SITUSENI: Esai
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2021

Puisi, Imajinasi, dan Daya Cipta

Pengantar Apresiasi

Oleh Doddi Ahmad Fauji

Saya menerima naskah dalam buku ini, yang merupakan kumpulan puisi jenis akrostik karya siswa, guru, staf dan  Kepala SMPN Satap Cibinong, Purwakarta. Naskah ini untuk dibaca, dan sejatinya dikoreksi, di-layout (tata letak isi), selanjutnya diterbitkan. Pekerjaan ini, sejak 2016, terasa sudah menjadi kerja mekanis bagi saya. Apa-apa yang telah menjadi mekanis, banyak orang yang bisa mengerjakannya, sepanjang dia bisa tulis-baca, dapat memahami fungsi kata dan kalimat, punya kepekaan estetika visul, apalagi jika rajin studi komparasi atau membandingkan hasil kerjanya, terhadap hasil kerja orang lain yang sudah mahir. Tidak butuh pendidikan tinggi, yang penting dia mau belajar dan bersungguh-sungguh, saya yakin dia akan bisa menyelesaikan pekerjaan yang disebut mekanis di atas.

Sejatinya saya harus mengedit naskah, dan bukan hanya membaca atau sekedar mengoreksi. Buku yang terbit, selaiknya memiliki tingkat keterbacaan bagus, hingga isinya dapat dipahami oleh segmen pembacanya. Namun sejujurnya, tak semua naskah dapat diedit seperti itu, karena keterbatasan waktu, anggaran, dan tujuan tulisan diterbitkan menjadi buku. Untuk apa sebenarnya karya tulis diterbitkan menjadi buku?

Ada banyak alasan karya tulis diterbitkan menjadi buku ber-ISBN untuk saat ini, dari mulai yang filosofis, pragmatis, hingga tujuan perniagaan. Di tengah makin mudahnya informasi didapat, sementara penjualan buku terasa lesu, penerbitan buku justru makin bergemuruh. 

Bukan penerbitan bukunya yang paling bernilai, tapi pijar api penciptaan dalam dada siswa, yang dituangkan menjadi aksara, semoga mewujud jadi imajinasi, dan kelak dituangkan ke dalam penciptaan benda-benda. Saya selalu meyakini, awal penciptaan dimulai dari kata, kemudian menjelma imajinasi, dan mewujud jadi benda-benda. Allah berfirman, bila Ia menghendaki sesuatu, Ia akan berkata “Kun”, lalu “Fayakun” (Jadi, maka jadilah) : (QS: Yasin ayat 82).

Terkadang puisi tampak sederhana saat dibaca, mudah untuk ditulis, tapi ada puisi yang begitu rumit untuk dipahami. Namun baik terbaca mudah atau rumit, menulis dan menilai puisi membutuhkan kesungguhan, dan kesungguhan itulah awal dari semua keberhasilan, sebagaimana tertuang dalam pepatah orang Arab: manjada wajada (anu keyeng tangtu pareng, atau siapa yang bersungguh-sungguh ia akan beroleh). 

Selain menciptakan mesin, komputer atau laptop, telepon dan kamera canggih, ternyata kata-katalah yang mesti diciptakan terlebih dahulu oleh bangsa ini. Selain harus mengimpor peralatan teknologi tepat guna, ternyata kita juga menjadi bangsa yang rajin mengimpor kata dan istilah dari luar. Jika kata saja harus kita impor, apalagi piranti teknologi canggih. Mati kita simak istilah bahasa (lingustik) yang begitu banyak diimpor dari luar: fonem, morfem, sintaksis, paragraf, pragmatika, semiotika, semantika, sufiks, infiks, konfiks, simulfiks, sinonim, homonim, euforia, dan lain-lain. Bahkan istilah untuk ilmu bahasa, kita harus ngimpor.

Anak-anak kita yang menulis puisi akrostik dalam buku ini, yang membaca tulisan saya ini, semoga terinspirasi untuk suatu hari nanti, mereka mulai merintis penciptaan kata sendiri, yang tepat dan sesuai dengan alam, udara, air, tanah, makanan bangsa Nusa-Antara. Setelah mencipta kata, lalu mengembangkan imajinasi, merumuskan falsafah, moga bisa menciptakan piranti teknologi untuk kelangsungan hidup yang ‘rahmatan lil alamin’.

Orang China dan Jepang, tidak mengadopsi begitu saja kata asing. Mereka menciptakan kata baru, atau mencari padanan yang selaras. Misalnya komputer,  di Tiongkok bukan terjemahan lafal asli, tapi istilah ciptaan dalam bahasa Tionghoa: 电脑 (dian nao, dibaca tien nao),  yang arti harfiahnya otak listrik. 

Bangsa kita akan segera menjadi bangsa modern, dan sejahtera, tapi nanti, setelah mampu menata bahasa yang dimulai dari penciptaan kata, dari penulisan puisi yang serius.

Bandung, 2021

Pemred SituSeni

Rabu, 04 Agustus 2021

BERMULA DARI KATA - Pengantar untuk buku Selasih


Oleh Doddi Ahmad Fauji

Bermula dari kata KUN, kemudian FAYAKUN... Jadi, maka jadilah. 

Demikianlah, bila Allah Swt menghendaki sesuatu, Ia akan mengucapkan larik ‘kun fayakun’ atau jadi maka jadilah. Larik tersebut setidaknya terdapat dalam Quran surat Yasin ayat 82: Innama Amruhu Idza Arada Syaian An Yaqula Lahu Kun Fayakun. Artinya: Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, Jadilah, Maka jadilah ia. Qs. Yasin: 82.

Larik di atas menerangkan kepada para pembaca, bahwa penciptaan langit dan bumi, ternyata dimulai dengan kata Jadi!

Berangkat dari argumentasi tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa penciptaan dalam banyak hal, dimulai dari KATA. Orang Arab sangat mempercayai hal ini, sehingga keluar ungkapan dari Arab yang berbunyi: al-ashlu lugotan, maa buniya ‘alaihi ghoirihi (asal usul itu dari kata, tak ada yang menyamainya).

Bangsa Indonesia saat ini, dalam pergaulan peradaban internasional, harus mengakui, adalah bangsa yang kurang kreatif dalam penciptaan peralatan teknologi. Kita tidak bisa menciptakan tiga perangkat teknologi yang amat penting untuk kemajuan peradaban lanjutan, yaitu kita tak bisa menciptakan telepon, mesin, dan komputer. Jalanan kita macet, tapi kendaraan yang memenuhinya adalah hasil belanja dari bangsa asing, dan pembelajaran daring makin semarak, tetapi peralatan yang digunakan adalah hasil penciptaan bangsa lain. 

Bahkan kita tidak bisa menciptakan baru dalam peradaban baru, juga bahkan dalam dunia pendidikan. Kita harus mengimpor kata untuk menamai berbagai mata pelajaran dari sejak TK hingga S3. Mari kita periksa istilah mapel untuk ilmu sosial maupun ilmu sain: Matematika, fisika, kimia, biologi, geografi, sosiologi, antropologi, dll, adalah kaya yang kita impor. Kemandulan dalam memproduksi kata, berdampak lanjutan pada mandulnya menciptakan piranti lainnya, terutama piranti teknologi informasi, transportasi, dan kelayakan hidup.

Para pencipta kata, diterangkan dalam Quran surat ke-26 (para penyair) adalah para penulis puisi, atau yang kemudian disebut penyair. Sungguh, penyair atau pencipta kata, dimuliakan oleh Allah dengan dimaktubkannya sebutan para penyair dalam surat ke-26 itu. Saya bersyukur karena kini makin marak orang-orang menulis puisi, dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan amademik (guru dan dosen) berserta siswa dan mahasiswa. Semoga gairah berpuisi dari berbagai kalangan itu, berimbas pada kelanjutan untuk memahami hakikat atau esensi kata.

Hakikat atau esensi kata sungguh perlu dipahami, dan bahkan dilaksanakan jika yang termaktub dalam kata tersebut berupa perintah, dan atau kita tidak berbuat sesuatu yang dilarang oleh kata.

