SITUSENI: DAF
Tampilkan postingan dengan label DAF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DAF. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2021

Seperti Apa Konsep Musikalisasi Puisi yang Tepat?

Konsep dan contoh-contoh musikalisasi puisi

Ingat ini. 

1. Musikalisasi puisi, bukan membaca puisi diringi musik, misalnya petikan gitar atau piano, atau lantunan lagu.

2. Musikalisasi puisi juga bukanlah menciptakan lagu dengan liriknya mengambil dari puisi. Musikalisasi puisi lebih luas dari keduanya, atau bisa jadi gabungan dari keduanya.


Ada yang bertanya ke saya seperti ini: Mau tanya konsep musikalisasi puisi, 

Pernah lihat di acara Parasamya tahun lalu, ada share musikalisasi puisi di grup

Saya jawab:

Banyak pandangan mengenai musikalisasi puisi

1. Sebenarnya dalam puisi sudah mengandung unsur musik, berupa rima (nada), ritma (irama), dan metrum. Maka musikalisasi, bisa saja baca puisi biasa, tapi dengan menggunakan konsep bermusik (lagu accapela).

2. Sebuah musik berupa lagu, yang diangkat dari puisi, baik liriknya, imajinasi dan suasana.

3. Baca puisi didiringi musik yang sesuai dengan nada dalam puisi

 Kumaha abdi da Persib ge nu abdi (konsep paling tidak berkonsep)

Kujawab: Artinya kita bisa membuat konsep dengan ide kreatif?

Betul, tapi No 1 dan 2 yg paling mendekati. Ini contohnya.

Banyak yang berpikir, musikalisasi itu baca puisi diiringi musik, benarkah?

Jawabannya bisa benar tapi bisa tidak, tergantung pada ketepatan antara ISI puisi, dengan keselarasan suasana dalam puisi.

Jika puisi ke mana, musik ke mana, maka itu tak nyambung, maka itu bisa dikatakan sebagai musikalisasi puisi yang gagal.

1. Di Mesjid, puisi Chairil Anwar, oleh Adew Habtsa

https://www.youtube.com/watch?v=RrkV78dNEaM

2. Pembacaan puisi biasa, tidak dinyanyikan, tapi unsur musikal dalam puisi selaras dengan ilustrasi musiknya, bisa mendekati. Ini bisa dikatakan pembacaan puisi yang mendekati konsep musikalisasi puisi:

https://www.youtube.com/watch?v=-fqE4lWJiL0

3. Penyair yang Terluka, puisi Hary Udo (Dosen Seni Musik UPI Bandung), dinyanyikan Tjepi Budiman

https://www.youtube.com/watch?v=Rk-WlgZHqjI

4. Kerinduan Sejati, puisi Riantiarno (Teater Koma), dinyanyikan oleh Bilqistival Asla, Naifah, Atik

https://www.youtube.com/watch?v=UwiPytMvCXc

Puisi, Imajinasi, dan Daya Cipta

Pengantar Apresiasi

Oleh Doddi Ahmad Fauji

Saya menerima naskah dalam buku ini, yang merupakan kumpulan puisi jenis akrostik karya siswa, guru, staf dan  Kepala SMPN Satap Cibinong, Purwakarta. Naskah ini untuk dibaca, dan sejatinya dikoreksi, di-layout (tata letak isi), selanjutnya diterbitkan. Pekerjaan ini, sejak 2016, terasa sudah menjadi kerja mekanis bagi saya. Apa-apa yang telah menjadi mekanis, banyak orang yang bisa mengerjakannya, sepanjang dia bisa tulis-baca, dapat memahami fungsi kata dan kalimat, punya kepekaan estetika visul, apalagi jika rajin studi komparasi atau membandingkan hasil kerjanya, terhadap hasil kerja orang lain yang sudah mahir. Tidak butuh pendidikan tinggi, yang penting dia mau belajar dan bersungguh-sungguh, saya yakin dia akan bisa menyelesaikan pekerjaan yang disebut mekanis di atas.

Sejatinya saya harus mengedit naskah, dan bukan hanya membaca atau sekedar mengoreksi. Buku yang terbit, selaiknya memiliki tingkat keterbacaan bagus, hingga isinya dapat dipahami oleh segmen pembacanya. Namun sejujurnya, tak semua naskah dapat diedit seperti itu, karena keterbatasan waktu, anggaran, dan tujuan tulisan diterbitkan menjadi buku. Untuk apa sebenarnya karya tulis diterbitkan menjadi buku?

Ada banyak alasan karya tulis diterbitkan menjadi buku ber-ISBN untuk saat ini, dari mulai yang filosofis, pragmatis, hingga tujuan perniagaan. Di tengah makin mudahnya informasi didapat, sementara penjualan buku terasa lesu, penerbitan buku justru makin bergemuruh. 

Bukan penerbitan bukunya yang paling bernilai, tapi pijar api penciptaan dalam dada siswa, yang dituangkan menjadi aksara, semoga mewujud jadi imajinasi, dan kelak dituangkan ke dalam penciptaan benda-benda. Saya selalu meyakini, awal penciptaan dimulai dari kata, kemudian menjelma imajinasi, dan mewujud jadi benda-benda. Allah berfirman, bila Ia menghendaki sesuatu, Ia akan berkata “Kun”, lalu “Fayakun” (Jadi, maka jadilah) : (QS: Yasin ayat 82).

Terkadang puisi tampak sederhana saat dibaca, mudah untuk ditulis, tapi ada puisi yang begitu rumit untuk dipahami. Namun baik terbaca mudah atau rumit, menulis dan menilai puisi membutuhkan kesungguhan, dan kesungguhan itulah awal dari semua keberhasilan, sebagaimana tertuang dalam pepatah orang Arab: manjada wajada (anu keyeng tangtu pareng, atau siapa yang bersungguh-sungguh ia akan beroleh). 

Selain menciptakan mesin, komputer atau laptop, telepon dan kamera canggih, ternyata kata-katalah yang mesti diciptakan terlebih dahulu oleh bangsa ini. Selain harus mengimpor peralatan teknologi tepat guna, ternyata kita juga menjadi bangsa yang rajin mengimpor kata dan istilah dari luar. Jika kata saja harus kita impor, apalagi piranti teknologi canggih. Mati kita simak istilah bahasa (lingustik) yang begitu banyak diimpor dari luar: fonem, morfem, sintaksis, paragraf, pragmatika, semiotika, semantika, sufiks, infiks, konfiks, simulfiks, sinonim, homonim, euforia, dan lain-lain. Bahkan istilah untuk ilmu bahasa, kita harus ngimpor.

Anak-anak kita yang menulis puisi akrostik dalam buku ini, yang membaca tulisan saya ini, semoga terinspirasi untuk suatu hari nanti, mereka mulai merintis penciptaan kata sendiri, yang tepat dan sesuai dengan alam, udara, air, tanah, makanan bangsa Nusa-Antara. Setelah mencipta kata, lalu mengembangkan imajinasi, merumuskan falsafah, moga bisa menciptakan piranti teknologi untuk kelangsungan hidup yang ‘rahmatan lil alamin’.

