisa jadi ragam dan varian nandong di Simeulue dengan di Riau atau Sumatra Barat, memang berbeda.

Merasa paling memiliki karena memang di Simeulue, masih cukup banyak masyarakat yang meminatinya. Terutama setelah musibah tsunami menghantam Aceh dan sekitarnya, termasuk Pulau Simeulue, pada 26 Desember 2004 silam, seni Nandong yang mulai ditinggalkan anak-anak muda Simeulue, kembali naik daun. Hal itu terjadi karena ternyata ada kaitan antara seni nandong dengan musibah tsunami. Pada salah satu syair nandong yang sering disenandungkan oleh masyarakat Simeulue, terdapat peringatan musibah tsunami yang pernah menghantam Pulau Simeulue pada tahun  1833 dan 1907.

Salah satu syair yang mengabadikan musibah tsunami itu berbunyi:

Smong rume-rumemo/ 
Linon uwak-uwakmo/ 
Elaik keudang-keudangmo/ 
Kilek suluhsuluhmo/ 

Artinya:
Tsunami air mandimu/ 
Gempa ayunanmu/ 
Petir kendang-kendangmu/ 
Halilintar lampu-lampumu.

Syair-syair dalam nandong umumnya memang mengandung "local genuin" atau kearifan lokal. Misalnya, nasihat orang tua kepada anaknya yang baru disunat, nasihat kepada generasi muda yang akan melangsungkan pernikahan, dan lain-lain. Bisa jadi nasihat orang tua yang disampaikan dalam nandong itu sudah kurang berkenan bagi generasi muda di Pulau Simeulue, karena itu nandong mulai ditinggalkan generasi muda.

Namun saat tsunami menghantam pada 2004 silam itu, masyarakat Simeulue diingatkan kembali pada syair nandong yang berisi tentang smong (tsunami dalam bahasa Simeulue). Nandong kemudian menjadi kontekstual kembali, dan memiliki nilai yang sejajar dengan sandang atau pangan. Masyarakat Simeulue merasa, Nandong adalah warisan tak ternilai yang harus dipelihara. Maka pada bulan September 2006, bertempat di lapangan Sinabang, persis di depan Kantor Bupati Simeulue, festival nandong digelar untuk memperingati musibah tsunami 2004. Saya melihat pada festival itu, para pesertanya memang berasal dari generasi tua.

Saya diajak oleh Yoppi Andri, seniman kelahiran 1971 asli Simeulue, untuk berkunjung dan menyaksikan festival Nandong itu. Saya mengenal Yoppi karena dipertemukan oleh musibah tsunami 2004 itu. Saat musibah terjadi, saya dan beberapa teman wartawan kebudayaan seperti Fikar A. Weda, Sihar Ramses Simatupang, Benny benke, Tarsih Eka Putra, dll, menyelnggarakan acara untuk menggalang dana dan bantuan khusus bagi seniman dan budayawan Aceh. Kami membentuk organisasi Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA) yang berkantor di Galeri Nasional Indonesia. KBA diserahkan dan diteruskan oleh seniman-seniman Aceh seperti Kostaman, Fauzan Santa, dan termasuk Yoppi Andri. Namun KBA itu nasibnya terbengkelai. Tidak mudah memang mendirikan sebuah organisasi yang konsisten, apalagi personelnya baru saling kenal. Namun perkenalan saya dengan Yoppi terus berlanjut dan menjadi pertemanan hingga sekarang.

Tahun 2006, Yoppi Andri mengontak saya dan mengajak kerjasama untuk membuat suatu even yang berguna bagi masyarakat Simeulue. Yoppi menginginkan diselenggarakannya festival Nandong di Simeulue. Maka kami segera bekerja, menyusun rencana dan dituangkan dalam proposal yang akan diajukan ke Badan Rehabilitasi Rekonstruksi Aceh dan Nias (BRR) yang dibentuk oleh Pemerintah SBY.

Selain ingin menggelar festival nandong, Yoppi juga menginginkan pembuatan album musik nandong. Maka kami susun rencana pembuatan album nandong dan festival nandong dalam proposal itu.