Kata adalah bagian dari aksara, dan adalah merupakan unsur terkecil yang punya makna, yang membentuk bahasa. Bahasa diwakili atau ditandai oleh aksara, dan dalam bahasa Eropa (Inggris, Jerman, Prancis, Belanda), aksara itu bisa diartikan dengan literasi. Nah, berliterasi itu artinya ber-aksara. Beraksara yang dimaksud ialah, memahami arti leskisal (kamus) sekaligus memahmi makna esensialnya (hakikat kata).

Puisi seperti yang tertuang dalam antologi Selasih Bertunas Emas. Antologi Catatan Buah Hati Dalam Puisi, adalah salah satu jalan untuk memahami syariat (leksikal) dan hakikat kata, dan para pembaca serta penulis puisi, harus benar-benar bergelut untuk dapat memahami syariat dan hakikat kata itu. Bila tidak, maka puisi yang bagus bisa saja tidak terpahami karena si pembaca kurang bersungguh-sungguh dalam mempelajari kata. Bila tidak, bisa saja puisi yang ditulis para penulis puisi, kurang memancarkan marwah kata KUN (Jadi)!

Saya kurang leluasa bila harus membahas puisi-puisi dalam antologi ini, karena dibutuhkan pembacaan yang bersungguh-sungguh, serta menuangkannya dalam catatan panjang. Sekilas dapat saya tangkap, bahwa upaya untuk berkomunikasi kepada yang lain (yang membaca) melalui kata yang simbolik dan indah melalui puisi, sudah terasa dalam beberapa puisi yang ada pada antologi buku ini. Selanjutnya, kepada para penulis maupun pembaca puisi dalam antologi ini, saya ingin menyampaikan pendapat tentang tafsir menurut saya dari kata ‘iqro’ yang merupakan kata pertama dalam wahyu pertama, yang diterima Nabi Muhammad.

Kenapa kata pertama itu berbunyi Iqro, dan apa artinya iqro?

Secara harfiah (huruf) atau makna syariyah (leksikal) dari kata iqro adalah membaca. Semua orang Islam yang pernah belajar ngaji, tahu benar kata iqro itu adalah perintah untuk membaca. Namun ada pertanyaan lanjutan untuk memahami maksud dari kata pertama dalam wahyu yang berbunyi ‘iqro’ itu, yaitu buat apa sebenarnya membaca? \

Jawaban atas pertanyaan ‘buat apa membaca?’ adalah yang menjadi penjelasan dari makna esensial (hakikat) dari kata iqro. 

Kita membaca supaya kita memahami bacaan, supaya kita memahami kehidupan. Maka perintah iqro dalam Quran itu, hakikatnya adalah supaya kita memahami isi Quran (qouliyah). dan memahami kehidupan ini (qouniyah). Jika kita sudah hatam membaca quran, bahkan tertalar, namun kurang paham artinya (terjemahannya), juga kurang paham tafsirnya (hakikatnya), maka bisakah kita disebut sudah membaca? Mungkin bisa disebut sudah membaca, tapi baru pada tahap melapalkan.

Nah, lalu, buat apa kita memahami isi bacaan?

Jawaban atas pertanyaan di atas, akan menjadi penjelasan ma’rifat dari makna iqro. Kita membaca supaya paham, dan setelah paham, kita harus melaksanakan atau menjalankan apa yang sudah kita pahami itu. Maka secara makrifat, arti dari iqro itu, bukan saja bacalah, pahamilah, namun sekaligus laksanakanlah!

Lalu kenapa kita mesti berpuisi?

Kita berpuisi bukan sekedar merangkai kata, namun hendak berkomunikasi dengan yang lain (pembaca), dengan mengkomunikasikan hal yang baik, dengan maksud yang baik, dan dengan bahasa yang baik. Ingatlah bahwa puisi adalah rangkaian kata, dan kata adalah awal mula dari penciptaan. Nah, berliterasi itu, kita belajar memahami makna dan hakikat kata, serta melaksanakannya, jika itu berupa perintah, dan menjauhi larangannya, jika itu memang larangan. Mari kita terus berpuisi dan berliterasi, sebab dari puisi, bisa lahir imajinasi, dan dari imajinasi, lahir filsafat, dan filsafat adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan barat. Bisa saja kelak, kita berpuisi dengan berimajinasi, dan generasi penerus setelah kita, kelak berhasil menciptakan peradaban canggih, dan kita tidak lagi menjadi bangsa pengguna, pengikut, dan pembelanja alias konsumtif. Bermula dari puisi yang sungguh-sungguh, tidak mustahil lahir komputer baru, mesin baru, telepon baru, buatan bangsa Indonesia. Semoga!

Doddi Ahmad Fauji

Penulis buku Menghidupkan Ruh Puisi

Pemimpin Redaksi SituSeni.

Selasa, 13 Juli 2021

UNSUR-UNSUR PALING PENTING HARUS ADA DALAM BACA PUISI & CONTOH SKENARIO BACA PUISI


1.      
Tafsir yang benar terhadap puisi yang dibaca, akan mewujud dalam bentuk:  

a.       Puisi yang dibaca akan terdengar dan terasa komunikatif di telinga pendengar, atau di telinga dewan juri, jika pembacaan puisi itu dilakukan dalam lomba. 

b.       Akan terdengar pula intonansi larik atau baris yang dibacakan, benar menurut hukum bahasa. Larik atau baris, atau kalimat menurut bahasa, terdiri dari tiga jenis, yaitu pernyataan, pertanyaan, atau sanggahan. Pahamilah dengan benar larik per larik dalam puisi, apakah ditulis oleh penyair sebagai larik pernyataan, pertanyaan, atau sanggahan? 

c.       Enjabemen atau penghentian pelapalan kata/larik akan benar, jika tafsir terhadap puisi itu sudah benar. 

Ketiga syarat yang disebut dalam poin a, b, can c adalah berdasarkan pendapat para pakar perpuisian, seperti Prof. Dr. Henman J. Waluyo dari UNS Solo melalui buku berjudul Apresiasi Puisi, lalu menurut Prof. Dr. Suminta A. Sayuti dari UNY Yogyakarta melalui buku Berkenalan dengan Puisi, menurut Doddi Ahmad Fauji dari sanggar Literasi SituSeni melalui buku Menghidupkan Ruh Puisi. 

2.       Jika tafsir terhadap puisi sudah benar, insya Allah akan melahirkan imajinasi yang masuk akal atau logis. Betapa penting memahami logika dalam puisi. Ada 4 logika yang tidak boleh diabaikan, yaitu: logika indrawi, logika bahasa, logika komunikasi, dan logika cerita. 

3.     Bila imajinasi sudah masuk di nalar atau akal, maka selanjutnya seorang pembaca puisi akan lebih bisa menghayati puisi yang dibacakannya. Penghayatan itu terkait dengan suasana dalam puisi. Adapun suasana dalam puisi itu, akan sejalan dengan suasana hati yang dirasakan dan dipresentasikan oleh si penulis puisi.  

4.     Selanjutnya, bagus atau tidak bagus seseorang dalam membanca puisi, secara teknis akan dipengaruhi oleh metrum (tinggi rendahnya suara), artikulasi atau kejelasan tiap kata yang dilapalkan, intonansi atau jenis kalimat pernyataan, pertanyaan, sanggahan, serta power (kekuatan suara).  

Teori di atas, akan saya paparkan dalam praktik pembacaan puisi wajib dan puisi pilihan dalam Lomba Baca Puisi FLS2N tingkat SMA tahun 2021/2022. 

Perhatikan bagaimana unsur-unsur yang saya sebutkan, termasuk enjabemen, atau penghentian melapalkan kata/larik, untuk menarik nafas, agar selaras dan fungsi komunikasi dalam puisi yang dibacakan.!

Sebelum puisi dibacakan, adalah sudah benar bila kita membuat dulu catatan-catatan pada tiap larik, semacam membuat skenario untuk memproduksi film. 

Saya sering menuliskan tanda baca garis miring (/) atau tanda koma (,) buatan, untuk menandakan, di sana pelapalan puisi harus berhenti sejenak. 