Orang China dan Jepang, tidak mengadopsi begitu saja kata asing. Mereka menciptakan kata baru, atau mencari padanan yang selaras. Misalnya komputer,  di Tiongkok bukan terjemahan lafal asli, tapi istilah ciptaan dalam bahasa Tionghoa: 电脑 (dian nao, dibaca tien nao),  yang arti harfiahnya otak listrik. 

Bangsa kita akan segera menjadi bangsa modern, dan sejahtera, tapi nanti, setelah mampu menata bahasa yang dimulai dari penciptaan kata, dari penulisan puisi yang serius.

Bandung, 2021

Pemred SituSeni

Rabu, 04 Agustus 2021

BERMULA DARI KATA - Pengantar untuk buku Selasih


Oleh Doddi Ahmad Fauji

Bermula dari kata KUN, kemudian FAYAKUN... Jadi, maka jadilah. 

Demikianlah, bila Allah Swt menghendaki sesuatu, Ia akan mengucapkan larik ‘kun fayakun’ atau jadi maka jadilah. Larik tersebut setidaknya terdapat dalam Quran surat Yasin ayat 82: Innama Amruhu Idza Arada Syaian An Yaqula Lahu Kun Fayakun. Artinya: Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, Jadilah, Maka jadilah ia. Qs. Yasin: 82.

Larik di atas menerangkan kepada para pembaca, bahwa penciptaan langit dan bumi, ternyata dimulai dengan kata Jadi!

Berangkat dari argumentasi tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa penciptaan dalam banyak hal, dimulai dari KATA. Orang Arab sangat mempercayai hal ini, sehingga keluar ungkapan dari Arab yang berbunyi: al-ashlu lugotan, maa buniya ‘alaihi ghoirihi (asal usul itu dari kata, tak ada yang menyamainya).

Bangsa Indonesia saat ini, dalam pergaulan peradaban internasional, harus mengakui, adalah bangsa yang kurang kreatif dalam penciptaan peralatan teknologi. Kita tidak bisa menciptakan tiga perangkat teknologi yang amat penting untuk kemajuan peradaban lanjutan, yaitu kita tak bisa menciptakan telepon, mesin, dan komputer. Jalanan kita macet, tapi kendaraan yang memenuhinya adalah hasil belanja dari bangsa asing, dan pembelajaran daring makin semarak, tetapi peralatan yang digunakan adalah hasil penciptaan bangsa lain. 

Bahkan kita tidak bisa menciptakan baru dalam peradaban baru, juga bahkan dalam dunia pendidikan. Kita harus mengimpor kata untuk menamai berbagai mata pelajaran dari sejak TK hingga S3. Mari kita periksa istilah mapel untuk ilmu sosial maupun ilmu sain: Matematika, fisika, kimia, biologi, geografi, sosiologi, antropologi, dll, adalah kaya yang kita impor. Kemandulan dalam memproduksi kata, berdampak lanjutan pada mandulnya menciptakan piranti lainnya, terutama piranti teknologi informasi, transportasi, dan kelayakan hidup.

Para pencipta kata, diterangkan dalam Quran surat ke-26 (para penyair) adalah para penulis puisi, atau yang kemudian disebut penyair. Sungguh, penyair atau pencipta kata, dimuliakan oleh Allah dengan dimaktubkannya sebutan para penyair dalam surat ke-26 itu. Saya bersyukur karena kini makin marak orang-orang menulis puisi, dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan amademik (guru dan dosen) berserta siswa dan mahasiswa. Semoga gairah berpuisi dari berbagai kalangan itu, berimbas pada kelanjutan untuk memahami hakikat atau esensi kata.

Hakikat atau esensi kata sungguh perlu dipahami, dan bahkan dilaksanakan jika yang termaktub dalam kata tersebut berupa perintah, dan atau kita tidak berbuat sesuatu yang dilarang oleh kata.

Kata adalah bagian dari aksara, dan adalah merupakan unsur terkecil yang punya makna, yang membentuk bahasa. Bahasa diwakili atau ditandai oleh aksara, dan dalam bahasa Eropa (Inggris, Jerman, Prancis, Belanda), aksara itu bisa diartikan dengan literasi. Nah, berliterasi itu artinya ber-aksara. Beraksara yang dimaksud ialah, memahami arti leskisal (kamus) sekaligus memahmi makna esensialnya (hakikat kata).

Puisi seperti yang tertuang dalam antologi Selasih Bertunas Emas. Antologi Catatan Buah Hati Dalam Puisi, adalah salah satu jalan untuk memahami syariat (leksikal) dan hakikat kata, dan para pembaca serta penulis puisi, harus benar-benar bergelut untuk dapat memahami syariat dan hakikat kata itu. Bila tidak, maka puisi yang bagus bisa saja tidak terpahami karena si pembaca kurang bersungguh-sungguh dalam mempelajari kata. Bila tidak, bisa saja puisi yang ditulis para penulis puisi, kurang memancarkan marwah kata KUN (Jadi)!

Saya kurang leluasa bila harus membahas puisi-puisi dalam antologi ini, karena dibutuhkan pembacaan yang bersungguh-sungguh, serta menuangkannya dalam catatan panjang. Sekilas dapat saya tangkap, bahwa upaya untuk berkomunikasi kepada yang lain (yang membaca) melalui kata yang simbolik dan indah melalui puisi, sudah terasa dalam beberapa puisi yang ada pada antologi buku ini. Selanjutnya, kepada para penulis maupun pembaca puisi dalam antologi ini, saya ingin menyampaikan pendapat tentang tafsir menurut saya dari kata ‘iqro’ yang merupakan kata pertama dalam wahyu pertama, yang diterima Nabi Muhammad.

Kenapa kata pertama itu berbunyi Iqro, dan apa artinya iqro?

Secara harfiah (huruf) atau makna syariyah (leksikal) dari kata iqro adalah membaca. Semua orang Islam yang pernah belajar ngaji, tahu benar kata iqro itu adalah perintah untuk membaca. Namun ada pertanyaan lanjutan untuk memahami maksud dari kata pertama dalam wahyu yang berbunyi ‘iqro’ itu, yaitu buat apa sebenarnya membaca? \

Jawaban atas pertanyaan ‘buat apa membaca?’ adalah yang menjadi penjelasan dari makna esensial (hakikat) dari kata iqro. 

Kita membaca supaya kita memahami bacaan, supaya kita memahami kehidupan. Maka perintah iqro dalam Quran itu, hakikatnya adalah supaya kita memahami isi Quran (qouliyah). dan memahami kehidupan ini (qouniyah). Jika kita sudah hatam membaca quran, bahkan tertalar, namun kurang paham artinya (terjemahannya), juga kurang paham tafsirnya (hakikatnya), maka bisakah kita disebut sudah membaca? Mungkin bisa disebut sudah membaca, tapi baru pada tahap melapalkan.

Nah, lalu, buat apa kita memahami isi bacaan?