Di sela-sela bekerja, tiba-tiba musibah gempa bumi menimpa Yogyakarta. Isterinya Yoppi adalah orang Yogya, dan keluarganya di Yogya termasuk yang terkena musibah bencana itu. Yoppi dan isterinya segera pulang ke Yogya untuk menengok keluarga isterinya Tuti (isteri Yoppi). Ya ampun, rumah mereka hancur, dan harus mengungsi di tenda darurat.

Saya menawarkan kepada Yoppi dan isterinya untuk tinggal di kontrakan saya, di kawasan Beji, Depok. Maka di rumah kontrakan yang tidak begitu luas itu rencana membuat festival nandong dan album nandong diteruskan.

Di malam yang sunyi, sering Yoppi menggesek biola, terdengar begitu menyayat-nyayat, seperti nasibnya yang begitu getir. Di Simeulue, rumah orang tuanya hancur akibat gempa dan tsunami 2004 yang kemudian diterjang lagi gempa pada 2005. Di Yogya, rumah mertuanya Yoppi yang hancur. Saya yang sedang jobless karena berhenti bekerja dari Media Indonesia, merasa terhibur dengan kehadiran Yoppi dan anak isterinya (Tuti dan Ame). Ketika saya tidak punya penghasilan tetap. saya kira rezeki tak terduga akan dikirimkan Tuhan bila kita ikhlas menjalani hidup dan tetap bersedia saling tolong-menolong. Memang kemudian, akibat membantu proses festival nandong dan pengalbuman nandong itu, kami bertemu Taufik Rahzen (TR) yang sedang punya uang saat itu, dan membantu mendanai pembuatan album nandong. TR juga menganjurkan saya untuk bekerja di koran Jurnal Nasional yang baru terbit 1 Juni 2006. Kamsi bertemu TR hari Rabu 21 Juni 2006. Esoknya, Kamis 22 Juni 2006, sesuai permintaan TR, saya datang ke kantor koran Jurnal Nasional di Jl. Pemuda No 32, Jakarta Timur. Hari Senin 26 Juni 2006, saya resmi menjadi wartawan Jurnal Nasional dengan gaji dua kali lipat lebih besar darigaji saya di MI waktu saya tinggalkan (April 2005).

Kaset album musik nandong bisa diselesaikan, dan festival Nandong digelar pada 16 - 17 Maret 2006 di Sinabang. Saya berangkat untuk menyaksikan festival nandong itu bersama Sujiwo Tejo dan Taufik Rahzen.

Saya menyimak, musik nandong dalam festival itu, umumnya bernada lirih, dan para penyanyinya bersuara menjerit meratap-ratap. Suara vokalis nandong mengingatkan saya pada musik "beluk" di Sunda, yang juga dinyanyikan sampai suara melengking seperti hendak merobek perut langit agar segera menumpahkan berkah.

Musibah tsunami yang menghantam Aceh dan Nias memang sangat dahsyat, dengan korban ratusan ribu manusia meninggal. Ratusan ribu gedung hancur akibat musibah itu, dan seluruh penduduk dunia tercengang. Aktor Mandarin Jackie Chen ikut terketuk, dan menyumbangkan US $ 1 juta. Pada sebuah liga sepakbola di Eropa, para pemaian menundukkan kepala sejenak untuk berdoa bagi korban tsunami di Aceh dan Nias. 

Mungkin musibah tsunami yang menimpa Pulau Simeulue pada 1907 juga sama dahsyatnya, atau lebih dahsyat dari musibah tsunami 2006. Yang jelas Belanda mencatat, musibah tsunami yang pernah menimpa Pulau Simeulue pada 1907, terjadi pada hari Jumat, beberapa saat sebelum orang-orang melaksanakan Jumat. Saat itu gempa terjadi. Setelah gempa reda, orang-orang yang akan melaksanakan Jum'at, melihat laut tiba-tiba surut, dan ikan-ikan menggelepar di gigir laut. Mereka segera pergi ke laut untuk menyaksikan keanehan itu. Namun tiba-tiba, ombak besar datang dengan begitu cepat dan menggulung mereka. Korban berjatuha, dan perkampungan luluh lantak. Musibah mengerikan itu, diingat-ingat oleh mereka yang masih hidup, lalu diabadikan dalam syair-syair yang kemudian disenandungkan dalam nandong.