Terkadang saya membuat tanda baca garing miring dua (//), untuk menandai bahwa perhentian pembacaan puisi butuh waktu lebih lama, atau sekitar 3 detik. 

Kadang saya memberi tanda tanya (?), bila larik yang dibaca memang bernada pertanyaan, atau saya memberikan tanda seru (!) bila larik yang dibaca memang berupa pernyataan yang amat penting! 

Tentang tanda-tanda baca tambahan itu, bisa disimak pada larik-larik yang dibacakan di bawah ini.

SAJAK BUAT NEGARAKU

KRIAPUR

Di tubuh semesta tercinta/

buku-buku negeriku tersimpan//

setiap gunung-gunung dan batunya/

padang-padang dan hutan/ semua punya suara//


semua terhampar biru di bawah langitnya/

tapi hujan selalu tertahan dalam topan/

hingga binatang-binatang liar à

mengembara dan terjaga di setiap tikungan à

kota-kota.!//

 

Di antara gebalau dan keramaian tak bertuan/

pada hari-hari sebelum catatan akhir/

musim telah merontokkan daun-daun/

semua akan menangis/

semua akan menangis/

laut akan berteriak dengan gemuruhnya/

rumput akan mencambuk dengan desaunya/

siang akan meledak dengan mataharinya!//

 

dan musim-musim dari kuburan à

akan bangkit/

semua akan bersujud/

berhenti untuk keheningan.!

 

Pada yang bernama keheningan/

semua akan berlabuh//

 

bangsaku, bangsa dari segala bangsa/

rakyatku siap dengan tombaknya/

siap dengan kapaknya/

bayi-bayi memiliki pisau di mulut/

tapi aku hanya siap dengan puisi//

 

dengan puisi bulan terguncang/

menetes darah hitam dari luka lama!


Tanda  à menunjukkan pembacaan puisi tidak boleh berhenti di ujung larik tersebut, tapi sebaiknya dilangsungkan ke larik berikutnya.

Tanda / menunjukkan pembacaan puisi harus berhenti di sana.

Tanda // menunjukkan, pembacaan puisi berhenti lebih lama, kira-kira 3 detik.

Minggu, 11 Juli 2021

INDONESIA BISA MENCIPTAKAN MESIN SENDIRI

Oleh Doddi Ahmad Fauji


Ingin saya tegaskan, bahwa saya termasuk orang yang naif, karena selalu terganggu oleh pertanyaan yang saya buat: Kapan negara-bangsa indonesia bisa membuat mesin sendiri, yang seluruh onderdilnya dibuat sendiri, dan tidak perlu mengimpor?

Pertanyaan tersebut perlu dan penting saya ajukan kepada siapapun yang merasa sebagai bangsa Indonesia, dan berpikir lalu berharap, bahwa Indonesia kelak akan menjadi negara-bangsa modern, berperadaban luhur, dapat mensejajari negara adidaya, dan pertama serta utama sekali, dapat mensejahterakan rakyatnya, sesuai dengan cita-cita proklamasi negara Indonesia, yang termaktub dalam ‘Preambule’ UUD 1945, alinea ke-4:

Kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu, dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan Rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial, bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keadilan sosial di negeri ini, jelas ditegaskan: Bagi seluruh rakyat Indonesia, maka nyata sudah, keadilan bukan milik segelintir pihak yang punya kuasa atau upaya (uang). Namun rakyat Indonesia cukup banyak yang tahu, bahwa para penguasa pengupaya (orang kaya) serta penegak keadilan di negeri ini, kerap berlaku tebang pilih, dan rakyat kebanyakan, yang menurut UUD 1945 merupakan pemilik kedaulatan negara, seringkali menjadi anak tiri atau malah musuh bagi para penguasa dan pengupaya serta penegak keadilan, sehingga pula, kita sering merasakan betapa keadilan telah dirampok oleh segelintir elite.

Untuk mencapai tujuan yang tersurat dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 itu, tentu banyak hal mesti dilakukan, dan salah satunya yang sangat penting, adalah segera berpikir untuk menciptakan mesin sendiri, yang merupakan motor penggerak berbagai peralatan serta sarana yang dibutuhkan untuk menunjang kemajuan demi kemajuan selanjutnya. Kita tahu, mesin adalah alat vital bagi penciptaan teknologi otomotif sebagai sarana transportasi. Mesin juga dibutuhkan untuk menggerakkan berbagai sektor perindustrian, dari mulai pabrik pangan, sandang, papan, pertanian dan peternakan, bahkan hingga mainan untuk anak-anak. Bila kita tidak bisa menciptakan mesin sendiri, dengan bahan baku dan onderdil sendiri, maka selamanya UANG negara ini akan selalu terkuras untuk berbelanja dalam rangka mengadakan peralatan dan sarana untuk melangsungkan kehidupan. Sebab uang dari dalam mengalir ke luar, maka DANA untuk mensejahterakan rakyat akan selalu ‘jauh panggang dari api’.

Sumber Daya Alam Indonesia memiliki bahan baku yang sangat melimpah untuk menciptakan mesin sendiri. Anak-bangsa Indonesia juga tidak bodoh-bodoh amat, sebab ada segelintir anak yang memiliki kemampuan dan keahlian sebagai insinyur teknologi mesin dan mekanik.

Saya tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak mau sok tahu, bagaimana caranya bangsa kita, bisa menciptakan mesin sendiri, atau mulai berpikir untuk merintis penciptaan mesin sendiri, meski harus menggelontorkan dana yang cukup besar.

Saya berharap pertanyaan yang diajukan di atas, dapat menginspirasi satu orang saja dari penyimak, terutama tentu dari generasi muda, sehingga mulai berpikir keras dan mencari solusi untuk menciptakan mesin sendiri, sehingga kelak Indonesia bisa membuat peralatan transportasi dari mulai motor, mobil, kereta api, pesawat terbang atau perkapalan. Sungguh sedih, jangankan bisa menciptakan pesawat dan kapal, kereta api atau mobil, bahkan untuk menjalankannya, mengendarakannya, kita masih tergolong gagap, sebab masih banyak kecelakan peralatan transportasi, dari mulai tabrakan di lalulintas, kereta api beradu, pesawat jatuh, hingga kapal selam yang habitatnya di laut, ternyata masih juga tenggelam.

Bangsa Indonesia bisa maju dan makin sejahtera, bila berhasil menciptakan mesin sendiri. Insya Allah.

Selasa, 08 Juni 2021

ARAH KARYA SASTRA - Bagian 1

Oleh Doddi Ahmad Fauji

Kenapa manusia mesti menulis, dan kenapa karya sastra mesti ditulis? Buat apa? Untuk apa?

Saya patut bersyukur, kini makin meruyak orang yang bergiat dalam menulis, termasuk menulis karya sastra, apakah itu puisi, prosa (drama jarang ditulis), pun artikel bebas alias esay. Dulu mah waktu kuliah tahun 1990 hingga 1997 (saya kuliah tepat waktu, 7 tahun), kawan yang suka menulis tidak sampai 25% dari jumlah yang ada. Sekarang di kampus, mahasiswa yang suka menulis bisa jadi lebih dari 50%. Juga masyarakat, termasuk tetangga, yang mulai menulis tampak makin meggeliat. Kemajuankah?

Saya bisa digolongkan ke dalam punggawa kelas puritan nan paedagogis, disebabkan saya kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS, IKIP Loh., dan belum menjadi UPI Bandung, maka ujung dari aktivitas menulis termasuk karya kreatif sastra, bagi saya adalah sebagai sarana pendidikan. Diksi ‘sastra’ itu kan dari bahasa Sansakerta, yang artinya media pembelajaran. Sebetulnya jika ‘ngurek’ atau ‘neger’ belut pun jadi sarana pendidikan, maka ‘ngurek’ dan ‘neger’ harus disebut sebagai sastra pertunjukan, atau pertunjukan sastra.

Dengan kata lain, sastra itu adalah piranti yang berinisial l'art pour homme (kesenian untuk kemanusiaan), dan bukan semata seni untuk masturbasi seperti sekarang kian menggejala.