Jawaban atas pertanyaan di atas, akan menjadi penjelasan ma’rifat dari makna iqro. Kita membaca supaya paham, dan setelah paham, kita harus melaksanakan atau menjalankan apa yang sudah kita pahami itu. Maka secara makrifat, arti dari iqro itu, bukan saja bacalah, pahamilah, namun sekaligus laksanakanlah!

Lalu kenapa kita mesti berpuisi?

Kita berpuisi bukan sekedar merangkai kata, namun hendak berkomunikasi dengan yang lain (pembaca), dengan mengkomunikasikan hal yang baik, dengan maksud yang baik, dan dengan bahasa yang baik. Ingatlah bahwa puisi adalah rangkaian kata, dan kata adalah awal mula dari penciptaan. Nah, berliterasi itu, kita belajar memahami makna dan hakikat kata, serta melaksanakannya, jika itu berupa perintah, dan menjauhi larangannya, jika itu memang larangan. Mari kita terus berpuisi dan berliterasi, sebab dari puisi, bisa lahir imajinasi, dan dari imajinasi, lahir filsafat, dan filsafat adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan barat. Bisa saja kelak, kita berpuisi dengan berimajinasi, dan generasi penerus setelah kita, kelak berhasil menciptakan peradaban canggih, dan kita tidak lagi menjadi bangsa pengguna, pengikut, dan pembelanja alias konsumtif. Bermula dari puisi yang sungguh-sungguh, tidak mustahil lahir komputer baru, mesin baru, telepon baru, buatan bangsa Indonesia. Semoga!

Doddi Ahmad Fauji

Penulis buku Menghidupkan Ruh Puisi

Pemimpin Redaksi SituSeni.

Selasa, 13 Juli 2021

UNSUR-UNSUR PALING PENTING HARUS ADA DALAM BACA PUISI & CONTOH SKENARIO BACA PUISI


1.      
Tafsir yang benar terhadap puisi yang dibaca, akan mewujud dalam bentuk:  

a.       Puisi yang dibaca akan terdengar dan terasa komunikatif di telinga pendengar, atau di telinga dewan juri, jika pembacaan puisi itu dilakukan dalam lomba. 

b.       Akan terdengar pula intonansi larik atau baris yang dibacakan, benar menurut hukum bahasa. Larik atau baris, atau kalimat menurut bahasa, terdiri dari tiga jenis, yaitu pernyataan, pertanyaan, atau sanggahan. Pahamilah dengan benar larik per larik dalam puisi, apakah ditulis oleh penyair sebagai larik pernyataan, pertanyaan, atau sanggahan? 

c.       Enjabemen atau penghentian pelapalan kata/larik akan benar, jika tafsir terhadap puisi itu sudah benar. 

Ketiga syarat yang disebut dalam poin a, b, can c adalah berdasarkan pendapat para pakar perpuisian, seperti Prof. Dr. Henman J. Waluyo dari UNS Solo melalui buku berjudul Apresiasi Puisi, lalu menurut Prof. Dr. Suminta A. Sayuti dari UNY Yogyakarta melalui buku Berkenalan dengan Puisi, menurut Doddi Ahmad Fauji dari sanggar Literasi SituSeni melalui buku Menghidupkan Ruh Puisi. 

2.       Jika tafsir terhadap puisi sudah benar, insya Allah akan melahirkan imajinasi yang masuk akal atau logis. Betapa penting memahami logika dalam puisi. Ada 4 logika yang tidak boleh diabaikan, yaitu: logika indrawi, logika bahasa, logika komunikasi, dan logika cerita. 

3.     Bila imajinasi sudah masuk di nalar atau akal, maka selanjutnya seorang pembaca puisi akan lebih bisa menghayati puisi yang dibacakannya. Penghayatan itu terkait dengan suasana dalam puisi. Adapun suasana dalam puisi itu, akan sejalan dengan suasana hati yang dirasakan dan dipresentasikan oleh si penulis puisi.  

4.     Selanjutnya, bagus atau tidak bagus seseorang dalam membanca puisi, secara teknis akan dipengaruhi oleh metrum (tinggi rendahnya suara), artikulasi atau kejelasan tiap kata yang dilapalkan, intonansi atau jenis kalimat pernyataan, pertanyaan, sanggahan, serta power (kekuatan suara).  

Teori di atas, akan saya paparkan dalam praktik pembacaan puisi wajib dan puisi pilihan dalam Lomba Baca Puisi FLS2N tingkat SMA tahun 2021/2022. 

Perhatikan bagaimana unsur-unsur yang saya sebutkan, termasuk enjabemen, atau penghentian melapalkan kata/larik, untuk menarik nafas, agar selaras dan fungsi komunikasi dalam puisi yang dibacakan.!

Sebelum puisi dibacakan, adalah sudah benar bila kita membuat dulu catatan-catatan pada tiap larik, semacam membuat skenario untuk memproduksi film. 

Saya sering menuliskan tanda baca garis miring (/) atau tanda koma (,) buatan, untuk menandakan, di sana pelapalan puisi harus berhenti sejenak. 

Terkadang saya membuat tanda baca garing miring dua (//), untuk menandai bahwa perhentian pembacaan puisi butuh waktu lebih lama, atau sekitar 3 detik. 

Kadang saya memberi tanda tanya (?), bila larik yang dibaca memang bernada pertanyaan, atau saya memberikan tanda seru (!) bila larik yang dibaca memang berupa pernyataan yang amat penting! 

Tentang tanda-tanda baca tambahan itu, bisa disimak pada larik-larik yang dibacakan di bawah ini.

SAJAK BUAT NEGARAKU

KRIAPUR

Di tubuh semesta tercinta/

buku-buku negeriku tersimpan//

setiap gunung-gunung dan batunya/

padang-padang dan hutan/ semua punya suara//


semua terhampar biru di bawah langitnya/

tapi hujan selalu tertahan dalam topan/

hingga binatang-binatang liar à

mengembara dan terjaga di setiap tikungan à

kota-kota.!//

 

Di antara gebalau dan keramaian tak bertuan/

pada hari-hari sebelum catatan akhir/

musim telah merontokkan daun-daun/

semua akan menangis/

semua akan menangis/

laut akan berteriak dengan gemuruhnya/

rumput akan mencambuk dengan desaunya/

siang akan meledak dengan mataharinya!//

 

dan musim-musim dari kuburan à

akan bangkit/

semua akan bersujud/

berhenti untuk keheningan.!

 

Pada yang bernama keheningan/

semua akan berlabuh//

 

bangsaku, bangsa dari segala bangsa/

rakyatku siap dengan tombaknya/

siap dengan kapaknya/

bayi-bayi memiliki pisau di mulut/

tapi aku hanya siap dengan puisi//

 

dengan puisi bulan terguncang/

menetes darah hitam dari luka lama!


Tanda  à menunjukkan pembacaan puisi tidak boleh berhenti di ujung larik tersebut, tapi sebaiknya dilangsungkan ke larik berikutnya.

Tanda / menunjukkan pembacaan puisi harus berhenti di sana.

Tanda // menunjukkan, pembacaan puisi berhenti lebih lama, kira-kira 3 detik.