Adapun makna dan tujuan pendidikan, selalu dikembalikan ke Trilogi pendidikan yang dicetuskan oleh Mas Ki Hadjar Dewantara, yang bunyinya (sudah pada tahu kan?)

Pada era Mendikbud dijabat oleh kiyai Ing Wardiman Djojonegoro, suka ada plesetan dari ‘trilogi’ menjadi ‘caturlogi’ pendidikan, yang bunyinya begini:

1. Tut wuri handayani (Jika kau berada di belakang, maka beriloh dorongan kepada yang di depan).
2. Ing madya mangun karsa (jika kau berada di tengah, maka bangunlah gagasan).
3. Ing ngarsa sung tulada (jika kau memiliki karsa, maka jadilah contoh yang baik).
4. Ing Wardiman Djojonegoro (Kalau sekolah atau jadi sastrawan, harus lulus atuh euy, kedah jujur, supaya negara kebawa jaya: Berat Jendral!).

Saya ujug-ujug teringat sastra ketika di suatu petang kian meremang, dalam rintik hujan masih mengguyur, dan harus melanjutkan perjalanan dengan samar arah tempuh. Di hadapan, tampak hutan lebat, kanan bukit, kiri jurang, di seberang jurang tampak bukit berselimut kabut, matahari sudah lingsir, senja kian temaran perlahan, dan nyali saya tiba-tiba ciut, karena akan memasuki jalan yang dipayungi rumpun bambu di kanan kiri, pohon-pohon besar, seorang diri, berkendara roda dua. Di depan tampak benar-benar poek, dan sinyal googlemap terlihat lup-lep. Saya ingat meong congkok yang galak, ular piton yang bisa membelit, maung kajajaden yang suka ujug-ujug hadir di hadapan, atau ririwa dan bagong teler, dan lain-lain. Dalam hati saya berbisik: Lanjutkan jangan, lanjutkan atau balik lagi?

Rasa kasih dan cinta telah mengusir semua ketakutan dan kecemasan. Ia menjelma sepenggal puisi, lalu puisi jadi jadi mantra untuk mengusir bala, jadi doa yang meneguhkan hati:

"Sima aing sima maung. Aing leuwih nyiliwuri batan jurig batan dedemit. Prung mamprung. Poek jadi caang, owa jeung surili jadi balad, oray nyingray bueuk unggeuk. Sakabeh sato nu galak atawa harak, taya kawani ka kami, da wungkul Pangeran nu Kersaning Kawasa. Puah!"

(Auraku arura harimau. Aku lebih halus dari mahluk halus dari memedi. Laju melajulah. Gelap jadi terang, trimatra jadi kawan, ular kabur burung hantu mengangguk setuju. Seluruh hewan yang galak dan buas, tiada keberanian di hadapanku, dan  sebab hanya Tuhan yang Maha Kuasa).

Lalu kulalui jalan itu, dan benar saja, tak ada apa-apa. Membayangkan sesuatu yang menakutkan, seringkali lebih mengerikan dari kenyataan. Rasa takut lebih menakutkan dari apapun yang benar-benar bisa membuat kita takut. Dan, aku pun sampai di tujuan.

Di tujuan itulah kudapati kabar, gempa kecil kembali mengguncang Kab. Sukabumi dan Kab. Cianjur. Sejak 2016, menurut salah satu situs yang memiliki otoritas perkara gempa, telah 11 kali Kabupaten Sukabumi ditimpa gempa. Hal ini mengingatkanku pada Gunung Krakatau di lepas laut, yang beberapa kali kentut sebelum akhirnya bener-benar berak, dengan bau belerang yang bisa membunuh, dan tsunami yang menelan sekian korban. Dalam sebuah film tentang Krakatau, yang melibatkan pemain dari Belanda, batuk-batuk itu sebenarnya peringatan, tapi manusia tidak peka, tidak segera mengungsi, dan ketika ledakan benar-benar terjadi, maka musnahlah sekian nyawa dicerna buana, dimamah segala yang bertuah.

Lini yang berkali-kali menari di Sukabumi itu, mestinya jadi peringatan bagi saya, dan mestinya para sastrawan segera menulis prosa atau puisi, esai atau apapun, yang bermuara pada pendidikan tentang kewaspadaan dan penyelamatan diri, ya semacam peringatan dini serta migitasi bencana.

Sastra tidak cukup hanya sarana untuk masturbasi, macam keributan dan meributkan kebesaran NAMA serta pemuatan di media massa. Sastra, mau tak mau, mengingatkan kepada guru saya, kiyai begawan Wahyu Sulaiman Rendra, yang berujar:

Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.


Orang memang bebas menulis apapun, mau tentang ngaloco atau masturbasi, mau tentang renda-renda pakaian atau gincu-gincu kehidupan, mau tentang kegalauan atau kepicakan mata batin, mau curhat atau mengungkapkan dendam kesumat, mau apapun adalah bebas. Namun, tulisan akan lebih bermakna dan jadi SASTRA bila bermuara pada l'arte pour home (kesenian untuk kemanusiaan), yang bermanfaat untuk penyadaran, kewarasan, dan pemberdayaan kehidupan kini juga generasi yang akan datang.

Sastra yang hanya sarana onani, bahkan terasa memunggungi pernyataan filsuf Renne Descartes yang bersabda: Cogito er go sum (aku berpikir, maka aku ada).

Para penulis memunggungi pernyataan Descartes itu, dan memelesetkannya menjadi: Aku berbelanja maka aku ada, atau aku narsis maka aku eksis.

Ya, saya mesti menulis puisi atau esai, agar menjadi puisi atau mantra, doa atau singlar, agar saya tidak takut, dan selalu waspada, sekalipun saya berkelana sore itu, sebenarnya masih di kawasan Bandung, jadi kenapa mesti takut oleh hutan di Bandung, bukankah sudah tidak ada Maung Bandung? Maung sih ada, di depan kantor koramil berupa patung, atau dalam yel yel viking.


Bandung adalah tatar yang dilingkung oleh gunung, dan diramalkan akan ‘heurin ku tangtung’ (padat oleh kerumunan berdiri). Tapi, memang sih, sore itu aku berkelana bukan di Kota Bandung, tapi di Kabupaten Bandung Barat yang masih memiliki hutan, serta dihiasi oleh gunung-gunung kecil yang kadang terasa lucu sudah sejak dari nama-namanya: Gunung Bohong, Gunung Batur, Gunung Kembar, Gunung-gunungan, dll.

Bandung 150 ribu tahun silam, adalah berupa undakan tanah besar yang diberi nama Gunung Jayagiri. Ia meledak begitu dahsyat, menyebabkan es mencair di kutub selatan, dan efekdomino-nya membuat volume laut bertambah, sehingga dataran rendah seperti di kawasan Sunda dan Sahul, jadi terendam dan sekarang menjadi laut Jawa di barat, yang memisahkan Pulau Sumatra, Melayu, Kalimantan Jawa, serta perairan Arafuru di timur, yang memisahkan Pulau Papua dan Benua Australia.

Ini yang juga perlu kita renungkan, ternyata Sulawesi, Maluku, serta beberapa Pulau di Sunda Kecil (Bali, NTB, NTT) sedari dulu sudah berpisah, atau dipisahkan oleh laut. Perpindahan air laut dari dan ke Samudra Pasifik – Samudra Hindia, itu terjadi melalui laut yang memisahkan Sulawesi dari paparan Sunda dan Paparan Sahul. Jadi, laut Sulawesi, Maluku, Sunda Kecil dari dulu sudah ada, dan semakin dalam setelah volume air laut meningkat. Ke dalaman laut Jawa diperkirakan antara 40 – 80 meter. Sedangkan ke dalaman laut di sekitar Sulawesi dan Sunda kecil, bisa mencapai 850 meter. Kapal Selam Naggala 402 tenggelam di laut yang dalam itu, karena sangat mungkin mesinnya tak mampu melawan arus perpindahan air laut dari dan ke Hindia – Pasifik.