Minggu, 11 Juli 2021

INDONESIA BISA MENCIPTAKAN MESIN SENDIRI

Oleh Doddi Ahmad Fauji


Ingin saya tegaskan, bahwa saya termasuk orang yang naif, karena selalu terganggu oleh pertanyaan yang saya buat: Kapan negara-bangsa indonesia bisa membuat mesin sendiri, yang seluruh onderdilnya dibuat sendiri, dan tidak perlu mengimpor?

Pertanyaan tersebut perlu dan penting saya ajukan kepada siapapun yang merasa sebagai bangsa Indonesia, dan berpikir lalu berharap, bahwa Indonesia kelak akan menjadi negara-bangsa modern, berperadaban luhur, dapat mensejajari negara adidaya, dan pertama serta utama sekali, dapat mensejahterakan rakyatnya, sesuai dengan cita-cita proklamasi negara Indonesia, yang termaktub dalam ‘Preambule’ UUD 1945, alinea ke-4:

Kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu, dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan Rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial, bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keadilan sosial di negeri ini, jelas ditegaskan: Bagi seluruh rakyat Indonesia, maka nyata sudah, keadilan bukan milik segelintir pihak yang punya kuasa atau upaya (uang). Namun rakyat Indonesia cukup banyak yang tahu, bahwa para penguasa pengupaya (orang kaya) serta penegak keadilan di negeri ini, kerap berlaku tebang pilih, dan rakyat kebanyakan, yang menurut UUD 1945 merupakan pemilik kedaulatan negara, seringkali menjadi anak tiri atau malah musuh bagi para penguasa dan pengupaya serta penegak keadilan, sehingga pula, kita sering merasakan betapa keadilan telah dirampok oleh segelintir elite.

Untuk mencapai tujuan yang tersurat dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 itu, tentu banyak hal mesti dilakukan, dan salah satunya yang sangat penting, adalah segera berpikir untuk menciptakan mesin sendiri, yang merupakan motor penggerak berbagai peralatan serta sarana yang dibutuhkan untuk menunjang kemajuan demi kemajuan selanjutnya. Kita tahu, mesin adalah alat vital bagi penciptaan teknologi otomotif sebagai sarana transportasi. Mesin juga dibutuhkan untuk menggerakkan berbagai sektor perindustrian, dari mulai pabrik pangan, sandang, papan, pertanian dan peternakan, bahkan hingga mainan untuk anak-anak. Bila kita tidak bisa menciptakan mesin sendiri, dengan bahan baku dan onderdil sendiri, maka selamanya UANG negara ini akan selalu terkuras untuk berbelanja dalam rangka mengadakan peralatan dan sarana untuk melangsungkan kehidupan. Sebab uang dari dalam mengalir ke luar, maka DANA untuk mensejahterakan rakyat akan selalu ‘jauh panggang dari api’.

Sumber Daya Alam Indonesia memiliki bahan baku yang sangat melimpah untuk menciptakan mesin sendiri. Anak-bangsa Indonesia juga tidak bodoh-bodoh amat, sebab ada segelintir anak yang memiliki kemampuan dan keahlian sebagai insinyur teknologi mesin dan mekanik.

Saya tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak mau sok tahu, bagaimana caranya bangsa kita, bisa menciptakan mesin sendiri, atau mulai berpikir untuk merintis penciptaan mesin sendiri, meski harus menggelontorkan dana yang cukup besar.

Saya berharap pertanyaan yang diajukan di atas, dapat menginspirasi satu orang saja dari penyimak, terutama tentu dari generasi muda, sehingga mulai berpikir keras dan mencari solusi untuk menciptakan mesin sendiri, sehingga kelak Indonesia bisa membuat peralatan transportasi dari mulai motor, mobil, kereta api, pesawat terbang atau perkapalan. Sungguh sedih, jangankan bisa menciptakan pesawat dan kapal, kereta api atau mobil, bahkan untuk menjalankannya, mengendarakannya, kita masih tergolong gagap, sebab masih banyak kecelakan peralatan transportasi, dari mulai tabrakan di lalulintas, kereta api beradu, pesawat jatuh, hingga kapal selam yang habitatnya di laut, ternyata masih juga tenggelam.

Bangsa Indonesia bisa maju dan makin sejahtera, bila berhasil menciptakan mesin sendiri. Insya Allah.

Senin, 21 Juni 2021

Pantun Kilat Bernama Karmina

 Oleh Doddi Ahmad Fauji

Sebelum paparan mengenai Karmina, saya ingin menyampaikan pengantar umum dunia literasi di Nusantara, dan hal tersebut saya awali dengan mengatakan bahwa seni pertunjukan yang kemudian setelah dituliskan diberi nama sastra, bias dikatakan ada dan dimiliki oleh berbagai bangsa dan negara, dengan corak dan ragam yang berbeda-beda. Setelah manusia berinteraksi antar daerah dan benua, terjadilah akulturasi budaya (percampuran budaya). Saling mempengaruhi, meniru, mengadopsi, bahkan mencuri artefak seni pertunjukan, telah menjadi fitrah manusia sedari dulu. Nah, bangsa Indonesia yang dulu disebut Nusantara itu, juga mengalami akulturasi dengan bangsa lain, terutama dengan bangsa India yang mengajarkan bahasa Sansakerta, dengan menggunakan hurup Palawa dan Dewanagari.

 

Namun Abiyasa yang menulis Babad Mahabarata, dan Walmiki yang menulis epos Ramayana, menurut sumber yang masih disebut ‘konon’ justru orang India yang belajar mendongeng dari bangsa Nusantara, di mana Mahabarata dan Ramayana merupakan pengembangan dari kisah I La Galigo dari Bugis, yang diakui oleh badan dunia untuk kebudayaan (Unesco) sebagai karya bertutur yang konfliknya paling kompleks di dunia, melampaui komplesitas yang terdapat dalam konflik Mahabarata dan Ramayana itu sendiri, juga lebih kompleks dari naskah tragedi Oediphus yang ditulis oleh Sophocles dari Yunani.

 

Dunia mencatat, ternyata bangsa Nusantara gemar berlayar dengan menggunakan kapal bercadik buatan Bugis (Sulawesi Selatan), yang mulai dilakukan sekitar 4 abad sebelum masehi. Pelayaran itu dilakukan ke arah Barat, karena dipengaruhi oleh angin  Munson Barat dan Muson Timur. Bergerak ke arah Barat dengan menyusuri gigir pantai Asia, menembus India, bagkan hingga terdampar di Madagaskar (Afrika). Selama pelayaran itulah, para pelaut Nusantara singgah di beberapa daerah, di antaranya di India, Sewaktu singgah di daerah lain itulah, para pelayar suka mendongeng, mengisahkan asal-usul manusia yang dimulai dari Batara Guru. Dalam I La Galigo, tokoh Batara Guru amat sentral, sebagaimana dalam babad Mahabarata dan epos Ramayana, tokoh Batara Guru juga menjadi sangat sentral. Maka dari sini lahir dugaan yang diucapkan si konon itu, yaitu bahwa seniman tutur India, yakni Abiyasa dan Walmiki telah menyadur I La Galigo.

 

 

Tentang mana yang paling benar, apakah India menyadur dongeng dari Nusantara, atau justru bangsa Nusantara yang menyadur dari India, tentu butuh penelitian lebih lanjut. Namun, adalah nyata bahwa bangsa Nusantara yang kini disebut Indonesia itu, kini tercatat menjadi bangsa yang tertinggal dalam bidang pemahaman dan penguasaan literasi, terutama dalam bidang tulis-menulis (teks).

 

Sastra lama adalah warisan nenek moyang yang sudah sepantasnya mendapat perhatian. Jangan sampai hiruk-pikuk kemajuan zaman menenggelamkan warisan yang sangat berharga ini. Atas dasar inilah buku ini hadir di hadapan pembaca dengan harapan bisa mengangkat kembali khazanah sastra lama yang hampir dilupakan keberadaannya agar kembali dikenal oleh masyarakat. Buku Mengenal Sastra Lama ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama membahas tentang puisi lama yang meliputi pantun, karmina, syair, gurindam, seloka, talibun, mantra, peribahasa atau bidal (mencakup pepatah, perumpamaan, dan tamsil), serta bentuk puisi lama lainnya (rubai, kit’ah, gazal, nazam, dan masnawi). Bagian kedua membahas prosa lama yang meliputi dongeng, fabe|, legenda, mite, sage, cerita jenaka, hikayat, cerita berbingkai, cerita pelipur lara, dan epos. Selain berisi jenis, definisi, ciri, dan sejarah aneka karya sastra lama, Buku Mengenal Sastra Lama ini dilengkapi contoh sehingga layak dibaca oleh siapapun. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, pendidik, peminat sastra, maupun masyarakat umum yang tertarik dengan kajian sastra lama, buku ini adalah salah satu bacaan yang wajib Anda miliki.

Selasa, 08 Juni 2021

ARAH KARYA SASTRA - Bagian 1

Oleh Doddi Ahmad Fauji

Kenapa manusia mesti menulis, dan kenapa karya sastra mesti ditulis? Buat apa? Untuk apa?

Saya patut bersyukur, kini makin meruyak orang yang bergiat dalam menulis, termasuk menulis karya sastra, apakah itu puisi, prosa (drama jarang ditulis), pun artikel bebas alias esay. Dulu mah waktu kuliah tahun 1990 hingga 1997 (saya kuliah tepat waktu, 7 tahun), kawan yang suka menulis tidak sampai 25% dari jumlah yang ada. Sekarang di kampus, mahasiswa yang suka menulis bisa jadi lebih dari 50%. Juga masyarakat, termasuk tetangga, yang mulai menulis tampak makin meggeliat. Kemajuankah?

Saya bisa digolongkan ke dalam punggawa kelas puritan nan paedagogis, disebabkan saya kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS, IKIP Loh., dan belum menjadi UPI Bandung, maka ujung dari aktivitas menulis termasuk karya kreatif sastra, bagi saya adalah sebagai sarana pendidikan. Diksi ‘sastra’ itu kan dari bahasa Sansakerta, yang artinya media pembelajaran. Sebetulnya jika ‘ngurek’ atau ‘neger’ belut pun jadi sarana pendidikan, maka ‘ngurek’ dan ‘neger’ harus disebut sebagai sastra pertunjukan, atau pertunjukan sastra.

Dengan kata lain, sastra itu adalah piranti yang berinisial l'art pour homme (kesenian untuk kemanusiaan), dan bukan semata seni untuk masturbasi seperti sekarang kian menggejala.

Adapun makna dan tujuan pendidikan, selalu dikembalikan ke Trilogi pendidikan yang dicetuskan oleh Mas Ki Hadjar Dewantara, yang bunyinya (sudah pada tahu kan?)

Pada era Mendikbud dijabat oleh kiyai Ing Wardiman Djojonegoro, suka ada plesetan dari ‘trilogi’ menjadi ‘caturlogi’ pendidikan, yang bunyinya begini:

1. Tut wuri handayani (Jika kau berada di belakang, maka beriloh dorongan kepada yang di depan).
2. Ing madya mangun karsa (jika kau berada di tengah, maka bangunlah gagasan).
3. Ing ngarsa sung tulada (jika kau memiliki karsa, maka jadilah contoh yang baik).
4. Ing Wardiman Djojonegoro (Kalau sekolah atau jadi sastrawan, harus lulus atuh euy, kedah jujur, supaya negara kebawa jaya: Berat Jendral!).

Saya ujug-ujug teringat sastra ketika di suatu petang kian meremang, dalam rintik hujan masih mengguyur, dan harus melanjutkan perjalanan dengan samar arah tempuh. Di hadapan, tampak hutan lebat, kanan bukit, kiri jurang, di seberang jurang tampak bukit berselimut kabut, matahari sudah lingsir, senja kian temaran perlahan, dan nyali saya tiba-tiba ciut, karena akan memasuki jalan yang dipayungi rumpun bambu di kanan kiri, pohon-pohon besar, seorang diri, berkendara roda dua. Di depan tampak benar-benar poek, dan sinyal googlemap terlihat lup-lep. Saya ingat meong congkok yang galak, ular piton yang bisa membelit, maung kajajaden yang suka ujug-ujug hadir di hadapan, atau ririwa dan bagong teler, dan lain-lain. Dalam hati saya berbisik: Lanjutkan jangan, lanjutkan atau balik lagi?

Rasa kasih dan cinta telah mengusir semua ketakutan dan kecemasan. Ia menjelma sepenggal puisi, lalu puisi jadi jadi mantra untuk mengusir bala, jadi doa yang meneguhkan hati:

"Sima aing sima maung. Aing leuwih nyiliwuri batan jurig batan dedemit. Prung mamprung. Poek jadi caang, owa jeung surili jadi balad, oray nyingray bueuk unggeuk. Sakabeh sato nu galak atawa harak, taya kawani ka kami, da wungkul Pangeran nu Kersaning Kawasa. Puah!"

(Auraku arura harimau. Aku lebih halus dari mahluk halus dari memedi. Laju melajulah. Gelap jadi terang, trimatra jadi kawan, ular kabur burung hantu mengangguk setuju. Seluruh hewan yang galak dan buas, tiada keberanian di hadapanku, dan  sebab hanya Tuhan yang Maha Kuasa).

Lalu kulalui jalan itu, dan benar saja, tak ada apa-apa. Membayangkan sesuatu yang menakutkan, seringkali lebih mengerikan dari kenyataan. Rasa takut lebih menakutkan dari apapun yang benar-benar bisa membuat kita takut. Dan, aku pun sampai di tujuan.

Di tujuan itulah kudapati kabar, gempa kecil kembali mengguncang Kab. Sukabumi dan Kab. Cianjur. Sejak 2016, menurut salah satu situs yang memiliki otoritas perkara gempa, telah 11 kali Kabupaten Sukabumi ditimpa gempa. Hal ini mengingatkanku pada Gunung Krakatau di lepas laut, yang beberapa kali kentut sebelum akhirnya bener-benar berak, dengan bau belerang yang bisa membunuh, dan tsunami yang menelan sekian korban. Dalam sebuah film tentang Krakatau, yang melibatkan pemain dari Belanda, batuk-batuk itu sebenarnya peringatan, tapi manusia tidak peka, tidak segera mengungsi, dan ketika ledakan benar-benar terjadi, maka musnahlah sekian nyawa dicerna buana, dimamah segala yang bertuah.