Dulu, sungai dari dataran tinggi yang sekarang disebut Pulau Jawa, mengalir ke laut yang mengepung Pulau Sulawesi. Sungai itu mengalir ke arah utara, lalu berbelok ke Timur. Di dataran arah utara, sungai itu bercabang-cabang, banyak jumlahnya, serupa kali, yang kini kawasan di utara itu disebut mantan kali atau Kalimantan.

Itulah Bandung, kawasan sisa Gunung Jayagiri. Eh ternyata, ledakan gunung itu melahirkan anak yang terus membesar, dan seiring dengan laju waktu, anak itu kian membesar, sehingga kembali menjadi undakan yang diberi nama Gunung Sunda atau Gunung Purba. Sekira 51 ribu tahun silam, gunung Sunda/Purba itu meledak lagi, dan makin membuat dataran Jawa yang telah terendam air, dan telah menjadi pulau, ukurannya bertambah lebar.

Dulu, laut Selatan untuk daerah Bandung itu misalnya, ada di kawasan yang sekarang disebut dengan perbukitan Pangalengan, Ciwidey, Gununghalu, dll., namun karena pantai laut selatan itu ter-uruk oleh tanah ledakan gunung Sunda/Purba, menyebabkan pantey terkubur dan menjauh dari ordinat kawasan Bandung, atau seperti yang sekarang kita lihat sebagey pantey selatan Bandung itu berada di kawasan Jayanti, Cidaun, Sindangbarang, Agrabinta.

Ini yang patut kita renungkan, Ledakan Gunung Jayagiri pada 150-an ribu tahun silam, menyebabkan lempengan bumi jadi retak, dan tanah yang berada di atas lempengan pun ikut terbelah. Seiring dengan waktu, belahan tanah itu rapat lagi, tapi jejaknya masih tertinggal hingga sekarang. Nah, jejak belahan itulah kira-kira apa yang disebut dengan Patahan.

Terdapat beberapa patahan di kawasan yang mengelilingi Bandung, dan yang paling terkenal diberi nama Patahan Lembang, yang membentang dari kaki gunung Tangkubanparahu hingga ke Pantey Selatan Jawa Barat yang berada di kawasan Jampang, Sukabumi, serta membentang ke arah Pantey Utara yang berada di kawasan Eretan, Subang. Bila Patahan Lembang yang sedang tidur itu tiba-tiba 'nguliksik' karena secara alamiah ingin berganti posisi tidur, maka gerakannya akan terasa sebagey gempa.

Aku benar-benar hawatir, pada suatu hari Patahan Lembang itu ngigow, lalu mencaci maki orang-orang yang busuk dan kemaruk, maka bencana dan musibah tak tertanggungkan akan terjadi, seperti ketika Krakatow bukan lagi kentut, namun berak dan marah.

Maka puisi, prosa, esay, atau apapun yang bisa disebut sastra, yaitu media pembelajaran, harus memiliki keberpihakan pada dunia pedagogik dan edukatif, atow apa yang disebut dengan falsafah tetralogi pendidikan butir ‘plesetan’: Ing Wardiman Djojonegoro (sastra mesti membuat negara ikut jaya).

Sisa ledakan Gunung Sunda, kemudian menjadi kaldera besar, dan lambat laun menjadi danow besar karena airnya mendingin. Kawah di danow itu tidak aktif lagi. Magma yang masih mau keluar dari bekas Gunung Sunda, beralih ke celah yang lebih kecil, dan membentuk gunung baru di kawasan setengah Utara. Gunung baru yang kecil itulah, yang kini disebut dengan Tangkubanparahu.

Sekira 3500 tahun yang silam, kaldera besar yang kemudian menjadi danow raksasa itu, mengalami kebocoran melalui sebuah celah, sehingga airnya perlahan mengalir menuju laut di sebelah utara. Tanah di sekitar aliran air danau itu lambat laun mengeras, dan itulah yang kemudian disebut dengan sungey Citarum.

Kaldera yang sudah mengering kemudian tampak jejaknya, mengerucut ke arah bawah secara landey, hingga bila dilihat dari atas, akan tampak seperti wajan, yang kadang wajan itu disebut dengan cekungan. Setelah danow purba benar-benar mengering, wajan besar itu kemudian dihuni oleh manusia yang sekarang disebut Urang Sunda. Dulu mah, urang Sunda itu disebut urang Ukur, karena Bandung yang sekarang, pernah diberi nama Tatar Ukur, dengan pemimpinnya yang kesohor bernama Dipati Ukur. (Bersambung).

Kamis, 13 Mei 2021

GAIRAH PENERBITAN BUKU - Antara Berkah dan Musibah

Oleh Doddi Ahmad Fauji

SEBELUM virus corona mengamuk, hingga menjelma ancaman pandemi semesta, gairah untuk menerbitkan buku dari masyarakat dunia, makin marak dan terus marangkak. Di Negara China misalnya, seperti dituturkan pengamat sastra China, Yan Haoran, setiap hari bila dirata-rata, di China terbit 2.000 judul novel. Jenis tulisan lain yang diterbitkan, tak disampaikan datanya. Yan adalah direktur pihak Tiongkok dari Pusat Bahasa Mandarin, Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Ia hadir menjadi pembicara untuk perhelatan sastra di Gedung Indonesia Menggugat pada 2018 lalu. Saya tentu hadir di situ, dan mendengar sendiri paparan dari Yan Haoran.

Di Indonesia juga cukup membeludak keinginan masyarakat untuk menerbitkan buku. Sebelum era pandemi, Perpustakaan Nasional Indonesia hanya melayani 500 judul buku, yang diusulkan untuk diberi ISBN, yang tentu berasal dari sekian penerbit. Lewat dari 500 judul, usulan hari itu ditutup, dan harus mengantri esko lagi, dan tentu harus dari pagi sudah mengajukan usulan. Pukul 10.00 WIB, kadang antrian sudah penuh, dan pendaftaran ditutup.

Sebanyak 500 judul buku per hari minta diberi ISBN, itu untuk berbagai jenis tulisan, baik fiksi (sastra) maupun yang bukan fiksi. Bila membandingkan ke China, tentu angka 500 itu masih jauh, sebab di China, rata-rata per hari mencapai 2.000 judul buku terbit untuk novel. Bila digabung dengan buku puisi, artikel, dan jenis tulisan lainnya, mungkin lebih dari 5.000 China menerbitkan buku.

Kenapa atuh usulan ISBN di Perpusnas kita dibatasi? Kalau tak dibatasi, jangan-jangan di kita juga usulan ISBN untuk novel dalam sehari mencapai 100-an judul, yang artinya sekira 5% dari usulan di China, dan hal itu terasa masuk nalar, sebab jumlah penduduk China lebih dari 1,3 miliar, dan penduduk Indonesia menurut sensus 2019, mencapai hampir 270 juta jiwa.

Perpusnas perlu membatasi diri, karena menyesuaikan dengan jumlah anggaran dan karyawan. Dalam rapat koordinasi dengan para penerbit Wilayah IV di Bandung, salah satu pimpinan Perpusnas menuturkan, karyawan yang mengurusi ISBN hanya tujuh orang, sementara usulan buku untuk diberi ISBN, perharinya kisaran 1.500 – 2.000 judul. Membatasi jumlah usulan yang masuk, adalah untuk merasionalisasi kinerja pemberi nomor ISBN.

Antusias masyarakat Indonesia untuk menerbitkan buku, tentu harus didukung oleh anggaran dari pemerintah, karena menurut Perpusnas, usulan ISBN itu harus bayar per buku ke London Library, selaku pusat penyelenggara ISBN internasional yang berkedudukan di Inggris. Nah, bayaran per buku itu memang disubsidi. Para penerbit tidak bayar ke London Library, sebab sudah ditanggung oleh Perpusnas. Nah, anggaran Perpusnas-nya harus ditingkatkan, untuk membayar tenaga kerja ‘outsource’ yang mengurusi ISBN, sekaligus membayar per judul. Maka bisa saja nantinya Perpusnas kita membebaskan per hari mau berapa judul yang mendaftar ISBN. Kita bisa mengukur pula, dengan jumlah penduduk mencapai 270-an juta jiwa, berapa judul buku per hari diusulkan untuk ber-ISBN oleh bangsa kita.