Lini yang berkali-kali menari di Sukabumi itu, mestinya jadi peringatan bagi saya, dan mestinya para sastrawan segera menulis prosa atau puisi, esai atau apapun, yang bermuara pada pendidikan tentang kewaspadaan dan penyelamatan diri, ya semacam peringatan dini serta migitasi bencana.

Sastra tidak cukup hanya sarana untuk masturbasi, macam keributan dan meributkan kebesaran NAMA serta pemuatan di media massa. Sastra, mau tak mau, mengingatkan kepada guru saya, kiyai begawan Wahyu Sulaiman Rendra, yang berujar:

Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.


Orang memang bebas menulis apapun, mau tentang ngaloco atau masturbasi, mau tentang renda-renda pakaian atau gincu-gincu kehidupan, mau tentang kegalauan atau kepicakan mata batin, mau curhat atau mengungkapkan dendam kesumat, mau apapun adalah bebas. Namun, tulisan akan lebih bermakna dan jadi SASTRA bila bermuara pada l'arte pour home (kesenian untuk kemanusiaan), yang bermanfaat untuk penyadaran, kewarasan, dan pemberdayaan kehidupan kini juga generasi yang akan datang.

Sastra yang hanya sarana onani, bahkan terasa memunggungi pernyataan filsuf Renne Descartes yang bersabda: Cogito er go sum (aku berpikir, maka aku ada).

Para penulis memunggungi pernyataan Descartes itu, dan memelesetkannya menjadi: Aku berbelanja maka aku ada, atau aku narsis maka aku eksis.

Ya, saya mesti menulis puisi atau esai, agar menjadi puisi atau mantra, doa atau singlar, agar saya tidak takut, dan selalu waspada, sekalipun saya berkelana sore itu, sebenarnya masih di kawasan Bandung, jadi kenapa mesti takut oleh hutan di Bandung, bukankah sudah tidak ada Maung Bandung? Maung sih ada, di depan kantor koramil berupa patung, atau dalam yel yel viking.


Bandung adalah tatar yang dilingkung oleh gunung, dan diramalkan akan ‘heurin ku tangtung’ (padat oleh kerumunan berdiri). Tapi, memang sih, sore itu aku berkelana bukan di Kota Bandung, tapi di Kabupaten Bandung Barat yang masih memiliki hutan, serta dihiasi oleh gunung-gunung kecil yang kadang terasa lucu sudah sejak dari nama-namanya: Gunung Bohong, Gunung Batur, Gunung Kembar, Gunung-gunungan, dll.

Bandung 150 ribu tahun silam, adalah berupa undakan tanah besar yang diberi nama Gunung Jayagiri. Ia meledak begitu dahsyat, menyebabkan es mencair di kutub selatan, dan efekdomino-nya membuat volume laut bertambah, sehingga dataran rendah seperti di kawasan Sunda dan Sahul, jadi terendam dan sekarang menjadi laut Jawa di barat, yang memisahkan Pulau Sumatra, Melayu, Kalimantan Jawa, serta perairan Arafuru di timur, yang memisahkan Pulau Papua dan Benua Australia.

Ini yang juga perlu kita renungkan, ternyata Sulawesi, Maluku, serta beberapa Pulau di Sunda Kecil (Bali, NTB, NTT) sedari dulu sudah berpisah, atau dipisahkan oleh laut. Perpindahan air laut dari dan ke Samudra Pasifik – Samudra Hindia, itu terjadi melalui laut yang memisahkan Sulawesi dari paparan Sunda dan Paparan Sahul. Jadi, laut Sulawesi, Maluku, Sunda Kecil dari dulu sudah ada, dan semakin dalam setelah volume air laut meningkat. Ke dalaman laut Jawa diperkirakan antara 40 – 80 meter. Sedangkan ke dalaman laut di sekitar Sulawesi dan Sunda kecil, bisa mencapai 850 meter. Kapal Selam Naggala 402 tenggelam di laut yang dalam itu, karena sangat mungkin mesinnya tak mampu melawan arus perpindahan air laut dari dan ke Hindia – Pasifik.

Dulu, sungai dari dataran tinggi yang sekarang disebut Pulau Jawa, mengalir ke laut yang mengepung Pulau Sulawesi. Sungai itu mengalir ke arah utara, lalu berbelok ke Timur. Di dataran arah utara, sungai itu bercabang-cabang, banyak jumlahnya, serupa kali, yang kini kawasan di utara itu disebut mantan kali atau Kalimantan.

Itulah Bandung, kawasan sisa Gunung Jayagiri. Eh ternyata, ledakan gunung itu melahirkan anak yang terus membesar, dan seiring dengan laju waktu, anak itu kian membesar, sehingga kembali menjadi undakan yang diberi nama Gunung Sunda atau Gunung Purba. Sekira 51 ribu tahun silam, gunung Sunda/Purba itu meledak lagi, dan makin membuat dataran Jawa yang telah terendam air, dan telah menjadi pulau, ukurannya bertambah lebar.

Dulu, laut Selatan untuk daerah Bandung itu misalnya, ada di kawasan yang sekarang disebut dengan perbukitan Pangalengan, Ciwidey, Gununghalu, dll., namun karena pantai laut selatan itu ter-uruk oleh tanah ledakan gunung Sunda/Purba, menyebabkan pantey terkubur dan menjauh dari ordinat kawasan Bandung, atau seperti yang sekarang kita lihat sebagey pantey selatan Bandung itu berada di kawasan Jayanti, Cidaun, Sindangbarang, Agrabinta.

Ini yang patut kita renungkan, Ledakan Gunung Jayagiri pada 150-an ribu tahun silam, menyebabkan lempengan bumi jadi retak, dan tanah yang berada di atas lempengan pun ikut terbelah. Seiring dengan waktu, belahan tanah itu rapat lagi, tapi jejaknya masih tertinggal hingga sekarang. Nah, jejak belahan itulah kira-kira apa yang disebut dengan Patahan.

Terdapat beberapa patahan di kawasan yang mengelilingi Bandung, dan yang paling terkenal diberi nama Patahan Lembang, yang membentang dari kaki gunung Tangkubanparahu hingga ke Pantey Selatan Jawa Barat yang berada di kawasan Jampang, Sukabumi, serta membentang ke arah Pantey Utara yang berada di kawasan Eretan, Subang. Bila Patahan Lembang yang sedang tidur itu tiba-tiba 'nguliksik' karena secara alamiah ingin berganti posisi tidur, maka gerakannya akan terasa sebagey gempa.

Aku benar-benar hawatir, pada suatu hari Patahan Lembang itu ngigow, lalu mencaci maki orang-orang yang busuk dan kemaruk, maka bencana dan musibah tak tertanggungkan akan terjadi, seperti ketika Krakatow bukan lagi kentut, namun berak dan marah.

Maka puisi, prosa, esay, atau apapun yang bisa disebut sastra, yaitu media pembelajaran, harus memiliki keberpihakan pada dunia pedagogik dan edukatif, atow apa yang disebut dengan falsafah tetralogi pendidikan butir ‘plesetan’: Ing Wardiman Djojonegoro (sastra mesti membuat negara ikut jaya).

Sisa ledakan Gunung Sunda, kemudian menjadi kaldera besar, dan lambat laun menjadi danow besar karena airnya mendingin. Kawah di danow itu tidak aktif lagi. Magma yang masih mau keluar dari bekas Gunung Sunda, beralih ke celah yang lebih kecil, dan membentuk gunung baru di kawasan setengah Utara. Gunung baru yang kecil itulah, yang kini disebut dengan Tangkubanparahu.

Sekira 3500 tahun yang silam, kaldera besar yang kemudian menjadi danow raksasa itu, mengalami kebocoran melalui sebuah celah, sehingga airnya perlahan mengalir menuju laut di sebelah utara. Tanah di sekitar aliran air danau itu lambat laun mengeras, dan itulah yang kemudian disebut dengan sungey Citarum.

Kaldera yang sudah mengering kemudian tampak jejaknya, mengerucut ke arah bawah secara landey, hingga bila dilihat dari atas, akan tampak seperti wajan, yang kadang wajan itu disebut dengan cekungan. Setelah danow purba benar-benar mengering, wajan besar itu kemudian dihuni oleh manusia yang sekarang disebut Urang Sunda. Dulu mah, urang Sunda itu disebut urang Ukur, karena Bandung yang sekarang, pernah diberi nama Tatar Ukur, dengan pemimpinnya yang kesohor bernama Dipati Ukur. (Bersambung).

Senin, 31 Mei 2021

TERSESAT DI KOTA PERT - Bagian 2

Oleh Doddi Ahmad Fauji

Kira-kira 20 menit sebelum mendarat, lambung pesawat disemprot dengan ‘disinfektan spray’, untuk membunuh kemungkinan terbawanya virus atau bakteri dari Jakarta oleh para penumpang. Penyemprotan disinfektan ini merupakan peraturan pemerintah Australia yang dijalankan dengan ketat dan disiplin.

Terutama untuk pesawat yang datang dari Indonesia, menurut kawan saya yang kelak menerima kedatangan saya di Perth, yaitu Mas Bambang Purwoko, pemerintah Australia tampak seperti sentimen, dan memandang bangsa kita itu penyatakitan. Sementara pesawat dari luar negeri yang akan masuk ke Bandara Soekarno Hatta, tak pernah disemprot dengan cairan apapun.

Singkat cerita, Garuda mendarat di Bandara Udara Internasional Perth, yang dalam website-nya memiliki beberapa sebutan: IATA: PER, ICAO: YPPH). Semua penumpang dari luar negeri, di bandara udara negara manapun, harus masuk ke antrian pemeriksaan visa dan passport, demikian pun kami.

Namun sial, English conversation aku dan Yoyo bisa dikatakan sangat buruk, sehingga ketika diwawancara di desk pemeriksaan passport, aku dan Yoyo tak mengerti pertanyaan mereka, dan tak bisa menjawab. Sungguh malu keudikan kami kala itu. Sekarang sih insya Allah, rada bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris untuk kelas beginner dan dengan jurus nekat. Akhirnya kami diarahkan untuk memasuki ruangan khusus, guna pemeriksaan passport dan administrasi.

Seseorang mengantarkan kami ke ruangan wawancara itu. Tak lama berselang, masuk ke ruangan itu seorang petugas bandara berseragam putih hitam ke atas dan bawahannya, seperti seragam yang digunakan pilot. Kami ditanya ini dan itu dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.

Inti dari sederet pertanyaan itu adalah, apa tujuan ke Australia? Apa di Australia ada saudara atau teman? Membawa apa saja kami. Dan, ini yang paling menyesakkan, membawa uang berapa dolar?
Aku menunjukkan uang 100 USD, dan beberapa lembar puluhan dolar USD. Kami berdua, tidak datang untuk berdagang dan juga mencari kerja. Kami hanya ikut mampir di Perth, selanjutnya akan bertolak dengan kereta api ke Canbera, dan selanjutnya menuju kota Wolongong, untuk ikut Festival Teater Kampus di Wolongong University. Kutunjukkan surat undangan festival dari panitia, juga surat rekomendasi dari pimpinan kampus kami, IKIP Bandung (Sekarang UPI), tentang kepesertaan kami.
Kami terpahami bukan gembel, bukan pencari kerja, dan bukan untuk hura-hura. Lega, wawancara lulus. Kami tidak akan dideportasi.

Lalu kami disuruh masuk ke ruangan lain. Nah ini benar-benar mengagetkan dan di luar dugaan. Muncul seekor anjing yang besar bersama pawangnya, tentu dikasih ikatan rante. Saking besarnya anjing itu, saat ia tengadah, kepalanya hampir menyentuh kepalaku. Semula kupikir ia anak kuda. Aku ketakutan dan cemas.
“Ini apa?”

Anjing itu membaui kami, lalu menggongong tak henti, dan petugas segera memeriksa jaketku. Astagfirullah. Petugas mengeluarkan saset obat kusimpan di jaketku.

“Itu antimo. Obat untuk yang tidak bisa tidur,” jawabku, kepada petugas yang tadi mewawanacarai kami.

Aku terserang insomnia, mungkin karena terlalu banyak keinginan, dan terus bergentayangan di kepala. Betapa sulit untuk tidur. Nah, salah satu manfaat antimo, selain sebagai obat mabok, juga bisa jadi obat tidur bila ditenggak langsung dua tablet. Karena sulit tidur saat menghadapi persiapan ikut Festival Teater Kampus itu, aku sering menenggak antimo, hingga kebawa ke Australia.

Obat itu diambil, lalu anjing membaui kami lagi. Kali ini tidak menggogong, malah anjing itu berlalu dengan tetap lehernya dirante. Sang pawang mengikutinya.

Setelah lolos dari pemeriksaan anjing, kami pun dipersilahkan keluar dari front desc imigrasi. Ransel dan kardus yang kami bawa, sudah ada di pinggir, diambilkan oleh petugas, di antrian untuk membawa barang bagasi. Petugas memeriksa tiket kami, dan ia bilang “Ok,”, yang artinya kami boleh membawa ransel dan kardus yang isinya booklet pertunjukan teater yang akan dibagikan kepada penonton, dalam festival teater di Wolongong University itu.

Ruangan di tempat mengambil barang bagasi sudah sepi, karena memang kamilah penumpang yang terakhir berada di ruangan itu, dan hanya ada satu petugas di sana. Kami telat sampai ke sana, jelas karena harus menjalani peristiwa wawancara semi introgasi itu. Moral dari lamanya proses izin keluar itu, mendatangkan motivasi untukku belajar bahasa Inggris percakapan.