Perbukuan memang harus disubsidi, sebab inilah sektor yang ikut memacu pertumbuhan bernalar bangsa kita. Bukan hanya bagi kalangan masyarakat, tapi juga bagi kalangan pejabat dan aparat, kelas pengusaha dan penguasa, kegiatan bernalar harus ditingkatkan. Tingginya tingkat korupsi di semua lini, termasuk di lembaga keagamaan, adalah cermin bahwa nalar bangsa ini, seringkali terkubur oleh gejolak nafsu yang membujuk diri dalam memenuhi ini atau itu.

Pemerintah wajib menambah anggaran untuk perbukuan, dan lebih jauhnya lagi, untuk semua aktivitas intelektual. Pajak untuk para penulis, harus dihapuskan. Jika ada penulis sukses hingga jadi milyarder, sebutlah misalnya novelis A dari Kota B. Jangan kemudian pemerintah urusan pajak menjadi semacam rampok atau kompeni, yang hendak memungut pajak atau upeti kepada penulis.

Pemerintah wajib menambah anggaran, untuk mendanai sekian LOMBA kepenulisan yang benar dan berwibawa, agar berlahiran pera pemikir dan penulis bagi bangsa ini. Jangan lupa, bahwa penciptaan handphone atau gawai, mesin untuk otomotif, komputer, kamera, dan sekian penciptaan lainnya, itu adalah produk intelektual. Kenapa kita tidak bisa membuat mobi apalagi pesawat terbang? Ya karena bangsa kita kekurangan intelektual. Lomba menulis yang sungguh-sungguh, dengan apresiasi yang bukan sekadarnya, itu akan memicu lahirnya para intelektual.

Gaiarah menerbitkan buku terus meningkat, termasuk dari kalangan pengajar, terutama guru yang punya kewajiban memiliki karya tulis yang telah dibukukan dan ber-ISBN. Terutama lagi dari kalangan guru yang berstatus ASN (aparatur sipil negara, dulu mah namanya PNS). Para guru dari kalangan ini, cukup banyak yang bersikap “yang penting punya buku.” Soal kualitas isinya ‘acakadut’, mereka kurang begitu peduli. Mereka juga minim wawasan dalam penerbitan buku yang cukup kompleks, dari mulai mengedit naskah, tata letak isi, desain sampul, ilustrasi bila ada, administrasi, percetakan, dan apalagi cara promosi untuk menunjang penjualan buku.

Huhuhu... Gramedia saja yang punya toko buku lebih dari 100, makin sering melakukan cuci gudang, sebagai indikasi bahwa daya apresiasi masyarakat untuk membeli buku, tidaklah beranjak, atau malah mungkin menurun. Tentu tidak semua guru seperti itu. Nah, yang tidak seperti itunya itu, kira-kira 1 % dari jumlah guru ASN di Republik ini.

Bagi saya yang berkecimpung dengan penerbitan indie atau partikelir, antusias masyakarat yang makin meningkat dalam menerbitkan karya tulis menjadi buku, tentunya menjadi berkah, sebab dapat menghasilkan uang. Buku yang ingin terbit untuk kelengkapan naik pangkat, atau hanya untuk ogutisasi alias pencitraan, biar tampak keren dan intelek, saya terbitkan sambil merem. Perkara isinya ‘acakadut’ dan tidak diedit memenuhi standar komunikasi karya tulis, juga standar Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia tahun (PUEBI) 2016, itu adalah perkara lain.

Pihak Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten, atau kota, selaku penyeleksi dan penilai kenaikan pangkat, saya punya keyakinan, tidak akan memeriksa kualitas isi tulisan. Yang mereka periksa adalah administrasinya. Toh buku tersebut hanya untuk kenaikan pangkat/golongan yang penilaiannya bersifat administratif, maka yang penting, buku terbit dan ber-ISBN, diterbitkan oleh penerbit anggota IKAPI.

Setelah era reformasi, sebaiknya tidak ada kekuatan tunggal supaya tak semena-mena, maka saya tidak mendaftarkan penerbit indie yang saya kelola untuk menjadi anggota IKAPI. Saya berencana mendirikan asosiasi penerbitan, supaya IKAPI tidak sendirian. Memang sekarang sudah ada Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI). Nah bagus itu ada APPTI.

Ketika saya diminta mengedit secara detail, dengan menerapkan konsep ilmu jurnalistik terapan (pers), ilmu linguistik terapan (ejaan dalam tulisan), serta ilmu sastra fiksi, maka itu akan memakan waktu, untuk bisa mengubah atau merombak karya tulis, terutama dari kelas pemula. Saya mengambil standar ke gaji yang pernah saya terima pada 2011, saat menjadi reporter senior ‘cum’ editor di sebuah koran, bila dira-rata tahun itu mencapai Rp.250.000 per hari untuk 24 hari kerja. Itu tahun 2011, tentu tahun ini minimalnya mencapai Rp.350.000 per hari.

Maka untuk mengedit dalam artian hanya mengoreksi ejaan dan keabsahan kata, termasuk tata letak isi buku, untuk buku yang mencapai 100 halaman ukuran A5, itu butuh waktu 2 hari. Kalau untuk mengedit dalam artian merombak tulisan, terutama ‘ngalelempeng’ nalarnya yang kadang bengkok, itu bisa memakan waktu mencapai 5 hari.

Bila lima hari kerja dibayar per hari Rp 350.000, maka jelas akan jatuh pada angka Rp 350.000 X 5 hari = Rp. 1.750.000 untuk biaya editing dan tata letak isi. Ditambah biaya desain sampul dan ongkos cetak untuk 10 eksemplar buku, ditambah lima eksemplar untuk dokumentasi perpustakaan nasional, perpustakaan daerah, dan penerbit, maka dana yang dibutuhkan sekira Rp 2.200.000. Ketika angkat tersebut saya sodorkan kepada yang order buku, ia bilang, “Kok, mahal ya?”

Sesungguhnya itu murah, jika ia tahu Sayidina Ali pernah berkata, “Bahwa segala urusan sebaiknya diserahkan kepada dukun-nya atau ustadnya, kalau tidak, maka tunggulah kehancurannya.”

Jika si guru tersebut ahli dalam menulis, maka penerbit tak perlu cape-cape mengedit. Ini masalahnya, dia menganggap mengedit itu gampang, hanya ngoreksi typo. Mengoreksi typo dan ejaan itu memang bagian dari proses editing, tapi di koran, pelaksana checking itu disebut dengan checker. 

Proses editing itu ada tahapannya, dari mulai yang terendah yaitu checker, lalu masuk ke rewriter (menulis ulang) supaya naskah layak terbit, dan terakhir, tentu yang paling sulit, adalah merevisi. Visi itu artinya mimpi, atau gagasan inti. Nah, bila sebuah naskah harus di-revisi, itu artinya naskah pada jaman dulu, lebih layak ditaruh di keranjang sampah.

Tapi apa dikata, kita sekarang memasuki era ogut (citra), dan makin banyak orang melakukan ogutitasi, termasuk ogutisasi lewat karya tulis dan buku. Sering kali di facebook saya melihat foto kuntil anak atau bebegig yang sedang memegang buku, sebenarnya bukunya bisa diganti dengan serbet, lalu ia menambahkan keterangan foto, “alhamdulillah literasi makin berjalan”.

Cara dia selfie memegang buku, atau bukunya hanya dipegang, sudah mencerminkan ia tidak suka baca buku, maka makin tercermin pula nalarnya tidak jalan. Tapi kuntil anak dan bebegig begitu, kini makin ‘ngabadeg’ jumlahnya, dan termasuk dari kalangan pengajar. Saya suka sedih, bukan memikirkan diri saya, karena hidupku tinggal menunggu maut. Tapi memikirkan anak-cucu kami, apa iya akan jadi anak yang moncer bila diajari oleh guru yang macet bernalar?