Dalam pendidikan di Indonesia, setelah sekarang saya renungkan, ada yang keliru. Siswa belajar langsung tulis baca, yang merupakan keterampilan ketiga dan keempat, setelah pelajaran menyimak dan berbicara. Ini sebenarnya ganjil, sebab saat manusia berkomunikasi, cenderung lebih banyak menggunakan bahasa lisan, dan bukan bahasa tulisan.

Semestinya pelajaran bahasa asing, temasuk Arab dan Inggris, itu dimulai dari pelajaran menyimak atau mendengarkan, kalau bisa, mendengarkan kosakata langsung dari native speaker. Setelah mendengar dengan baik, barulah kita belajar bicara. Pelajaran tulis baca bahasa asing bukan tidak penting, tapi nanti saja kalau sudah bisa ngomong bahasa asing dengan benar. Tapi kita bisa memahaminya, kampus-kampus tak akan mau mengeluarkan dana untuk mendatangkan native speaker.

Para dosen bahasa Inggris pun, sebenarnya belum tentu bisa bicara bahasa Inggris dengan fasih. Mereka hanya paham grammer. Beruntunglah sekarang ini kita memasuki era transparansi informasi, dan era sosmed yang melintas batas. Pelajaran listening bisa dilakukan lewat youtube.

Jika Anda ingin belajar bahasa asing, misalnya bahasa Arab, menurut saya, daripada menghabiskan dana, waktu, dan tenaga, mendingan menjadi TKI ke Arab, setelah tiga tahun bekerja di sana, Anda akan bisa bahasa Arab percakapan. (Bersambung).

Sumber Foto: Suara.com




Jumat, 28 Mei 2021

TERSESAT DI KOTA PERTH - Bagian 1


Oleh Doddi Ahmad Fauji


(Bukan catatan seorang 'backpacker)

Menuliskan ‘sesuatu’ yang telah lama berlalu, bagi saya, ini menjadi sarana untuk mengasah ingatan. Beruntunglah niat untuk menuliskan yang sudah lewat itu, kini terdukung oleh adanya mesin telusur informasi di internet lewat Paman Goo, untuk mengakuratkan data. Kota Perth misalnya, seberapa luaskah Ibu Kota Australia Barat yang pernah kumasuki itu?


Mengasah ingatan amat penting, Kawan. Memasuki usia setengah Abad, adalah memasuki usia kemunduran kinerja tubuh, termasuk otak. Nah, bila tidak diasah itu ingatan, bisa saja banyak pengalaman dan pengetahuan, bacaan serta hapalan, perlahan menguap karena kinerja otak menuju ke arah berkurang. Eh maaf, bukan maksud untuk berteori atau hendak menakut-nakuti. Tapi ini penting untuk disadari selalu, seseorang disebut pintar atau apalagi cerdas, salah satunya dipicu oleh daya ingat.


Tahukah Anda, warga Eskimo mendiami kutub sebelah mana? Jika Anda meraba-raba untuk menjawabnya, bisa jadi ingatan Anda tentang pelajaran geografi yang pernah dipelajari pada masa SMA, kini telah menguap. Namun bila dengan tegas menjawab orang Eskimo mendiami Kutub Utara dengan haqul yakin, berarti daya ingat kita tidak seluruhnya menguap.


Nah, ada kejadian atau peristiwa di masa lalu, ada pelajaran atau hapalan di masa lalu, yang masih cukup penting untuk selalu kita ingat, sekalipun teknologi berkembang pesat, dan meskipun pola peradaban menyuguhkan banyak varian yang juga harus diingat. Karena ternyata, masa lalu tidak seluruhnya usang, tidak semuanya terkubur. Ada di antaranya yang merupakan jejak sejarah, dan sejarah harus dituliskan, untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan generasi ke depan, untuk fondasi dari bangunan peradaban yang akan datang. Eropa maju, salah satunya karena mereka selalu becermin pada sejarah. Juga China kini melesat, sebab mereka mendokumentasikan kearifan lokal leluhurnya dalam mengatasi masalah kehidupan.


Catatan penting, sebelum melanjutkan kisah kisah sesungguhnya yang ingin saya ceritakan, adalah bahwa seseorang menjadi cerdas atau pintar, adalah karena tiga faktor ini: 1) daya ingat yang kuat, 2) Kemampuan analisis yang tajam, dan 3) mempelajari teori dan trik-trik teknikal untuk memecahkan sekian masalah.


Nomor tiga terkesan teoretis, namun ingin saya jelaskan seperti ini. Dari kecil, saya diajarkan untuk menyebutkan angka secara berurut dengan cepat dan tepat. Lafalkan dengan suara lantang angka dari 1 sampai 100 secepatnya dan harus tepat, lalu setelah itu, lafalkan angka secara urutan kebalikannya, dari 100 sampai 1, dengan cepat dan harus tepat. Lafalkan juga perkalian dari 1X 1 hingga 9 X 9, dan lalu lafalkan juga pembagian dari 1 : 1, hingga 99 : 9, serta lafalkan kebalikannya. Ya, ini trik untuk mengingat hitungan matematis.


Kembali ke lajur utama, saya coba mengingat tanggal persis atau hari apa pertama kali saya berkunjung ke luar negeri, tepatnya ke kota Perth, Australia Barat. Sungguh saya lupa, tapi saya ingat itu terjadi di Bulan September tahun 1995, bersama teman karib saya, Yoyo Yogasmana. Mungkin suatu hari akan ketemu data yang tepat, untuk menentukan tanggal berapa dan hari apa keberangkatan itu. Tapi yang jelas, dari Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, pesawat Garuda yang kami tumpangi, berangkat hampir Magrib, dan pesawat itu menempuh perjalanan sekira 4 jam. Waktu Kota Perth lebih cepat satu jam dari Jakarta. Sampai di Perth, sekira pukul 22.00 waktu setempat, atau pukul 21.00 di Jakarta. Di dalam pesawat, ada pengumuman penumpang tidak boleh merokok, tapi kami diperbolehkan minta anggur. Kami dijamu makanan kemas khusus pesawat, dan saya selalu berusaha menikmatinya.


Ini kali kedua saya naik pesawat terbang. Kali pertama terjadi tahun 1993, dari Surabaya ke Banjarmasin, juga dengan Garuda Airline, untuk mengikuti Seminar Sastra Indonesia di Universitas Lambung Mangkurat. Bisa naik pesawat tebang, maskapai Garuda pula, kala itu, terasa seperti raja, karena kita diperlakukan secara istimewa, misalnya saat kami terlambat harus naik pesawat, itu dijemput dengan bus di dalam bandara, padahal saya berdua bersama Kang Erwna Juhara yang terlambat. Keterlambatan ini terjadi karena mis-informasi, dan karena ini pengalaman pertama kami naik pesawat pada 1993 itu.


Sebetulnya ada rasa minder untuk mengisahkan pengalaman ini, bila saya membandingkannya dengan pencapaian dan prestasi orang-oang keren. Namun saya sadar, tidak semua orang bisa seperti yang mendapatkan pengalaman yang pernah saya telusuri. Pengalaman adalah kekayaan ketujuh manusia, setelah nyawa, kesehatan, harapan, semangat, kekeluargaan, dan pertemanan. (Bersambung)

Sumber foto: https://blog.yuktravel.com/