Maka dari sisi itu, saya melihat, gerakan ingin menerbitkan buku adalah musibah, dan tidak sejalan dengan gerakan literasi, yang tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan bernalar. Literasi memang dekat dengan urusan penerbitan buku. Tapi dalam penerbitan buku, bukan hanya perkara literasi yang dikembangkan di era sosmed ini, namun juga perkara ogutisasi alias pencitraan, perkara ‘omon kocon’ alias ugotisasi, juga berkembang marak.

Mereka yang mempromosikan buku dengan cara foto selfie, yang bukunya hanya dipegang, yang bukunya itu bisa saja diganti dengan alat kontrasepsi atau serbet, sesungguhnya jauh di dalam batin mereka, telah bernaung mental kuntil anak atau bebegig.

Mari kita selamatkan gerakan literasi nasional ini, salah satunya dengan menyadarkan para kuntil anak dan bebegig yang doyan melakukan ogutisasi alias pencitraan, dan ugotisasi alias kampanye buruk. * Peun!

Catatan ‘Tafakarul Ihtiyati’ Atas Kemenangan Willy Fahmi Agiska pada HPI 2020

Bila bicara dari sudut pandang ‘corps de esprite’, hanya ada satu reaksi yg patut diejawantahkan, yakni kemenangan Willy itu, harus disyukuri dengan bangga, bahwa ada frase yg heroik bisa diteriakkan hingga ke langit terjauh: "ASAS uber Alles!" (ASAS di atas segala komunitas).

 

Namun seiring dengan itu, atas nama kemajuan peradaban literasi, ada beberapa sudut pandang yang perlu direnungkan, dilontarkan, baik bersifat afirmatif, evaluatif, maupun introspektif.

 

Buku antologi Willy sebagai pendatang baru, bisa melibas para pesohor yang sudah memiliki jam terbang mendekati sakratul maut, adalah fenomenal sekaligus kontroversial. Buku Willy melebihi fenomenanya ‘Kuda Hitam’ dalam ajang sepakbola, yang kerap muncul di berbagai kompetisi. Dikatakan melebihi, karena ini benar-benar menyodok aras ‘common sense’: Apa iya buku Afrizal Malna bisa kalah oleh buku Willy?

 

Untuk menjawabnya, saya ingin melihat dari faktor realita dewan juri. Dari tiga orang itu, dua Dewan Juri sudah melampaui usia 70, bahkan mau menyentuh angka 80. Usia yang sering ditilik dari dua dimensi yang berseberangan.

 

Dimensi pertama, para pelanjut usia itu sering ditahbiskan sebagai insan kamil yang telah mencapai maqom makrifat, yaitu menelisik hakikat di balik hakikat sebuah soal. Bila ini yang benar, maka berarti selama ini, puisi-puisi yang diagung-agungkan oleh aneka festival dan media massa pemuat puisi, ternyata tak lebih dari puisi profan yang tidak memberikan secercah aufklarung. Hanya wadag kata-kata yang bersembunyi di balik doktrin ‘l arte pour ‘l arte, namun tak memberi efek positif bagi nilai-nilai kemanusiaan. Para juri yang sudah sepuh itu, justru menemukan alam katarsis pada puisi pendatang baru.

 

Dimensi kedua, usia mendekati 80 tahun itu, di mana usia tidak bisa berbohong, adalah usia memasuki gerbang kepikunan. Jangan-jangan karena sudah pikun, para juri itu, sudah tidak bernas dan jernih lagi dalam menilai. Karena mereka senior, hukum feodalisme mengatakan seperti ini: Fasal 1: senior tak pernah salah. Fasal 2: Bila senior salah, kembali ke fasal 1. Tardji dan Hadi, akhirnya memveto Maman sebagai junior yang jadi tumbal.

 

Selain catatan untuk keputusan dewan juri yang fenomenal dan kontroversial itu, setuju tak setuju, bahwa bangsa ini tidak memiliki teori ilmu modern yang aseli dan asali. Semua ilmu modern, termasuk ilmu perpuisian dan filsafat, bahkan ajaran agama, adalah hasil impor dari seberang. Kita menilai diri sendiri, dengan menggunakan kacamata orang lain. Maka selain memberikan catatan pertanggungjawaban, semestinya juri memberikan analisis yang akurat, dan bila mungkin, pisau untuk menganalisisnya itu, dibakukan dan dibukukan, sehingga secara pelan-pelan, kita menciptakan kaidah dan rumus sendiri, agar lebih jauhnya lagi, bangsa ini bisa membuat mesin sendiri, komputer sendiri, juga handphone sendiri. Jelas karena honor yang tidak memadai, kehendak yang ideal menurut saya itu, sulit untuk diwujudkan, seperti sulitnya mencari ketiak ular. Jikapun dibuat analisis, sifatnya akan asal-asalan.

 

Di atas semua itu, maka akan sangat bijak bila hadiah yang diterima oleh Willy, digunakan untuk sekolah filsafat, dan filsafat tertinggi itu, ialah batu nisan!

Rabu, 02 Oktober 2019

KOMET MELESAT TAK BERBEKAS











Ceracau tentang Estetika
Kiranya kita memang memasuki era instanisasi sebagai dampak dari penemuan teknologi kominikasi dan informasi. Apa-apa yang terjadi, di belahan manapun, selama memiliki android, ada kuota dan jaringan, maka dengan mudah bisa diwartakan. Tidak seluruhnya buruk dengan adanya kemudahan ini, terutama bagi mereka yang telah memiliki kuda-kuda estetik yang kuat. Penemuan teknologi konvergentif itu, justru jadi berkah. Para penyair senior yang kuat kuda-kudanya dan punya jurus maut, yang semula mungkin akan pensiun, kini kembali turun gunung, untuk berkhotbah dan memberikan tausiah estetiknya. Sungguh ini suatu yang bagus, sebab pengetahuan yang bersifat best practise, perlu diregenerasikan agar tidak lenyap bersama wafatnya sang kalangwan (penyair).

Kenapa penyair yang saya sebut, dan bukan misalnya penulis artikel?

Sebelum ada para penulis artikel dan penulis cerita, penyair sudah duluan ada di muka bumi, tepat setelah Tuhan bersabda untuk yang pertama kalinya kepada mahluk bernama manusia. Bapak Adam, leluhur kita itu, adalah penyair romantik dan melankolik, yang dapat kita cerna melalui puisi pastoral-nya, yang sering didawamkan di mesjid-mesjid jelang Subuh atau Magrib: Robbana, dolamna amfunasa, wa illam tagfirlana, wa tarhamna, lakunana minal khosirin (Ya Tuhanku, aku telah memperkelam diri, dan seandainya tiada maaf, juga tiada seberkas cahaya kasih, betapa aku akan terpuruk dalam kerugian yang nyata). Ratapan Adam itu, diabdikan dalam hollybook, dalam surat tentang Sapi Betina (al-Baqoroh).

Sebelum ada raja dan adipati, panji dan aryo, temenggung dan wedana, penyair telah duluan berdaulat di muka bumi. Juga sebelum ada presiden dan anggota parlemen, penyair duluan lahir untuk menyampaikan konsepsi tentang pembangunan manusia dan bangsa. Penyair yang sungguh-sungguh, lebih bermanfaat dari pejabat yang degil.

Nah, era konvergentif di bidang teknologi ini, dengan anak emasnya berupa sosmed, amat bermanfaat untuk memanggil para penyair yang telah menjadi pertapa, agar kembali menggeliat. Mereka harus melihat realita terkini, dan saya berharap lahir pencerahan-pencerahan dengan kemasan baru. Sesungguhnya tidak ada yang benar-benar baru di muka bumi ini, sebagaimana dikemukakan orang Inggris: Nothing new under The Sun. Tapi kemasan baru, itu yang kiranya selalu muncul ngigelan jaman.

Para kalangwan (penyair) yang telah mencapai jalan makrifat, harus diojok-ojok namun bukan untuk dielu-elukan. Mereka tetap harus menjadi pembanding dan pembeda dari para penyair calon yang kini bertebaran di sosmed. Gila sungguh, eh sungguh gila, saya menerima sekian ceramah dan khotbah dari anak kemarin yang baru seumuran jagung, yang disampaikan lewat messengger. Tapi kudengarkan saja bayi itu menceracau dan meyakini pendapatnya. Bayi itu berkata, “Ngapain gua harus ikutan lomba cipta puisi, karena belum tentu menang. Ngapain susah-susah ngirim puisi ke koran yang selektif itu, toh belum tentu dimuat, dan belum tentu dibaca teman-teman gua. Emangnya ada anak milenial yang baca koran? Mendingan ya disampaikan lewat youtube, mudah diakses pula!”

Khotbah bayi itu, gegara saya menyampaikan saran begini, “Bagus loh tayangan di youtube-nya, saya mau belajar dong bikin video yang seperti itu. Namun kalau boleh saran, coba puisinya diasah dan diadukan dulu, disuruh tanding, coba kirim ke koran atau ikut lomba!”

Saran dibalas dengan picingan. Hek!

Hal yang buruk dari sosmed itu, bisa melahirkan jutaan komet yang melesat begitu cepat, lalu lenyap dicerna buana, tanpa jejak dan nyaris un-faedah! Calon-calon komet itu jelas tidak memandang penting belajar dari sejarah. Bahwa telah ada jutaan artis di muka bumi ini, dari waktu ke waktu, yang datang melejit namun tak perlu waktu lama, kembali terpuruk lalu ambruk. Norman Kamaru, atau brigadir yang melepas kedudukannya sebagai PNS Polri, karena uang saat itu sedang mengejar-ngejarnya, setelah ulahnya jadi viral, adalah salah satu contoh yang barangkali orang sudah lupa. Norman Kamaru yang sempat jadi buah bibir infotainment itu, kini jadi pedagang bubur yang mudah mengeluh, disebabkan bubur dagangannya kurang laku, tapi semoga saja belum laku.

Kuda-kuda estetik memang harus kokoh, bahkan konsepsi tentang kadaulatan estetik, juga harus dimiliki, sebelum berselancar di negeri maya yang bernama sosmed itu. Tetapi apakah esetetika?

Berkali-kali sering saya paparkan, estetika adalah rentetan terakhir dari potensi yang dimiliki manusia, setelah aras logika dan ranah etika. Susunan Logika, Etika, Esetetika adalah penemuan Yunani Kuna yang amat bernilai, yang jadi sebab lahirnya filsafat dan teknologi modern seperti kita nikmati sekarang ini.

Logika ialah sebuah berkah bagi manusia, yang harus disyukuri dengan jalan mengasahnya terus- menerus, agar tajam berkilau, dan mampu menjadi pisau analisis yang tajam. Logika memang menjadi potensi jiwa manusia yang pertama, baik menurut konsepsi Barat, maupun menurut qowaid dalam Quranul Karim. Logika dalam bahasa agama, adalah apa yang disebut dengan akal. Agama itu sendiri, diturunkan hanya untuk orang yang berakal. Jika akalnya tidak waras, tidak dikenai hukum atau kewajiban untuk menjalankan agama. Pendapat tersebut, adalah menurut para Wahabiah dengan mengambil dalil dari hadits yang berbunyi rufial qolamu an tsalatsatin, aninnaimi hatta yastaiqodo, wa annisshobiyi hatta yahtalima, wa anil majnuni hatta yaqila (tidak dikenai hukum wajib bagi tiga golongan, yaitu orang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia dewasa, dan orang yang tidak waras hingga kembali berakal).

Lema ‘akal’ berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘aql’ yang artinya berpikir. Kosakata akal ’aql’ disebutkan dalam Quran sebanyak 49 kali. Derivasi kata kerja ta’qilun, diulang sebanyak 24 kali, derivasi kata kerja ya’qilun diulang sebanyak 22 kali, dan derivasi kata kerja ’aqala, na’qilu, dan ya’qilu masing-masing terdapat satu kali. Yang menarik, terdapat penggunaan bentuk pertanyaan negatif (istifham inkari’) yang bertujuan memberikan dorongan dan membangkitkan semangat, seperti kata “afala ta’qilun” (apakah kalian tidak berpikir), diulang-ulang sebanyak 13 kali dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah firman kepada Bani Israel sekaligus kepada kita agar tidak seperti itu, dalam Surat Al-Baqoroh ayat 44; أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ (Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?

Nah lalu, mereka yang telah sampai pada logika yang waras atau common sense, akan mengetahui seperangkat aturan atau tatacara. Aturan atau tatacara itulah yang disebut dengan etika.

Ranah etika terbagi ke dalam tiga parsial, yaitu etika normatif, etika metodologis, dan etika teknikal.

Etika normatif semuanya bermuara pada nilai yang intangible (tak nampak). Ada dua norma, sebagaimana disepakati para ilmuan, yaitu norma yang tertulis atau konstitusi, dan norma yang tidak tertulis atau konvensi. Di neraga kita, ranah etika normatif ini terasa riuh karena campur baur antara etika yang bersumber dari kontitusi (perundang-undangan), dengan yang berasal dari konvensi agama atau adat. Jika sebagian yang satu memaksakan kepada sebagian yang lain akan etika yang diyakininya benar, namun tanpa dinalar dengan radikalisme logika, maka akan terjadi perbenturan. Saling serang antara ustda dengan pendeta di youtube, adalah contoh adanya perbenturan etika normatif yang masing-masing merasa sudah paling benar, dan tiada lagi kebenaran selain pendapatnya.

Lalu etika metodologis adalah apa yang disebut dengan teori atau rumus dalam ilmu matematika. Sesuatu yang harus dijalankan dengan memijak pada ‘rel’ yang sudah ditentukan. Bila keluar dari rel, maka tidak akan sampai pada stasiun yang dituju, sebab penempuhan jalan telah melenceng dari rel-nya. Resep makanan, atau rumus script dalam dunia web, bisa dicontohkan masuk ke dalam kategori etika metodologis.

Parsial terakhir, Etika Teknikal itu berkait dengan kemampuan teknik, seperti dalam dunia sport. Cara mendribling bola, ada ketentuannya yang paling praktis. Cara menyetop bola yang diumpan melambung dengan kencang, ada etikanya yang paling praktis tanpa si bola itu memantul.

Nah, barangsiapa yang bisa bertindak dengan menyelaraskan ketiga parsial etika itu, ia akan tampak memukau atau indah, atau sudah nyeni.

Etika memang harus diafirmasi oleh hukum akal waras, agar melahirkan suatu aksi yang memikat. Aksi yang memikat itulah yang disebut dengan pukauan, atau dalam bahasa Latin disebut dengan aesthetic. Kesenian, adalah salah satu cabang dari estetika. Sekarang ini, semua norma kesenian telah lebur. Pure art, hight art, low art, telah dihilangkan batas dan sekatnya. Memisahkan seni murni dari seni terapan, adalah ketinggalan jaman. Sebab memang, semua bidang mengandung unsur keseniannya masing-masing. Barat telah mengacaukan definisi estetika yang mereka canangkan, dengan pembagan seni murni dan seni terapan. Barat pula yang kemudian mulai membongkar kembali batasan yang mereka buat. Sayangnya, seniman bangsa kita hanya pengekor dari konsepi yang dimaklumatkan oleh mereka. Padahal bangsa ini punya konsepsi tersendiri tentang estetika, yaitu apa yang disebut dengan wirahma, wirasa, dan wiraga.

Saya membaca sekian puisi yang masuk lewat berbagai grup perpuisian di facebook, dan terlalu banyak puisi yang tidak logis, menurut ukuran logika yang pernah saya canangkan dalam perpuisian. Banyak orang yang berpendapat, puisi itu tidak membutuhkan logika, dan karena itu boleh tidak logis. Tapi saya tetap bersikukuh pada pendapat, bahwa puisi harus logis menurut logika inderawi, logika bahasa, dan logika komunikasi. Boleh Anda melanggar ketika logika tersebut, dengan catatan, puisi Anda bisa diibaratkan sebagai orang gila yang melantur di hadapan tembok atau di jalanan. Puisi yang seperti itu, di era sosmed ini, bisa menjadi komet yang melesat begitu cepat, namun segera susut dan sirna dicerna buana, tanpa bekas dan un-faedah!